Penari sufi Fajar menampilkan tarian berputar untuk menghibur para tamu saat acara buka puasa bersama di Sapphire Sky Hotel, BSD. (Foto: Ist)
TANGSEL, NP – Jika dilakukan polling tentang tarian sufi, banyak orang langsung mengidentikkannya dengan tarian berputar atau “tarian pusing”. Sebutan itu muncul karena penarinya berputar terus-menerus hingga 360 derajat dalam waktu lama tanpa merasa pusing.
Atraksi tarian sufi tersebut ditampilkan di Sapphire Sky Hotel, Serpong, Tangerang Selatan, bertepatan dengan acara buka puasa bersama yang dihadiri banyak tamu.
“Tahun lalu kami juga menghadirkan tarian sufi, bahkan disertai penampilan penyanyi lagu religi Ramadhan. Para tamu sangat antusias karena keunikan tarian ini,” kata General Manager Sapphire Sky Hotel BSD City dan Yasmin Hotel Karawaci, Yohanes Parwoto, kepada Redaksi, Sabtu (7/3/2026).

Penari sufi tampil di panggung yang berada di lobi hotel saat acara buka puasa berlangsung. Para tamu yang sedang menikmati hidangan berbuka tampak terhibur oleh tarian yang dibawakan Fajar.
Bagi Fajar, tampil menari sufi di hotel bukanlah hal baru. Menurutnya, tarian sufi kini semakin populer di Indonesia, terutama di kalangan anak muda.
“Saya mulai belajar tari sufi saat duduk di kelas dua SMP, sekitar usia 15 tahun, di Pekalongan. Semakin lama saya semakin tertarik, bukan hanya karena estetika tariannya, tetapi juga filosofi di baliknya. Jika menari dengan energi positif dan rasa cinta universal, penari tidak akan merasa pusing walau berputar terus-menerus,” kata Fajar, yang lahir di Brebes 20 tahun lalu.

Tarian yang berasal dari Turki ini juga dikenal dengan sebutan whirling dervishes, dengan ciri khas gerakan berputar. Namun gerakan tersebut sebenarnya merupakan bagian dari proses meditasi dan pemaknaan cinta universal.
Karena itu, penari sufi tidak hanya berlatih menjaga keseimbangan tubuh, tetapi juga mendalami makna spiritual untuk mewujudkan rasa cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tak heran jika tarian sufi tidak selalu dikaitkan secara eksklusif dengan Islam atau umat Muslim. Di Dubai, misalnya, sebagai kota metropolitan dengan populasi ekspatriat tinggi, banyak warga non-Muslim yang tertarik mempelajari tarian ini. Demikian pula komunitas Turki di Jerman yang aktif melestarikannya.
“Di Dubai banyak yang non-Muslim belajar tari sufi. Beberapa turis asal Perancis juga pernah belajar di Indonesia. Saya sendiri tidak hanya tampil saat Ramadhan. Saya juga pernah tampil di acara pernikahan, tahun baru, dan berbagai perayaan lainnya,” kata Fajar yang menempuh pendidikan dari SD hingga SMA di Pekalongan.

Fajar pertama kali tertarik pada tarian sufi saat mengikuti pengajian di Pekalongan. Ia terpesona melihat gerakan berputar tanpa henti dari sepasang penari laki-laki dan perempuan yang tampak elegan dan anggun.
Setelah itu ia memberanikan diri berkenalan dengan para penari tersebut dan kemudian mencari guru besar sufi di Indonesia, yakni KH Amin Budi Harjono, seorang dai sekaligus budayawan yang konsisten mempopulerkan tari sufi di Indonesia.
“Sejak perkenalan itu saya rutin berlatih. Saya bertekad menjadi penari sufi. Awalnya latihan di sanggar, kemudian bisa berlatih sendiri di rumah. Saya berusaha memahami makna spiritualnya sekaligus menjaga keseimbangan saat berputar 360 derajat di panggung. Dari situ saya semakin yakin bahwa penari sufi harus memiliki rasa cinta universal untuk menjaga keseimbangan,” kata Fajar. (Liu)







Be First to Comment