Subiyarto, mantan staf Kantor Filateli Jakarta di Pasar Baru (1982–2013). (Foto: Ist)
JAKARTA, NP – Meskipun internet telah menggerus komunikasi lewat surat, amplop, dan prangko, hobi mengoleksi prangko atau filateli justru tetap eksis. Bahkan, kegiatan ini masih diminati oleh anak-anak muda.
“Pak Pringgo Diprodjo sudah berusia 92 tahun, tapi masih aktif mengikuti berbagai kegiatan filateli di Kantor Pos Pasar Baru. Anak-anak muda juga masih tertarik, sering menggelar kegiatan filateli di kantor pos. Koleksi prangko tidak tergerus oleh waktu maupun teknologi,” ujar pakar filateli Indonesia, Subiyarto, saat ditemui di Kantor Pos Pasar Baru, Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Prangko, meski kecil, menyimpan sejarah bangsa. Beberapa prangko bahkan menjadi primadona bagi filatelis sejati, seperti Prangko Pos Militer Surakarta tahun 1949, Prangko Pendudukan Jepang, Nederland Indie Cetak Tindih 1949, serta Prangko Cetak Tindik RIS dan Cetak Tindih RIAO. “Biasanya jumlahnya terbatas, sehingga kolektor sejati selalu antusias mencarinya. Banyak tokoh filateli yang telah almarhum, seperti Thung Kim Tek, yang dulu juri filateli internasional, serta Untung Rahardjo, Song Boo, dan Wongsodihardjo, yang pernah berdomisili di Tiongkok dan mempelopori penerbitan buku Katalog Prangko Indonesia pertama kali pada 1988,” jelas Subiyarto, mantan staf kantor Filateli Jakarta di Pasar Baru (1982–2013).
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan tokoh filateli. Setiap tahun digelar perlombaan dan pameran dengan medali emas, perak, perunggu, dan lain-lain. Thung Kim Tek tercatat aktif dalam organisasi filateli di Jakarta pada 1980-an bersama tokoh lain seperti Liem Yung Lieng dan Anna Yudiana. “Seorang kolektor sejati, ketika menyukai prangko, tidak memikirkan nilai uang yang harus dikeluarkan. Kepuasan yang dirasakan tidak bisa dinilai dengan uang,” tambah Subiyarto, pemilik counter filateli di Kantor Pos Pasar Baru sejak 2013.

Selain itu, Subiyarto mengenal kolektor sejati, Prof. Satyanegara, seorang ahli bedah saraf, sejak 1980-an. Ia mengenang peristiwa penting pada 2005, saat ia ditolong setelah mengalami kecelakaan dengan patah leher tiga tulang. Prof. Satyanegara selalu datang bersama istrinya ke Filateli Pasar Baru, membeli prangko sambil melihat koleksi terbaru. “Dia sangat antusias. Nilai pembeliannya tergolong banyak,” kata Subiyarto, kelahiran Yogyakarta 1958.
Nilai koleksi prangko Prof. Satyanegara diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Untuk kolektor sejati, nilai jual puluhan juta rupiah relatif kecil. Sebagai perbandingan, satu album koleksinya bisa mencapai sekitar Rp 20 juta. “Ini souvenir sheet Indonesia, empat prangko per seri. Koleksi Pak Satyanegara sudah berlangsung setengah abad. Koleksinya tidak hanya dari 1980-an, tapi juga Prangko Nederland Indie, perangko Dai Nippon, dan Indonesia. Nilainya diperkirakan antara Rp 1–2 miliar,” pungkas Subiyarto. (Liu)







Be First to Comment