Press "Enter" to skip to content

PERIKHSA Cigar Brotherhood: Menyatunya Asap Senjata dan Asap Cerutu

Social Media Share

Peresmian komunitas Cerutu Nusantara ‘PERIKHSA Cigar Brotherhood’ dan peluncuran ‘BAMSOET CIGAR’ sekaligus pelantikan Presiden PERIKHSA Cigar Brotherhood, Charles Wicaksana dan Sonny Harsono di Parle Senayan Jakarta, Kamis  (30/10/2025) malam. (Foto: dokumentasi Bamsoet)

JAKARTA, NP- Apa jadinya bila dua gaya hidup bertemu dalam satu aksi? Yaitu aksi seni bela diri penggunaan senjata api dan aksi para penggemar cita rasa cerutu. Yang pasti menyatunya dua asap, asap senjata dan asap cerutu.

Aksi penyatuan dua asap itu terjadi pada peresmian komunitas Cerutu Nusantara ‘PERIKHSA Cigar Brotherhood’ dan peluncuran ‘BAMSOET CIGAR’ di Parle Senayan Jakarta, Kamis  (30/10/2025) malam.

Anggota DPR RI sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Pemilik Izin Khusus Senjata Api Bela Diri Indonesia (PERIKSHA), Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengatakan cerutu premium dari tembakau pilihan petani Indonesia untuk bersaing di pangsa pasar cerutu dunia yang sangat besar, dengan nilai pasar global diperkirakan mencapai $56,70 miliar pada tahun 2025 dan diproyeksikan akan terus tumbuh.

Prospek industri cerutu atau cigar Indonesia cukup cerah. Didorong oleh peningkatan permintaan cerutu premium, minat dari pasar internasional, dan tren baru di kalangan anak muda. Permintaan global terhadap cerutu premium juga terus meningkat.

“Negara-negara seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang, China, dan Taiwan menjadi pasar utama bagi produk cerutu Indonesia yang bisa menambah devisa negara melalui peningkatan nilai ekspor,” ujar Bamsoet pada acara yang juga pelantikan Presiden PERIKHSA Cigar Brotherhood, Charles Wicaksana dan Sonny Harsono.

Cerutu bukan sekedar tembakau yang dibakar atau hanya tentang asap. Tetapi setiap tarikan dan hembusan yang keluar dari sebatang cerutu itu ada keringat para petani tembakau di desa, mulai dari pemetikan, penggulungan, pengeringan serta nasib ribuan pekerja pelinting. Karena dikerjakan dengan tangan manusia (handmade) dan bukan mesin.

Untuk itu, Bamsoet menegaskan tugas Kita hari ini adalah meningkatkan kesejahteraan mereka, melalui peningkatan produksi cerutu untuk pasar domestik dan pasar global. Saya optimis karena kualitas tembakau petani kita tidak perlu diragukan lagi.

“Mereka menanam, memetik, dan merawat daun tembakau dengan ketekunan luar biasa. Cita rasa dan aroma cerutu yang dihasilkan para pelinting Indonesia mampu bersaing dengan produk Kuba atau Dominika, baik dari segi aroma, cita rasa, maupun karakter khasnya,” ucap Bamsoet,

Indonesia memiliki sejarah panjang dalam produksi cerutu, bahkan sejak era kolonial Belanda. Wilayah seperti Jember, Temanggung, dan Yogyakarta menjadi pusat produksi tembakau berkualitas tinggi. Tembakau Besuki Na-Oogst dan Voor-Oogst dari Jember, misalnya, terkenal luas di pasar internasional karena aroma dan rasa.

“Data Kementerian Pertanian mencatat, produksi tembakau Indonesia mencapai 225 ribu ton pada tahun 2022. Sebagian besar berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat,” urai Bamsoet.

Ia menjelaskan, keunggulan cerutu Indonesia terletak pada kombinasi antara bahan baku berkualitas dan keterampilan perajin lokal.

Proses pembuatan yang masih mengandalkan teknik tradisional memastikan setiap batang cerutu memiliki karakteristik unik yang sulit ditiru.

“Dengan kualitas tembakau yang unggul dan keahlian tangan para perajin lokal. Industri cerutu Indonesia telah berhasil menembus pasar internasional, menjadikannya peluang emas bagi pelaku bisnis dan eksportir dan berpotensi besar untuk menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia,” jelas Bamsoet.

Bamsoet berhatap cerutu nusantara, hasil karya anak dapat bersaing di pasar global. Ia berharap ada cerutu yang dapat melegenda dari tangan-tangan ahli cerutu Indonesia.

“Kalau Kuba punya Cohiba, Dominika punya Davidoff, Indonesia seharusnya punya cerutu atau cigar unggulan. Inilah waktunya kita percaya diri bahwa hasil tangan anak bangsa bisa berdiri sejajar dengan produk dunia,” pungkas Bamsoet. (har)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *