Press "Enter" to skip to content

Jembatan Tano Ponggol, Ikon Pulau Samosir

Social Media Share

Jembatan Tano Ponggol, penghubung Pulau Samosir dengan daratan Sumatera. Keindahan alam dan karya manusia berpadu di sini.(Bas)

TANO PONGGOL. Salah satu kanal/terusan yang terletak di Kelurahan Siogungogung, Pangururan, Kabupaten Samosir yang dibangun pada 17 Maret 1906 oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Pembangunan ini, untuk memisahkan Pulau Samosir dengan Pulau Sumatra.

Setelah kanal ini rampung, lalu diresmikan oleh Ratu Wilhelmina, 1913 dan sempat dijuluki sebagai Terusan Wilhelmina.

Kemudian tanah dikeruk agar air Danau Toba yang bersumber dari pesisir Silalahi dapat melewati Pangururan. Begitu pun kapal diharapkan dapat menyelusuri Danau Toba dengan leluasa.

Air danau yang mengalir melalui kanal Tano Ponggol disebut sebagai Aek Tano Ponggol. Begitu juga dampak dari pembangunan jembatan ini, menjadikan akses transportasi darat makin lancar dari Pulau Sumatra ke Pulau Samosir.

Lalu, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera II, pada 2022, memperlebar alur Tano Ponggol yang awalnya 25 meter menjadi 80 meter, agar kapal pesiar bisa lalu lalang melintas dari bawah jembatan.

Jembatan penghubung antara Pulau Sumatera dan Pulau Samosir yang populer dengan sebutan Jembatan Aek Tano Ponggol Dalihan Natolu, sekaligus ikon baru di Kabupaten Samosir. Bahkan satu satunya akses jalur darat menuju Pulau Samosir yang letaknya di tengah tengah Danau Toba.

Terusan Tano Ponggol Setelah Diperlebar.(Bas)

Presiden Jokowi meresmikan jembatan ini, bersamaan dengan peresmian Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Medan Binjai Deli Serdang (Mebidang) pada Jumat 25 Agustus 2023, di Kecamatan Binjai Selatan, Kota Binjai. Pembangunan jembatan ini, menelan biaya Rp 157 miliar yang dibangun Kementerian PUPR.

Selain itu, jembatan Aek Tano Ponggol juga termasuk sarana pendukung pengembangan kawasan strategis pariwisata nasional Danau Toba. Bahkan, merupakan promosi destinasi wisata Danau Toba Samosir. Tidak hanya itu, tapi menjadi ikon baru di Kabupaten Samosir dan salah satu daya tarik wisatawan berkunjung ke Samosir.

Pertengahan 1980-an jembatan Tano Ponggol pernah direnovasi dengan bangunan beton, panjang kurang lebih 25 meter. Seiring dengan waktu, kondisi terusan kian dangkal sehingga tidak memungkinkan dilalui kapal. Kemudian kanal diperlebar menjadi 80 meter dan panjang 1,2 kilometer agar kapal seukuran kapal pesiar dapat melintas.

Pada jembatan utama terdapat tiga bentang—bentang utama sepanjang 99 meter dengan lebar delapan meter, sedangkan jembatan pendek juga terdiri atas tiga bentang. Ruang bebas 10 meter dari permukaan air—panjang keseluruhan jembatan 382 meter.

Gereja Bolon Pangururan berada di pusat kota Pangururan.(Bas)

Ketika jalan-jalan ke jembatan Tano Ponggol—tampak ramai wisatawan dalam dan luar negeri. Jumlah pengunjung akan bertambah ramai jelang senja. Apalagi view Danau Toba dari atas jembatan sangat memanjakan mata. Sejauh mata memandang tampak hamparan air danau yang biru mempercantik panorama di kepingan sorga di Kawasan Danau Toba itu.

Belum lagi hembusan angin segar dari Danau Toba, menyatu dengan angin sejuk dari pegunungan yang mengitari Danau Toba, seakan menyapa: Selamat datang di Pangururan, Samosir. Membuat pengunjung betah berlama-lama di jembatan Tano Ponggol.

Rupanya pengunjung tak membiarkan jalan-jalan ke Tano Ponggol begitu saja berlalu. Lalu, mereka mengabadikannnya dengan berfoto ria. Aneka gaya dibarengi sudut pengambilan foto dengan latar belakang jembatan Tano Ponggol yang megah membuat suasana di sepanjang jembatan bagaikan galeri mendadak.

Tidak ketinggalan penjual makanan ringan dan minuman ringan berbaur di atas jembatan menjajakan jualannya dengan sepeda motor. Laris manis. .

Menariknya, jembatan Aek Tano Ponggol, ternyata mengusung aspek keadilan lokal; ‘Dalihan Na Tolu’ yang merupakan filosofi warga Batak (elek marboru, somba marhulahula, manat mardongan tubu) Filosofi ini, disimbolkan dalam bentuk tungku berkaki tiga, yang dapat dilihat pada konstruksi jembatan yakni tiga penyangga bercat merah. (Baharuddin Silaen)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *