Press "Enter" to skip to content

Menag Ajak Umat Perkuat Solidaritas untuk Korban Gempa di HUT ke-81 RI

Social Media Share

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar.(Foto: Ist)

JAKARTA, NP – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya menjadi momentum mengenang perjuangan para pahlawan. Di tengah duka korban gempa di Nusa Tenggara Timur, Sumatera Utara, dan Sulawesi Tengah, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak umat beragama memperkuat persatuan, empati, dan solidaritas.

Ajakan itu disampaikan Menag saat menjadi pembina upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di halaman Kantor Pusat Kementerian Agama (Kemenag), Jakarta, Senin (17/8/2026).

Menurut Nasaruddin, mengisi kemerdekaan tidak cukup hanya dengan mengenang sejarah perjuangan. Nilai-nilai agama harus diwujudkan dalam tindakan nyata, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi bencana.

“Mari kita ulurkan tangan untuk peduli dan membantu korban gempa. Inilah agama yang hadir, yang tidak hanya bicara tentang langit, tetapi juga bekerja untuk bumi,” tegas Menag.

Ia juga mengajak umat mendoakan para korban meninggal dunia, mereka yang terluka, serta masyarakat yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian akibat gempa.

“Saat saudara-saudara kita berduka karena gempa bumi, mari tengadahkan tangan kita untuk berdoa kepada Zat Yang Maha Berkehendak, kiranya mereka yang wafat diberikan kemuliaan di sisi-Nya. Bagi mereka yang sakit segera diberikan kesembuhan. Dan bagi mereka yang terdampak diberikan ketabahan dan percepatan pemulihan, baik lahir maupun batin,” ujarnya.

Nasaruddin menegaskan, filantropi keagamaan harus dioptimalkan bukan hanya sebagai bentuk kepedulian sosial, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi umat yang mampu memberdayakan masyarakat terdampak.

Kerukunan Jadi Modal Kemerdekaan

Dalam kesempatan itu, Menag mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hadiah. Kemerdekaan lahir dari perjuangan panjang yang dibayar dengan pengorbanan, darah, air mata, dan doa para pejuang.

Ia menyoroti peran tokoh lintas agama dalam perjuangan bangsa. Ulama, pendeta, pastor, pandita, bhikkhu, dan tokoh agama lainnya turut berdiri di garis depan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Menurutnya, keberagaman yang diwariskan para pendiri bangsa harus dirawat melalui kerukunan. Tanpa kerukunan, pembangunan akan kehilangan fondasi sosialnya.

“Jangan biarkan perbedaan jadi alasan bermusuhan. Jangan biarkan agama jadi alasan saling menjauh. Jadikan agama dan nilai-nilainya sebagai jalan untuk saling menguatkan dan memberikan makna kehidupan,” pesan Nasaruddin.

Ia menyebut kondisi kerukunan umat beragama menunjukkan perkembangan positif. Indeks Kerukunan Umat Beragama meningkat dari 76,47 pada 2024 menjadi 77,89 pada 2025. Sementara Indeks Kesalehan Umat Beragama 2025 mencapai 84,61.

“Rumah ibadah harus menjadi tempat yang menenteramkan. Madrasah, pesantren, majelis taklim, sekolah minggu, pasraman, widyalaya, dan ruang kajian keagamaan harus menjadi tempat tumbuhnya ilmu dan akhlak. Agama harus menjadi sumber pencerahan, kedamaian, serta kemaslahatan,” lanjutnya.

Upacara HUT ke-81 RI di lingkungan Kemenag diikuti Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, pejabat Eselon I hingga IV, ASN Kemenag pusat, serta pimpinan agama dan tokoh masyarakat.

Dalam rangkaian upacara, Menag juga menyerahkan penghargaan Satyalancana Karyasatya secara simbolis kepada ASN yang telah mengabdi selama 30, 20, dan 10 tahun.

Bersama Wakil Menteri Agama, Sekretaris Jenderal, dan jajaran pejabat Kemenag, Nasaruddin memberikan ucapan selamat secara langsung kepada para penerima penghargaan. (red)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *