Press "Enter" to skip to content

Psikiater Mintarsih Ungkap Kejanggalan Kasus Tewasnya Diplomat Kemlu

Social Media Share

Psikiater dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr. Mintarsih A. Latief Sp.KJ bersama Anggota DPR RI saat menjadi narasumber dalam sebuah diskusi yang digelar di Gedung Nuaantara I DPR RI, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta. (Foto: dokumentasi KWP)

JAKARTA, NP- Psikiater dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr. Mintarsih A. Latief Sp.KJ menanggapi diantara berbagai pertanyaan publik mengenal kejanggalan tewasnya diplomat muda Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan.

“Menjadi hal yang wajar berbagai pertanyaan masyarakat, karena kondisi korban Arya Daru itu ditemukan meninggal dengan wajah kepala dilakban seperti itu,” ucap Mintarsih kepada wartawan di Jakarta, Selasa (29/7/2025).

Menurut dokter ahli jiwa itu apabila memang hasil penyelidikan kepolisian menerangkan telah terjadi pembunuhan, maka tentunya pelaku adalah seorang profesional.

“Sebab ini juga akan memasuki satu bulan lamanya penyelidikan (polisi), ya.. dilihat nampak sulit ya, apa pelaku masuk melalui plafon atau bagaimana? Sementara akses (pintu) tidak rusak,” ungkap Mintarsih.

Mengenai beredarnya informasi dugaan pembunuhan berencana, menurut Mintarsih hal itu juga perlu didalami, mengingat pekerjaan sebagai diplomat juga merupakan pekerjaan yang tidak mudah, ada tantangan atau hal lain yang membahayakan jiwa.

“Sehingga kepolisian perlu untuk mendalami, bukankah banyak juga pekerjaan atau suatu kasus dimana polisi terbantu oleh informasi dari masyarakat,” pungkas Mintarsih.

Sementara itu Anggota Komisi I DPR RI Junico Siahaan mengatakan menjadi hal janggal jika disebut bunuh diri. “Tentu ada penolakan (dari diri Arya) ada respon. Tapi kita tidak berspekulasi ya, kita tunggu hasil penyelidikan polisi,” ujar Nico.

Legislator dari Fraksi PDI Perjuangan itu mendorong kerja sama lintas lembaga kepolisian, forensik, otoritas lokal, hingga Kemlu RI dilakukan secara solid, transparan, dan akuntabel, serta tak ada fakta yang ditutupi dari publik, terus diperjuangkan.

“Bukan hanya keadilan bagi almarhum Arya Daru, tetapi juga rasa aman dan kepercayaan publik yang tidak boleh luntur. Negara harus hadir bukan hanya setelah kejadian, tapi juga membangun sistem yang mencegah kejadian serupa terulang,” harapnya.

Ia juga menekankan rasa aman adalah hak setiap warga, termasuk bagi mereka yang mengabdi sebagai bagian dari sistem diplomasi negara. Pentingnya penguatan sistem deteksi dini dan pengamanan ruang-ruang hunian urban, mengingat kasus Arya terjadi di hunian tertutup dengan akses terbatas.

“Kita tak bisa terus menunggu tragedi demi tragedi untuk memperbaiki sistem. Pola pengamanan dan pengawasan di ruang tinggal terutama yang dihuni oleh aparatur sipil dan pejabat publik perlu diperhatikan lebih. “Tidak semua harus diawasi ketat, tapi negara tetap wajib memastikan bahwa ruang hidup warga tidak menjadi ruang rawan,” ulasnya.

Selain itu, lanjut dia, Arya Daru diketahui berjuang dalam advokasi pemberantasan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) adalah sesuatu hal yang harus dilanjutkan, dimana komitmen Arya pada isu-isu kemanusiaan seperti TPPO adalah bentuk keberpihakan nyata terhadap nilai-nilai keadilan.

“Almarhum bukan hanya diplomat. Ia adalah pejuang kemanusiaan. Di balik tugas formalnya, Arya sebagai diplomat muda membawa empati dan keberanian untuk membela mereka yang rentan,” pungkas Nico.

Sebelumnya juga beredar informasi dari akun Instagram @nationalsecurity.id
yang mengunggah dokumen yang diklaim sebagai hasil autopsi jasad Arya Daru. Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa kematian Arya bukanlah bunuh diri, melainkan pembunuhan terencana.

Dalam surat yang ditampilkan, disebutkan secara gamblang bahwa NSA RI menyimpulkan adanya keterlibatan aktor non-negara dan kemungkinan infiltrasi di dalam struktur diplomatik internasional.

Kemudian dari dugaan tersebut menguatkan asumsi bahwa Arya Daru tewas akibat sesuatu yang lebih kompleks dari sekadar tindakan nekat, dan beberapa temuan penting dalam laporan viral tersebut antara lain, jenazah dibungkus plastik dan direkatkan dengan lakban kuning, yang menurut laporan merupakan teknik penghilangan jejak.

Tidak ditemukan racun atau tanda-tanda khas bunuh diri pada tubuh Arya. Terdapat tanda aneh pada bagian perut kiri bawah yang menyerupai kode atau simbol yang belum bisa diidentifikasi.

Kondisi kunci pintu kamar tidak rusak, menandakan kemungkinan pelaku memiliki akses langsung atau Arya telah dilumpuhkan terlebih dahulu.

Terdapat memar di wajah dan lengan (ditegaskan oleh pemandi jenazah) dan ada pembengkakan pembuluh darah di otak.

Kasus kematian diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Arya Daru Pangayunan hingga kini masih menjadi sorotan publik, hingga mancanegara. Arya ditemukan sudah tak bernyawa di kamar kosnya di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat pada Selasa 8 Juli 2025 pagi.(har)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *