Press "Enter" to skip to content

Demokrat Bali Targetkan 1 Kursi DPR RI yang Berkualitas Tebal

Social Media Share

JAKARTA, NP- Partai Demokrat Bali tidak memasang target terlalu muluk untuk meraih kursi DPR RI di Pemilu 2024 mendatang.

Anggota DPR dari Bali, Putu Supadma Rudana mengungkap di Pemilu 2024 partainya tidak terlalu berambisi mengembalikan posisi Demokrat Bali memiliki 2 kursi DPR RI seperti dulu.

“Jadi kursi yang meningkat, bukan 2 kursi. Tapi yang tadinya nomor urut kedelapan, bisa naik menjadi diurut keempat atau kelima. Jadi lebih penguatan disitu. Target muluknya 2 kursi. Target rilnya dari saya yang mengerti pertarungan, mungkin 1 tapi lebih tebal. Bukan 1 yang tipis,” ungkap Putu Supadma Rudana di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (21/7/2023).

Penegasan disampaikan Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR tersebut, usai diskusi bertema “Parlemen yang Responsif untuk Stabilitas dan Kesejahteraan ASEAN” dalam rangka persiapan Sidang Umum ke-44th ASEAN Inter-parlementary Assembly (AIPA) Tahun 2023 di Jakarta pada 5 -12 Agustus 2023.

Supadma memastikan akan kembali maju mencalonkan diri sebagai caleg Partai Demokrat untuk daerah (dapil). Aspirasi masyarakat Bali masih menginginkan ia maju kembali karena melihat kontribusi dan kinerjanya. Itu karena masyarakat Bali mengingingkan wakil rakyat yang tidak hanya bicara tapi mampu berbuat nyata. “Kalau di Bali disebut Sampun Bukti,” ujarnya.

Selain itu, tekadnya kembali mencalonkan diri karena dari peta politik saat ini, di Bali secara proporsional PDI Perjuangan memiliki target perolehan sekitar 7 kursi, Golkar punya target perolehan 3 kursi, juga Partai Gerindra dan Partai NasDem punya target 1 kursi. Sementara kursi yang akan diperebutkan sebanyak 9 kursi DPR dari dapil Bali.

“Demokrat tidak muluk-muluk, kita ingin pertahankan 1 kursi. Tentu posisi saya menjadi sangat penting untuk maju kembali. Kalau tidak maka akan rawan sekali. Jadi calon yang maju itu bukan hanya sekedar maju, tetapi calon yang memang bisa memberikan kontribusi bagi kursi dan suara,” ujar Anggota Komisi VI DPR ini.

Tentang kehadiran partai baru seperti Partai Kebangkitan Nusnatara (PKN) yang digawangi mantan politisi Partai Demokrat, Gede Pasek Suardika (GPS), Supadma menyambut baik kehadiran partai-partai baru karena bagus bagi perkembangan demokrasi.

Namun, analisanya berdasarkan pemilu-pemilu sebelumnya, butuh waktu bagi partai-partai baru untuk bisa menembus parlementary threshold (PT) sebesar 4 persen, syarat dalam UU Pemilu yang mengharuskan tiap partai minimal memperoleh 4 persen dari total jumlah suara secara nasional.

“Analisa saya partai baru. Bagus untuk demokrasi. Tapi challenging time. Partai baru perlu waktu untuk memposisikan diri secara nasional. Untuk di daerah, mungkin bisa mendapatkan kursi di DPRD provinsi dan Kabupaten/Kota. Tapi untuk nasional berat. Karena ada parliamentary threshold sebesar 4 persen. Menurut saya, mereka harus komitmen berusaha keras ikut 3-4 kali pemilu, baru mungkin bisa lolos threshold,” terang Supadma.

Ia juga menyambut baik dan menilai bagus banyaknya tokoh dan figur di Bali yang menjadi caleg. Tapi, menurutnya semua dikembalikan pada rakyat yang memilih dan memiliki kedaulatan. Serta tuhan yang memiliki kehendak kepada siapapun caleg yang direstui-Nya.

“Kembali ke rakyat dan yang kuasa. Kalau 2 itu mendukung kita. Siapapun yang mau nggak akan bisa menghalangi,” jawab Supadma mengenai peluang caleg-caleg di Bali yang akan lolos ke Senayan.(dito)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *