Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Dekan Fakultas Teknik Untirta dan Dekan FTTP Unhan RI. (Foto: Ist)
CILEGON, NP — Fakultas Teknik dan Teknologi Pertahanan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (FTTP Unhan RI) memperkuat kolaborasi strategis dengan Fakultas Teknik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan penyusunan Roadmap Penelitian Kolaboratif 2026–2030.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem riset terapan yang mampu mendukung kemandirian teknologi nasional, khususnya di bidang teknologi pertahanan, material maju, manufaktur, energi, sensor, keamanan siber, penginderaan, infrastruktur resilien, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia teknik.
PKS ditandatangani Dekan FTTP Unhan RI Prof. Dr. Henry Setiyanto, S.Si., M.T., bersama Dekan Fakultas Teknik Untirta Prof. Dr. Ir. Jayanudin, S.T., M.Eng., IPM. Kesepakatan ini menjadi payung strategis bagi pengembangan riset bersama, publikasi ilmiah, pemanfaatan laboratorium, penguatan kapasitas dosen dan mahasiswa, hingga hilirisasi hasil penelitian.
Dekan FTTP Unhan RI Prof. Henry Setiyanto menegaskan bahwa kolaborasi tersebut bukan sekadar agenda administratif antarperguruan tinggi, melainkan bagian dari langkah strategis membangun kemandirian teknologi pertahanan Indonesia.
“FTTP Unhan RI memandang kerja sama ini sebagai langkah penting untuk mempertemukan mandat pertahanan dengan kekuatan rekayasa, riset, dan industri. Kolaborasi dengan Fakultas Teknik Untirta diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi berkembang menjadi riset bersama, prototipe, publikasi, dan kontribusi nyata bagi kemandirian teknologi nasional,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (20/5/2026).
Menurut Prof. Henry, FTTP Unhan RI memiliki mandat mencetak sumber daya manusia teknologi pertahanan yang tidak hanya menguasai aspek rekayasa, tetapi juga memahami sistem, industri, operasi, dan kepentingan pertahanan nasional.
“Dalam konteks teknologi pertahanan, riset harus mampu menjawab kebutuhan nyata. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat perlu diarahkan menjadi gerakan kolektif untuk memperkuat ketahanan teknologi bangsa,” katanya.
Dekan Fakultas Teknik Untirta Prof. Jayanudin menyambut positif kolaborasi tersebut. Ia menilai sinergi dengan FTTP Unhan RI membuka ruang penguatan riset terapan yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga berdampak bagi kebutuhan industri, masyarakat, dan pertahanan negara.
“Fakultas Teknik Untirta memiliki kedekatan dengan ekosistem industri Banten dan Cilegon. Melalui kerja sama ini, kami berharap kompetensi teknik, laboratorium, dan jejaring industri yang dimiliki dapat disinergikan dengan mandat strategis FTTP Unhan RI, sehingga lahir riset yang aplikatif, produktif, dan bermanfaat bagi penguatan kemandirian teknologi nasional,” ungkapnya.

Selain PKS tingkat fakultas, agenda kerja sama juga mencakup penandatanganan PKS antara Program Studi Teknologi Persenjataan FTTP Unhan RI dan Program Studi Teknik Metalurgi Fakultas Teknik Untirta.
Kerja sama tingkat program studi tersebut dinilai strategis karena mempertemukan kebutuhan riset teknologi persenjataan dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dengan kompetensi teknik metalurgi, material maju, rekayasa material, serta potensi hilirisasi berbasis kawasan industri.
Melalui sinergi tersebut, kedua program studi dapat mengembangkan riset bersama pada bidang material pendukung alutsista, komposit maju, material penyerap radar, rare earth, teknologi manufaktur pertahanan, evaluasi kualitas material, pengujian karakteristik material, hingga analisis rantai pasok industri strategis.
Prof. Henry menambahkan bahwa penguatan bidang material menjadi salah satu kebutuhan penting dalam membangun kemandirian pertahanan nasional.
“Penguasaan material maju, metalurgi, dan manufaktur strategis merupakan bagian penting dari kemandirian teknologi pertahanan. Tanpa penguasaan material, kita akan selalu berada pada posisi pengguna teknologi. Karena itu, kerja sama antara Teknologi Persenjataan FTTP Unhan RI dan Teknik Metalurgi Untirta menjadi salah satu simpul penting dalam roadmap ini,” jelasnya.
Sementara itu, Prof. Jayanudin menilai sinergi antara Teknik Metalurgi Untirta dan Teknologi Persenjataan FTTP Unhan RI dapat menjadi ruang konkret untuk mempertemukan kekuatan akademik, fasilitas laboratorium, dan kebutuhan teknologi strategis.
“Teknik metalurgi memiliki peran penting dalam pengembangan material, manufaktur, dan penguatan industri. Ketika bidang ini disinergikan dengan teknologi persenjataan, maka peluang riset bersama menjadi sangat luas, mulai dari karakterisasi material, rekayasa material, pengujian, hingga pengembangan solusi teknologi yang relevan dengan kebutuhan nasional,” ujarnya.
Roadmap kolaboratif FTTP Unhan RI dan Fakultas Teknik Untirta disusun dengan pendekatan satu peta banyak klaster. Riset diposisikan sebagai ekosistem terintegrasi yang menghubungkan kelompok keahlian, pusat riset unggulan, pusat studi, laboratorium, dosen, mahasiswa, dan mitra industri.

