Rapat pembahasan Peta Jalan Pesantren yang digelar Kementerian Agama sebagai langkah strategis memperkuat peran pesantren menuju sistem pendidikan Islam unggulan dunia. (Foto: Kemenag)
Seiring proses tersebut, Kemenag juga menyusun Peta Jalan Pesantren sebagai langkah strategis memperkuat posisi pesantren menjadi sistem pendidikan Islam unggulan dunia.
Karakter dan Distingsi
Terkait peta jalan tersebut, Kamaruddin menggarisbawahi empat agenda utama. Pertama, revitalisasi karakter santri agar adaptif terhadap modernitas tanpa tercerabut dari akar tradisi keislaman. Menurutnya, pesantren memiliki keunggulan khas berupa sistem pendidikan 24 jam yang efektif membentuk karakter, memperkuat intelektualitas, sekaligus membina spiritualitas.
“Modal ini strategis untuk membawa pesantren melangkah lebih jauh—bukan sekadar bertahan, tetapi memberi pengaruh di tingkat global,” ujarnya, dikutip laman resmi Kemenag, Minggu (15/2/2026).
Kedua, penguatan distingsi dan keberpihakan ekonomi. Ia mencontohkan lembaga pendidikan Islam dunia seperti Al-Azhar di Mesir, Jam’iyah Islamiyah Madinah, serta Al-Mustafa, yang pengaruhnya tidak bertumpu pada peringkat global, melainkan pada kekhasan dan keberpihakan ekonomi. Biaya pendidikan yang terjangkau bahkan gratis menjadikan lembaga-lembaga tersebut memiliki daya jangkau luas dan jejaring internasional yang kuat.
“Pesantren memiliki potensi untuk mencapai level tersebut. Kuncinya membangun keunikan sekaligus relevansi global,” katanya.
Mimpi Besar dan Internasionalisasi
Ketiga, membangun mimpi besar santri. Modernisasi pesantren, tegasnya, bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan memperluas cakrawala nilai. Menghormati kiai dan guru tetap menjadi fondasi, namun santri juga perlu memahami dinamika demokrasi, tata negara, ekonomi, hingga tantangan global yang kian kompleks.
Santri juga perlu dibekali literasi keuangan, pemahaman investasi, dan wawasan industri agar mampu berperan dalam ekosistem ekonomi modern. Pesantren, lanjutnya, harus menjadi ruang yang menumbuhkan imajinasi sukses—membayangkan santri sebagai pengusaha, politisi, menteri, bahkan presiden—tanpa kehilangan integritas moral dan spiritualitas.
“Pesantren tidak boleh membatasi mimpi santri. Justru harus melahirkan kepemimpinan berkarakter di berbagai sektor,” tegasnya.
Keempat, internasionalisasi. Pesantren didorong membuka diri bagi mahasiswa asing melalui skema beasiswa atau sponsor, guna mendorong pertukaran gagasan sekaligus memperkuat reputasi global.
Data sebagai Quick Win
Penataan data menjadi prioritas awal. Penasihat Ahli Menteri Agama, Nur Syam, mengingatkan pentingnya perencanaan strategis yang terukur. Ia mengusulkan periode 2026–2030 sebagai target jangka pendek realistis, dengan 2027 ditetapkan sebagai tahun penuntasan data.
Menurut Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya itu, validasi data infrastruktur, sumber daya manusia, dan peta keilmuan merupakan fondasi utama. Tanpa data akurat, pembangunan berisiko meleset dari sasaran.
“Quick win kita adalah data. Tanpa itu, kita hanya bergerak dalam asumsi,” ujarnya di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Dalam kerangka 2030 hingga 2045, ia mendorong paradigma baru: pesantren dan sumber daya manusianya harus unggul secara nasional sekaligus kompetitif di tingkat internasional. Penguatan ilmu keislaman yang berdampak—baik murni maupun integratif—serta pemberdayaan masyarakat berbasis keilmuan menjadi agenda strategis.
Santri sebagai Penggerak
Diskusi Perumusan Peta Jalan Pesantren dipimpin Penasihat Ahli Menag, Alissa Wahid. Ia menekankan bahwa santri masa depan harus menjadi penggerak (muharrik), bukan sekadar penonton dalam arus perubahan sosial.
Menurutnya, pesantren tidak boleh terjebak dalam sikap defensif terhadap perkembangan zaman. Perubahan sosial, politik, dan ekonomi harus direspons dengan kesiapan beradaptasi dan keberanian berinovasi.
“Imajinasi kolektif kita harus mengarah pada satu tujuan, yakni menjadikan pesantren sebagai sistem pendidikan Islam unggulan dunia,” pungkasnya. (red)







Be First to Comment