Press "Enter" to skip to content

MTQ Nasional XXXI Dibuka di Semarang, Menag: Al-Qur’an Harus Membumi dalam Kehidupan

Social Media Share
Menag Nasaruddin Umar saat memberikan sambutan pada Pembukaan MTQ Nasional XXXI 2026, Semarang, Sabtu (13/9/2026).(Foto: Ist)

 

SEMARANG, NP – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI di Semarang resmi dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno di Lapangan Pancasila, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (12/9/2026) malam. Pembukaan ditandai dengan pemukulan bedug.

Hadir dalam pembukaan Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, para gubernur dan wakil gubernur, serta para Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama dari berbagai daerah di Indonesia. Ribuan masyarakat dari berbagai daerah juga memadati Lapangan Pancasila.

MTQ Nasional XXXI di Semarang berlangsung hingga 20 September 2026. Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, MTQ Nasional memiliki makna sosial dan kebangsaan yang sangat besar karena mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang dalam satu semangat persaudaraan.

“Kafilah dari berbagai penjuru Nusantara datang dengan bahasa, budaya, dan tradisi beragam. Mereka bertemu bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi juga untuk membangun persahabatan dan memperkuat persaudaraan,” ujar Nasaruddin dalam sambutannya, Sabtu malam, sebagaimana keterangan tertulis yang diterima redaksi, Minggu (13/9/2026).

Menurut Nasaruddin, MTQ XXXI juga menghadirkan pesan inklusivitas melalui cabang ekshibisi Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas sensorik tuli serta pemanfaatan mushaf Al-Qur’an isyarat. “Ini menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi semua, tidak boleh ada seseorang pun yang kehilangan kesempatan mempelajari Al-Qur’an karena kondisi fisik, sosial ekonomi, ataupun geografis,” paparnya.

Nasaruddin menyebut MTQ sebagai salah satu pesta rakyat terbesar di Indonesia. Ia berharap penyelenggaraan MTQ menjadi momentum untuk menyambungkan kembali bacaan dengan tindakan, hafalan dengan pengamalan, serta pengetahuan dengan keteladanan.

Menurut dia, Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca, dipahami, dan ditadaburi pesan-pesannya. “Al-Qur’an membumi untuk melangitkan kembali manusia. Al-Qur’an datang sebagai undangan sekaligus tiket untuk kembali ke kampung halaman rohani kita di masa akan datang,” katanya.

Ia menegaskan, nilai-nilai Al-Qur’an perlu hadir dalam berbagai ruang kehidupan. Dalam keluarga, nilai tersebut dapat tercermin melalui kasih sayang, tanggung jawab, musyawarah, dan sikap saling menghormati. Sementara di lingkungan kerja, nilai Qurani dapat diwujudkan melalui amanah, kedisiplinan, profesionalisme, dan pelayanan yang adil.

Kedekatan dengan Al-Qur’an, lanjut Nasaruddin, juga harus tercermin dalam integritas dan tanggung jawab ketika seseorang menjalankan kewenangan. Ia mengingatkan pentingnya menjauhi korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan serta menjaga kepercayaan masyarakat.

Di tengah masyarakat, nilai-nilai Al-Qur’an dapat diwujudkan melalui sikap saling mengenal, saling menolong dalam kebaikan, serta memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya. Sikap tersebut dinilai penting untuk mencegah fitnah, hoaks, ujaran kebencian, serta tindakan yang dapat merusak kehormatan dan persaudaraan.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Nasaruddin menekankan pentingnya keadilan, persatuan, perlindungan terhadap kelompok yang lemah, penghormatan terhadap kemajemukan, dan kepentingan bersama.

“Semakin dekat seseorang kepada Al-Qur’an, semestinya semakin mulia akhlaknya, semakin santun tutur katanya, semakin menghormati perbedaan, dan semakin besar kontribusinya bagi kerukunan dan persatuan Indonesia,” katanya.

Nasaruddin juga mengajak seluruh masyarakat menjadikan MTQ Nasional XXXI sebagai momentum untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

“Mari kita jadikan MTQ ini sebagai momentum untuk berhijrah. Semoga Allah SWT meridai seluruh ikhtiar kita dan menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya yang menuntun bangsa Indonesia menuju kehidupan yang rukun, maju, adil sejahtera, dan berkeadaban,” ajaknya.

MTQ Nasional XXXI diikuti kafilah dari 37 provinsi dengan total 2.242 peserta. Mereka mengikuti delapan cabang lomba yang terbagi dalam 24 golongan dan 48 kategori, mulai kategori anak-anak hingga dewasa. Cabang yang diperlombakan antara lain tilawah, tafsir dalam tiga bahasa, serta hafalan mulai satu juz hingga 30 juz.

Untuk mendukung pelaksanaan kompetisi, Menteri Agama telah mengukuhkan tujuh Dewan Pengawas dan 155 Dewan Hakim. Seluruh perlombaan dilaksanakan secara serentak di 12 venue yang tersebar di Kota Semarang, ditambah satu titik registrasi kafilah.

Nasaruddin mengajak seluruh peserta mengikuti musabaqah dengan sungguh-sungguh, jujur, dan menjunjung tinggi sportivitas. Kepada dewan hakim dan seluruh perangkat penyelenggara, ia berpesan agar menjaga marwah MTQ melalui penilaian yang objektif, profesional, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam pembukaan MTQ Nasional XXXI, Nasaruddin juga mengumumkan perubahan pola penyelenggaraan MTQ. Ke depan, MTQ akan digelar setiap tahun. Selama ini, MTQ berlangsung dua tahun sekali karena pelaksanaannya bergantian dengan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ).

“Kami sampaikan kepada Bapak/Ibu sekalian, bahwa kita tidak mengadakan lagi STQ. Karena itu demi untuk syiar, maka Kementerian Agama memutuskan bahwa setiap tahun kita tidak melakukan STQ, tapi yang kita lakukan adalah MTQ,” tegas Nasaruddin.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi selaku tuan rumah menekankan bahwa MTQ tidak hanya berkaitan dengan kompetisi membaca dan mengamalkan Al-Qur’an, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan masyarakat dengan latar belakang yang beragam.

Menurut Luthfi, kehadiran para pimpinan daerah dan kafilah dari berbagai wilayah menunjukkan kuatnya dimensi kebersamaan dalam penyelenggaraan MTQ Nasional.

Jawa Tengah tercatat untuk kali kedua menjadi tuan rumah penyelenggaraan MTQ tingkat nasional. Sebelumnya, Jawa Tengah menjadi tuan rumah MTQ Nasional pada 1979 atau 47 tahun lalu.

Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Nasional sekaligus Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Abu Rokhmad melaporkan, rangkaian MTQ Nasional XXXI dipersiapkan melalui kerja sama Kementerian Agama, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, LPTQ, Kantor Wilayah Kementerian Agama, pemerintah daerah, dewan hakim, serta panitia pusat dan daerah.

Abu Rokhmad berharap MTQ Nasional tidak berhenti pada kompetisi, tetapi menjadi ruang untuk mempertemukan kecintaan terhadap Al-Qur’an dengan pengamalan nilai-nilainya dalam kehidupan, sekaligus memperkuat persaudaraan dan persatuan masyarakat Indonesia. (red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *