Press "Enter" to skip to content

Industri Batok Kelapa Tertekan, Kenaikan Biaya Produksi Picu Ancaman Relokasi

Social Media Share

Stephen Lo (Lo Chieh-feng) dari perusahaan jasa konsultan manajemen dan bisnis saat ditemui di Jakarta. (Foto: Ist)

JAKARTA, NP – Industri pengolahan tempurung atau batok kelapa di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), mulai menghadapi tekanan kenaikan biaya produksi. Harga pokok produksi (HPP) untuk satu piece diperkirakan mencapai sekitar Rp3.500.

Jika harga batok kelapa yang diperoleh dari pabrik pengolahan minyak kelapa melampaui angka tersebut, pelaku industri berpotensi mengalihkan produksi ke Vietnam. “Saat ini saja, profit kami sudah menurun. Karena HPP batok semakin naik, bisnis menjadi tidak feasible lagi,” ujar Stephen Lo dari perusahaan jasa konsultan manajemen dan bisnis saat ditemui di Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Bahan baku kancing dari tempurung kelapa—limbah pabrik pengolahan minyak kelapa di Sulawesi Tengah—yang merupakan produk setengah jadi hasil produksi di Indonesia. (Foto: Ist)

Tempurung kelapa yang umumnya dianggap limbah, di tangan pekerja terampil dan melalui dukungan mesin otomatisasi, dapat diolah menjadi kancing baju bernilai seni tinggi. Namun, penciptaan nilai tambah masih banyak dilakukan di Vietnam, terutama untuk desain motif dan bentuk.

“Di Palu hanya sebatas bahan baku. Padahal, kombinasi kancing tempurung dengan batik khas Indonesia sangat menarik. Desain kami natural karena bahannya juga natural,” kata Lo Chieh-feng.

Perusahaan tersebut selama ini mengandalkan limbah dari industri minyak kelapa dalam negeri sebagai bahan baku. Impor batok kelapa dari Vietnam dinilai tidak ekonomis, sehingga pasokan tetap bertumpu pada wilayah Indonesia, khususnya Sulawesi Tengah.

Kancing baju berbahan tempurung kelapa asal Sulawesi Tengah yang diproses lebih lanjut di Vietnam untuk meningkatkan nilai tambah, termasuk melalui ukiran presisi menggunakan teknologi laser. (Foto: Ist)

Tahap awal produksi menjadi bagian paling menantang, mengingat bentuk batok yang beragam, mulai dari pipih hingga bulat. Proses sortir masih dilakukan secara manual sebelum masuk ke tahap pemotongan dan pengolahan mesin.

“Sortir harus manual. Setelah dipotong per bagian, baru bisa diproses dengan mesin. Tahap berikutnya sudah sepenuhnya menggunakan mesin,” jelas Stephen Lo.

Kapasitas produksi mencapai sekitar 100 juta piece per bulan. Produk dikirim menggunakan kontainer dari Palu melalui jalur darat menuju pelabuhan di Makassar atau Surabaya, sebelum diekspor ke Vietnam. Satu kontainer berukuran 20 kaki dapat memuat hingga 19 ton.

Pabrik pengolahan di Vietnam yang melakukan proses hilirisasi bahan baku tempurung kelapa menjadi kancing siap pakai dengan nilai tambah tinggi. (Foto: Ist)

Dari sisi efisiensi, tenaga kerja dan operasional mesin di Vietnam dinilai lebih unggul dibandingkan Indonesia. Perusahaan yang berkantor pusat di China tersebut menekankan pentingnya menjaga kualitas, mengingat produk kancing yang dihasilkan merupakan salah satu yang terbesar di dunia.

“Banyak kompetitor yang mencoba meniru. Jika pekerja di Indonesia konsisten dan memiliki komitmen, bukan tidak mungkin dapat menyamai keterampilan di Vietnam. Namun, tantangannya adalah tingkat perpindahan tenaga kerja yang cukup tinggi. Pekerja sering berpindah mencari peluang lain, meski sudah dilatih,” ujar dia. (Liu)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *