Sekum PGI, Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty (tengah) bersama peserta The 3rd International Peace Conference melakukan aksi menanam 300 bibit mangrove di Kawasan Ekowisata Mangrove PIK, Jakarta, Kamis (23/11/2023).(Foto:red)
JAKARTA, NP –Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menjadi tuan rumah pelaksanaan The 3rd International Peace Conference atau Konferensi Internasional Perdamaian ke- 3 yang diinisiasi oleh United Evangelical Mission (UEM). Dalam pertemuan tersebut, isu ekologi menjadi salah satu concern utama.
“Yang menjadi concern utama ialah Ekologi. Ya, ini persoalan sangat serius saat ini. Ancaman kiamat ekologi, jauh lebih besar dari persoalan konflik peperangan yang terjadi, dan banyak peperangan yang terjadi oleh karena persoalan ekologi,”kata Sekum PGI, Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty di Kawasan Ekowisata Mangrove PIK, Jakarta, Kamis (23/11/2023).
Untuk itu, UEM bersama PGI mendeklarasikan komitmen mereka dalam menjaga keseimbangan dan kelestarian alam agar tetap hijau dan asri, yang ditandai dengan penanaman bibit mangrove di Kawasan Ekowisata Mangrove PIK, Jakarta, Kamis (23/11/2023).
Sebelumnya, UEM bersama PGI juga telah menggelar seminar internasional, dan workshop internasional yang bertajuk The 3 rd international Peace Conference, selama 3 hari, 21-23 November 2023 di Hotel Mercure, Jakarta Utara. Acara tersebut diikuti sekitar 50 orang peserta dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Australia, Srilanka, Philipina, Indonesia, Tanzania, dan Republik Demokrasi Kongo. Tema yang diusung adalah Peace Among The People.
“Ini sebenarnya bukan kegiatan PGI. PGI hanya menjadi tuan rumah. Yang punya kegiatan adalah UEM yang berpusat di Jerman. UEM adalah salah satu lembaga misi Jerman yang anggota-anggota nya tersebar di 3 region, yaitu Afrika, Eropa (terutama Jerman) dan Asia,”terang Sekum PGI.
Setiap 3 tahun, UEM melakukan semacam semiloka atau seminar internasional dan workshop internasional, yang menghadirkan keanggotaan dari 3 region, termasuk yang beragama lain .

” Jadi ini sifatnya antar agama dan keyakinan, karena itu kita lihat ada utusan yang beragama Yudaisme, ada yang Muslim, Budha, Kristen, baik yang datang atau mereka undang sebagai narasumber langsung atau peserta langsung dari luar negeri, tetapi juga ada yang diminta mengisi acara dari Indonesia,”jelas Sekum PGI.
Tema yang diangkat pun beragam, terutama tema-tema yang terkait dengan persoalan-persoalan kemanusiaan dan lingkungan . “Ini tema-tema global yang digumuli, agama-agama juga terlibat untuk mengelola persoalan-persoalan global yang menjadi perhatian bersama,”imbuh Sekum.
Terkait konflik perang, kata Sekum PGI tidak secara spesifik dibicarakan , tetapi lebih kepada tanggung jawab bagaimana mengupayakan perdamaian, sekalipun kita tidak bisa berkontribusi langsung. Tetapi setidaknya didalam masyarakat, kita melakukan literasi untuk melihat persoalan-persoalan konflik itu dari realitas-realitas sesungguhnya, bukan yang diframing keluar dan dipolitisasi dll.
“Yang menjadi concern utama ialah Ekologi. Ya, ini persoalan sangat serius saat ini. Ancaman kiamat ekologi jauh lebih besar dari persoalan konflik peperangan yang terjadi , dan banyak peperangan yang terjadi oleh karena persoalan ekologi,”tutup Sekum PGI.
Pada kesempatan tersebut, Rabbi Yacuv (Yahudi), Pdt. Rebecca (Kristen), Hanir Esder (Muslim), Venerable Bulumulle Sumaranarathana Thero (Budha), secara bergantian membacakan Pesan Lintas Agama untuk Keadilan dan Komunitas Inkusif yang dihasilkan dari konferensi ini.
Inti dari pesan tersebut antara lain, di tengah dunia yang tengah berduka, mereka merindukan perdamaian antar manusia, perdamaian dengan planet bumi, dan penghormatan terhadap hak-hak semua orang. Mereka juga prihatin atas konflik kekerasan dan percepatan perubahan iklim. Termasuk kekerasan yang sedang berlangsung atas Israel dan Hamas. (red)







Be First to Comment