Luaran yang ditargetkan meliputi skripsi, tesis, publikasi ilmiah, hak kekayaan intelektual, prototipe, dataset, paten sederhana, policy brief, serta kerja sama hilirisasi.
Empat klaster utama yang menjadi fokus kolaborasi meliputi Pertahanan Siber dan Ketahanan Digital; Sensor, Penginderaan, dan Kecerdasan Keputusan; Material Maju, Manufaktur, dan Industri; serta Energi, Air, dan Infrastruktur Resilien.
Pada klaster Pertahanan Siber dan Ketahanan Digital, kolaborasi diarahkan pada integrasi data, infrastruktur digital, keamanan siber, cyber sovereignty, zero trust, AI security, dan perlindungan infrastruktur kritis.
Klaster Sensor, Penginderaan, dan Kecerdasan Keputusan mencakup pengembangan sensor, Internet of Things, radar, citra, data fusion, model kecerdasan buatan, serta sistem pendukung keputusan.
Sementara itu, klaster Material Maju, Manufaktur, dan Industri menjadi ruang strategis bagi kerja sama Prodi Teknologi Persenjataan dan Teknik Metalurgi. Fokusnya meliputi rare earth, material penyerap radar, komposit maju, material pendukung alutsista, mobile manufacturing, digital twin produksi, quality control, dan security engineering untuk proses industri.
Adapun klaster Energi, Air, dan Infrastruktur Resilien mencakup microgrid, pemanenan air hujan, ketahanan pangan komunitas, konstruksi militer, infrastruktur tahan bencana, serta teknologi pendukung ketangguhan wilayah.
Prof. Jayanudin menilai pendekatan klaster dalam roadmap tersebut membuka ruang kerja sama yang lebih konkret dan terukur.
“Kami melihat roadmap ini sangat penting karena memberikan arah yang jelas. Kolaborasi tidak hanya berbicara tentang pertukaran akademik, tetapi juga pemetaan riset, pemanfaatan fasilitas, pengembangan prototipe, publikasi bersama, dan peluang hilirisasi. Inilah bentuk kerja sama perguruan tinggi yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan teknologi masa depan,” katanya.
Melalui roadmap 2026–2030, kedua fakultas menyiapkan sejumlah mekanisme operasional, antara lain research matching, joint research package, shared facility, co-supervision, magang riset, kuliah pakar, bootcamp, publikasi bersama, pengajuan HKI, penyusunan standar teknis, dan policy brief.
Roadmap lima tahun tersebut dimulai pada 2026 sebagai tahap fondasi melalui pemetaan dosen, laboratorium, topik riset prioritas, dan quick wins. Tahun 2027 diarahkan sebagai tahap pilot, 2028 tahap scale up, 2029 tahap hilirisasi, dan 2030 tahap pembentukan center of excellence.
Sinergi Cilegon dan Sentul menjadi simbol penting dalam kolaborasi ini. Cilegon merepresentasikan kekuatan industri, material, manufaktur, energi, dan teknologi terapan, sedangkan Sentul merepresentasikan Kampus Bela Negara, riset pertahanan, penguatan akademik, dan kebutuhan strategis nasional.
Melalui kerja sama ini, FTTP Unhan RI dan Fakultas Teknik Untirta menargetkan lahirnya ekosistem riset terapan yang mampu memperkuat industri strategis, mencetak talenta teknologi, memperluas publikasi ilmiah, serta mendukung kemandirian teknologi dan pertahanan nasional. (red)







Be First to Comment