Ketua Umum PGI Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty.(Foto: Ist)
JAKARTA, NP – Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) melontarkan kritik tajam terhadap berbagai persoalan kebangsaan, mulai dari ketidakadilan ekonomi, kemiskinan struktural, persoalan agraria, pelanggaran hak asasi manusia (HAM), hingga kecenderungan oligarki yang dinilai mencengkeram kebijakan publik.
Kritik tersebut disampaikan Ketua Umum PGI Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty melalui Pesan Pastoral PGI kepada gereja-gereja di Indonesia menjelang HUT Kemerdekaan RI ke-81. Pesan pastoral itu disampaikan dalam siaran pers yang diterima redaksi, Sabtu (15/8/2026).
Jacklevyn mengatakan, perayaan kemerdekaan dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” semestinya menjadi momentum untuk menguji apakah kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran benar-benar telah dirasakan seluruh rakyat.
“Menjelang perayaan akbar ini, kita diajak untuk berhenti sejenak dan merenung: sudah sejauh mana kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat di negeri ini?” kata Jacklevyn.
Menurut dia, pertanyaan tersebut penting diajukan di tengah menguatnya keluhan publik terhadap kondisi bangsa. Media sosial, katanya, dipenuhi sikap pesimistis, sementara seruan aksi turun ke jalan menjelang 17 Agustus turut bermunculan.
Ia juga menyoroti berkembangnya narasi “tidak ada Hari Merdeka” bagi kelompok masyarakat yang masih menghadapi ketidakadilan ekonomi, kemiskinan struktural, persoalan agraria dan pelanggaran HAM.
“Melimpah kekecewaan terhadap keseriusan penegakan hukum atas korupsi yang berulang. Di tengah itu semua, populisme, polarisasi afektif, dan fenomena absurditas kebenaran (post-truth) berkembang marak,” ujar Jacklevyn.
PGI juga menyoroti kecenderungan oligarki dalam kebijakan publik. Namun, Jacklevyn mengingatkan agar kegelisahan masyarakat tidak serta-merta dimanfaatkan untuk memprovokasi perpecahan.
“Kita diperhadapkan pada situasi kritis untuk membedakan mana keprihatinan yang tulus bagi bangsa ini dan mana yang sering ditiup-tiupkan untuk memprovokasi perpecahan anak-anak bangsa,” katanya.
Di tengah situasi tersebut, PGI meminta gereja dan umat Kristen tidak mengambil posisi pasif. Gereja, menurut Jacklevyn, juga tidak boleh terjebak dalam sinisme dan keputusasaan.
“Iman Kristen mengajarkan kepada kita jalan ketiga, yaitu terlibat secara kritis dalam melihat persoalan, namun dengan hati yang tetap menyala oleh pengharapan,” ujarnya.
Jacklevyn menegaskan, keterlibatan gereja dalam persoalan kebangsaan bukan berarti sekadar menyampaikan kritik, melainkan juga menghadirkan tindakan nyata. Ia mengajak umat mendoakan sekaligus memperjuangkan kesejahteraan Indonesia.
“Jika umat Israel dipanggil untuk mendoakan dan mengusahakan kesejahteraan negeri asing tempat mereka dibuang, terlebih lagi kita dipanggil untuk mendoakan dan mengusahakan kesejahteraan tanah air kita sendiri, Indonesia,” katanya.
PGI secara khusus mengajak umat mendoakan para pemimpin bangsa agar berpihak pada keadilan dan kesejahteraan rakyat, bukan kepentingan kelompok. Para penegak hukum juga didorong memiliki keberanian dan integritas untuk menegakkan hukum tanpa tunduk pada tekanan kekuasaan maupun uang.
“Kita berdoa bagi saudara-saudara kita yang hidup dalam kemiskinan dan ketidakpastian ekonomi agar mereka tidak kehilangan martabat dan harapan. Kita berdoa secara khusus bagi saudara-saudara kita di Papua yang terus-menerus terpapar kekerasan bersenjata agar keadilan dan perdamaian menjadi nyata bagi mereka,” kata Jacklevyn.
PGI juga memberi perhatian terhadap keresahan generasi muda. Kemarahan anak-anak muda terhadap berbagai persoalan bangsa, menurut Jacklevyn, harus diarahkan menjadi energi perubahan, bukan destruksi.
“Kita berdoa bagi anak-anak muda yang marah dan kecewa agar kemarahan itu menggelorakan semangat untuk membangun, bukan menghancurkan,” ujarnya.
Lebih jauh, PGI menyerukan agar gereja tidak hanya berbicara tentang persoalan bangsa dari mimbar, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat. Pelayanan bagi kelompok miskin dan terpinggirkan, penolakan terhadap suap dan korupsi, pendidikan politik yang sehat dalam keluarga, serta peran sebagai jembatan perdamaian dinilai menjadi bentuk konkret panggilan gereja.
“Sebagai terang, kita tidak dipanggil untuk mengutuk kegelapan, melainkan untuk menyala di tengah gelap itu,” tegas Jacklevyn.
Menurut dia, kecintaan terhadap Indonesia juga tidak boleh dimaknai sebagai sikap menerima semua keadaan secara membabi buta. Keluarga Kristen didorong mendidik generasi muda agar mencintai tanah air secara kritis, namun tidak jatuh dalam sinisme.
“Setiap kita berani menjadi jembatan perdamaian di tengah masyarakat yang mudah terprovokasi oleh hoaks dan ujaran kebencian,” katanya.
Jacklevyn menegaskan, 81 tahun kemerdekaan harus menjadi momentum untuk mengakui bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang belum selesai. Kemerdekaan, kata dia, tidak cukup dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan.
“Kemerdekaan sejati harus diwujudkan melalui kesediaan untuk terus memperjuangkan keadilan bagi semua, apa pun agama, suku, dan latar belakangnya,” ujar Jacklevyn.
Ia menilai usia 81 tahun semestinya menjadi usia kematangan bagi Indonesia untuk berani bercermin dan mengakui kekurangan.
“Delapan puluh satu tahun bukanlah usia yang tua bagi sebuah bangsa, tetapi merupakan usia kematangan untuk jujur mengakui kekurangan sambil terus bergerak menuju cita-cita kesejahteraan bersama,” katanya.
Karena itu, PGI mengajak seluruh gereja dan umat Kristen merayakan HUT Kemerdekaan RI bukan sekadar dengan seremoni, melainkan dengan keberanian mengakui persoalan dan mengambil bagian dalam penyelesaiannya.
“Perayaan kemerdekaan ini dilakukan dengan rendah hati: bersyukur atas kebebasan dan kedaulatan yang telah dicapai, jujur mengakui apa yang masih harus diperjuangkan, dan teguh berkomitmen untuk terus menyalakan terang di tengah kabut kebangsaan,” kata Jacklevyn.
Ia pun mengajak umat menyerahkan masa depan bangsa kepada Tuhan sembari tetap bekerja menghadirkan perubahan.
“Mari kita serahkan bangsa ini ke dalam tangan Tuhan sambil terus bekerja untuk menghadirkan harapan bagi masa depannya.”
“Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Tuhan memberkati Indonesia,” pungkasnya. (red)







Be First to Comment