“Ada pelatihan dari perusahaan Bogasari, termasuk ilmu marketing yang sangat bermanfaat. Bahkan, kami sudah mendaftarkan merek dan paten mie ayam bakso khas Wonogiri ke UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa),” kata Agung, pengurus Paguyuban Tunggal Rasa Mie Ayam Bakso di Petukangan Utara, Ciledug, Jakarta Selatan, Jumat (11/9/2026).
Agung mengatakan, paguyubannya memiliki sekitar 200 pelanggan mie ayam dan dikenal melalui Pondok Mas Agung dengan label Wonogiri. Sejak memulai usaha pada 1990, ia terus mengembangkan mie ayam khas Wonogiri sekaligus membantu pedagang mie lainnya, khususnya di kawasan Ciledug yang berbatasan dengan Jakarta Selatan dan Tangerang.
“Saya juga jual mie basah ke pedagang lain. Mereka olah lagi dan punya pelanggan juga. Tapi sebagian besar, saya olah untuk stok mie kami di outlet sini (Petukangan Utara),” ujar Agung yang mulai aktif di paguyuban sejak 2017.
Menurut Agung, keberadaan paguyuban tidak hanya terdapat di Jakarta, tetapi juga di berbagai daerah, termasuk Wonogiri. Perkembangan usaha mie ayam dan bakso tersebut membuat kuliner khas Wonogiri semakin dikenal dan menjadi bagian dari menu sehari-hari masyarakat.
Di Wonogiri, mie ayam bahkan dinilai telah menjadi salah satu menu utama selain nasi. Sementara di Jakarta, kuliner tersebut terus berkembang, baik melalui pedagang yang menggunakan gerobak maupun warung permanen. Para pelaku usaha juga mulai meningkatkan kualitas rasa sekaligus menyediakan pilihan yang lebih sehat bagi konsumen.
“Bakso Wonogiri mendunia, setelah kami mendaftarkan paten menu khas ke UNESCO bulan Juli yang lalu. Ada peran dan fasilitasi dari Bupati Wonogiri juga,” kata Agung.
Pengembangan kuliner khas Wonogiri tersebut kini tidak hanya berbicara mengenai cita rasa dan keberlangsungan usaha, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan. Salah satu inovasinya adalah mie ayam hijau yang dibuat menggunakan sari perasan daun pokcoy dan disajikan dengan topping brokoli.
Inisiatif Agung bersama sejumlah karyawannya mendapat apresiasi dari PT Bogasari, produsen tepung terigu merek Cakra Kembar yang digunakan sebagai bahan baku mie ayam. Usaha tersebut dijalankan secara turun-temurun sejak Agung memulai warung mie ayam pada 1990 dan kemudian diteruskan oleh putranya, Bagus.

Sementara itu, Deni Puspahadi dari Bogasari mengatakan, inovasi mie ayam sehat tersebut sejalan dengan kebutuhan untuk membangun ekosistem pangan sehat di tingkat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurut Deni, selama ini makanan sehat masih kerap dipersepsikan sebagai produk yang hanya tersedia di tempat-tempat premium. Kondisi tersebut membuat makanan sehat identik dengan harga yang relatif mahal.
“Selama ini pilihan makanan sehat hanya tersedia di gerai-gerai mahal. Bahkan semakin banyak kelas menengah atas memilih catering dengan tingkat kesehatan tinggi. Harganya juga tinggi, sekitar Rp150.000,” kata Deni.
Karena itu, Bogasari melihat UMKM memiliki peran penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap makanan sehat dengan harga terjangkau. Mie ayam yang dikembangkan Pondok Mas Agung menjadi salah satu contoh bagaimana makanan yang populer di masyarakat dapat dikembangkan dengan memperhatikan aspek gizi.
“Kami sebagai produsen juga mau ada ekosistem makanan sehat pada level UMKM. Contohnya, mie ayam yang dijual Pondok Mas Agung ini sudah mulai membangun ekosistem makanan sehat dan murah. Kami juga terus sosialisasi sehingga konsumen mie ayam semakin berorientasi pada perilaku konsumsi makanan sehat,” ujarnya.
Deni menegaskan, ekosistem makanan sehat tidak semestinya hanya berkembang di gerai premium. Dengan inovasi yang dilakukan pelaku UMKM, makanan bergizi dapat semakin dekat dengan masyarakat luas.
“Ekosistemnya tidak hanya di tempat premium lagi, tetapi sudah mulai tumbuh pada UMKM,” katanya.
Dalam mengembangkan mie ayam hijau dengan topping brokoli, Bagus sebelumnya melakukan riset sederhana mengenai kesukaan konsumen, kemudahan memperoleh bahan baku, serta daya beli masyarakat. Pemilihan brokoli juga mempertimbangkan kandungan gizi, selera konsumen, dan harga bahan baku yang relatif kompetitif.
“Brokoli yang mengandung gizi cukup tinggi, disukai banyak orang. Harganya juga kompetitif, sehingga saya bisa berkontribusi kepada masyarakat mengenai pangan bergizi. Harganya hanya sekitar Rp20 ribu, tapi ada nilai kandungan gizi,” kata Deni.
Dengan inovasi tersebut, mie ayam khas Wonogiri tidak hanya dipertahankan sebagai bagian dari identitas kuliner daerah, tetapi juga diarahkan mengikuti kebutuhan konsumen terhadap makanan yang lebih sehat, bergizi, dan tetap terjangkau. (Liu)







Be First to Comment