JAKARTA, NP- Perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-43 ASEAN (Association of Southeast Asian Nations atau Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara) Tahun 2023 di Jakarta Convention Center (JCC) pada 5-7 September 2023 akan didukung sejumlah venue dan spouse program yang menarik.
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) diagendakan akan memimpin 12 pertemuan dalam rangkaian KTT ke-43 ASEAN 2023 yang akan dihadiri pimpinan dan delegasi dari 32 negara.
Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) RI, Setya Utama mengatakan dari sisi persiapan venue, persiapan infrastruktur pendukung sudah dijalankan sejak pengumuman Keketuaan Indonesia pada Oktober 2022.
Persiapan ini meliputi berbagai detail mulai dari aspek teknis hingga estetika, seperti pemasangan karpet dan penataan ruangan.
“Lokasi utama KTT akan berfokus di Jakarta Convention Center (JCC), dengan dua lokasi utama lainnya,” ungkap Setya Utama dalam Dialog Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) dengan tema ‘Kesiapan Venue dan Transportasi KTT ASEAN ke-43’ hari ini, Jumat (25/8/2023).
Selain JCC yang menjadi tempat bersidang, dua lokasi utama lainnya akan digunakan sebagai spouse program yaitu Hutan Kota Gelora Bung Karno (GBK) untuk acara Gala Dinner pada 6 September mulai pukul 6 sore hingga malam hari.
Juga untuk para pendamping atau pasangan dari pimpinan perwakilan delegasi negara di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
“Program Spouse ini diharapkan dapat menawarkan pengalaman budaya yang unik, termasuk pemandangan miniatur pulau Indonesia setelah proses reboisasi,” ujar Setya.
Untuk kesiapan transportasi, Setya menjelaskan KTT ke-43 ASEAN juga akan digunakan sebagai ajang bagi Indonesia untuk menunjukkan kemajuan teknologi di bidang transportasi yaitu dengan mengintegrasikan MRT (Mass Rapid Transit) dan kendaraan listrik.
“Kita akan menggunakan sejumlah mobil listrik untuk para pemimpin dan delegasi lainnya,” ujarnya.
Upaya ini dilakukan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia tidak hanya memiliki infrastruktur canggih, tetapi juga berkomitmen pada transportasi berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Setya merinci, para pemimpin negara akan menggunakan BMW i7 sebanyak 24 unit, sementara para menteri dan pejabat senior akan menggunakan 76 unit Toyota BZ4x.
Selain itu, ada 52 unit Hyundai Ioniq 6 untuk pasangan delegasi dan VVIP cadangan, serta 208 unit Hyundai Ioniq 5 yang akan digunakan oleh protokol dan keamanan, serta 150 unit Wuling AirEV untuk operasional.
Penyelenggara juga menyiapkan patwal unit sepeda motor listrik yang akan digunakan untuk pengawalan rangkaian pemimpin dari bandara ke venue oleh personel TNI/Polri.
“Ini bukan hanya semata-mata tentang mobilitas yang ramah lingkungan, tetapi juga tentang menciptakan kesan positif terhadap para delegasi dan menyampaikan komitmen Indonesia terhadap lingkungan dan teknologi berkelanjutan,” ucap Setya.
Menurut Setya, transformasi teknologi ini tidak hanya sebatas pada mobil listrik, tetapi juga unjuk kemampuan Indonesia dalam mengintegrasikan tranportasi massal MRT dalam mobilitas delegasi.
‘Delegasi akan menggunakan MRT untuk mengakses lokasi penting seperti kantor ASEAN dan GBK, menggambarkan pentingnya kerja sama regional yang mengakar pada kebutuhan sehari-hari,” kata Setya.
Penggunaan MRT tersebut sejalan dengan upaya dan komitmen Indonesia untuk menjadikan transportasi publik berbasis rel sebagai alternatif berkelanjutan.
“Dalam upaya mengurangi kebutuhan shuttle dari hotel, rencana telah disusun untuk menyediakan mobil shuttle dari pintu 7 GBK,” papar Setya sehingga para delegasi dapat menggunakan MRT mencapai venue dengan mudah.
Rekayasa Mobilitas
Juru Bicara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI Adita Irawati memastikan kelancaran mobilitas para delegasi KTT ke-43 ASEAN.

Ia mencontoh, meski akan digunakan untuk keperluan KTT ke-43 ASEAN, namun masyarakat juga tetap dapat menggunakan MRT untuk keseharian.
“MRT, sebagai simbol teknologi tinggi dan pelayanan terbaik, akan tetap tersedia untuk masyarakat umum. Namun, akan ada pengaturan khusus untuk delegasi pada jam-jam tertentu,” ujar Adita.
Rute MRT yang akan digunakan oleh delegasi telah dipilih secara strategis, termasuk titik-titik penting yang menjadi venue rangkaian KTTke-43 ASEAN seperti kantor ASEAN dan GBK.
Untuk efisien dan kelancaran bagi para delegasi selama berada di Indonesia, Adita menjelaskan serangkaian persiapan telah dilakukan sejak awal kedatangan para delegasi yaitu setibanya di bandara.
Pertama, langkah pengaturan di Bandara akan dilakukan, mirip dengan pendekatan yang telah diterapkan dalam KTT G20 sebelumnya. Tujuannya adalah memastikan bahwa tiba di Indonesia adalah pengalaman yang menyenangkan bagi para delegasi.
“Selanjutnya, fokus akan beralih pada mobilitas dan konektivitas selama KTT. Salah satu aspek yang menonjol adalah penerapan ganjil genap dan rekayasa lalu lintas yang terencana,” terang Adita.
Upaya mengurangi dampak mobilitas yang tinggi selama KTT ASEAN, solusi seperti WFH (work for home) juga diperkenalkan sebagai upaya untuk mengurangi mobilitas di beberapa sektor.
“Pemerintah melalui pihak berwenang akan terus berusaha untuk memberikan sosialisasi agar masyarakat dapat mengantisipasi dengan baik,” ujarnya.
Adita meyakini kerja sama antara pemerintah, operator transportasi, dan masyarakat, maka KTT ke-43 ASEAN dapat berlangsung sukses dan sesuai harapan, juga memberi dampak positif pada lingkungan dan masyarakat.(dito)







Be First to Comment