Press "Enter" to skip to content

Arya Wedakarna: Anugerah API 2023 Salah Satu Cara Wartawan Melawan Kelompok Radikal

Social Media Share

JAKARTA, NP- Anggota Dewan Perwakailan Daerah (DPD) RI dari daerah pemilihan Bali, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa menyambut baik Apresiasi PEWARNA Indonesia (API) 2023 dalam menjaga kebhinekaan, kebersamaan dan persatuan dalam wadah NKRI.

Penegasan disampaikan Senator dari Pulau Dewata itu saat memberikan sambutan pada acara Anugerah API 2023 kepada sejumlah tokoh dari berbagai profesi dan bidang di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (31/7/2023).

Hadir dalam acara tersebut, Ketua Umum Pergerakan Indonesia Mandiri (PIM) sekaligus Sekretaris Jenderal Persatuan Masyarakat Kristen Indonesia Timur (PMKIT) Dwi Urip Premono, para pengurus Persatuan Wartawan Nasrani (PEWARNA) Indonesia dari berbagai daerah, para perwakilan tokoh umat agama, Sekretaris Jenderal Pewarna Indonesia Ronald Stevly Onibala, Ketua Panitia API 2023 Mulyani Susana dan Sekretaris Panitia Ashiong P. Munthe dan perwakilan lembaga lainnya.

Pada acara yang mengusung tema “Merajut Persatuan Dengan Nilai Luhur Budaya Melalui Peran Jurnalistik” itu, dua tokoh kepala daerah memperoleh penghargaan tertinggi dari API 2023 sebagai tokoh birokrat toleran paling berpengrauh pada tahun ini.

Dua kepala daerah itu yaitu Penjabat Bupati Sorong, Yan Piet Moso, S.Sos.MM sebagai Figur Kepala Daerah Pengamal Harmoni Kebhinekaan dan Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka sebagai Figur Kepala Daerah Penjaga Toleransi.

Selain kedua kepala daerah itu, API 2023 juga memberikan anugerah kepada sejumlah figur dari berbagai bidang profesi atas perjuangan yang ditekuninya selama ini.

“Organisasi Pewarna ini adalah organisasi yang Pancasilais. Organisasi yang sangat konsisten tidak hanya mengurusi umatnya sendiri, tapi juga memberi penghargaan kepada saudara-saudara kita yang telah berjuang untuk kebangsaan,” ujar Arya Wedakarna dihadapan ratusan peserta yang hadir.

Sebagai bentuk apresiasi kepada Pewarna Indonesia, Arya Wedakarna mengatakan meskipun saat ini ia sedang reses menyapa konstituennya di dapilnya, Bali, namun ia harus menyempatkan diri menghadiri acara ini.

“Karena saya ingin membuktikan bahwa kerja seorang anggota DPD RI atau senator itu tidak hanya untuk dapil saja, tidak hanya untuk daerahnya saja, tapi juga harus memberi teladan, untuk memberikan kontribusi,” imbuhnya.

Menurut Anggota DPD RI dua periode ini, pemberian apresiasi melalui anugerah seperti API 2023 merupakan salah satu bagian atau cara dari oara anak bangsa ini agar Indonesia tetap menjadi negeri yang Pancasilais.

Sekaligus upaya menunjukkan kepada siapapun kelompok intoleran yang berusaha memaksa pihak atau kelompok lain mengikuti kemauannya, seperti kelompok radikal dan kelompok yang dianggap jaringan teroris.

“Sebenarnya ini bentuk dari cara kita melawan (kelompok radikal), kita memberikan sinyal kepada mereka bahwa kita ada. Dan peran wartawan adalah garda terdepan, maka dari itu siarkanlah berita-berita yang pro terhadap Pancasila, pro terhadap minoritas, pro terhadap NKRI ke seluruh penjuru dunia,” tegas Arya.

Ketua Umum Pewarna Indonesia, Yusuf Mujiono mengaku pemberian apresiasi dari Pewarna Indonesia kepada para kepala daerah merupakan bentuk apresiasi dalam para jurnalis terhadap kinerja dan kepemimpinan figur pemenang API 2023.

Seperti yang dilakukan Penjabat Penjabat Bupati Sorong, Yan Piet Moso yang menurut Yusuf Mujiono telah membuktikan cara pandang salah sebagian masyarakat terhadap masyarakat Papua secara umum dan di Sorong khususnya bahwa ada penilaian yang salah, para pemimpin di tanah Papua hanya menginginkan dan menerima masyarakat atau kelompok yang seragam yaitu hanya yang satu ras dan satu etnik saja dengan mereka.

“Beliau (Penjabat Bupati Sorong) sudah membuktikannya. Kebhinekaan terbangun di Kabupaten Sorong. Jadi luar biasa kepemipinan Pak Yan Piet ini, dan kebetulan saya bisa berkunjung ke sana. Saya saksikan sendiri bagaimana kerukunan dan kebersamaan antar umat beragama terjalin dengan baik sekali,” ungkap Yusuf Mujiono.

Yan Piet Moso, menurut Yusuf telah menghapus stigma bahwa hanya orang Papua yang boleh tinggal di tanah Papua.

“Jadi ini menghapus stigma bahwa Papua itu sulit untuk agama lain masuk. Kabupaten Sorong sudah membuktikan bahwa tidak seperti yang dibayangkan seperti itu. Terima kasih Pak Yan dan teruskan perjuangannya untuk selalu membangun kebersamaan dan merajut kebersamaan,” tegas Yusuf.(dito)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *