Press "Enter" to skip to content

Sempat Hentikan 2 Kapal Berbendera Malaysia, Satu Kapal Kembali Ditangkap KKP

Social Media Share

JAKARTA, NP – Kurang dari 24 jam setelah penangkapan KM. PKFB 423, aparat Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan-KKP kembali mengkonfirmasi penangkapan 1 kapal ikan asing ilegal berbendera Malaysia yang juga beroperasi di Selat Malaka. Berita penangkapan 1 KIA tersebut disampaikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo melalui siaran pers yang disampaikan kepada awak media.

”Dalam waktu yang relatif berdekatan dengan penangkapan 1 KIA kemarin, 1 kapal ikan asing ilegal asal Malaysia kembali dilumpuhkan oleh aparat Ditjen PSDKP-KKP pada tanggal 13 Maret 2020”, Ungkap Edhy

Kapal berbendera Malaysia dengan nama KM. PKFB 422 ditangkap oleh Kapal Pengawas Perikanan Hiu 04 ketika melakukan kegiatan penangkapan ikan di WPP-NRI 571 – Selat Malaka. Kapal tersebut ditangkap pada posisi 03°38.955’ Lintang Utara-100°15.021’ Bujur Timur.

Kapal yang beroperasi dengan menggunakan alat penangkapan ikan trawl tersebut diawaki oleh 5 orang awak kapal berkewarganegaraan Myanmar. Untuk kepentingan pemeriksaan dan proses hukum lebih lanjut kapal tersebut di ad hoc ke Wilayah Kerja SDKP Kabupaten Karimun

Edhy juga menjelaskan bahwa sebenarnya ada 1 kapal lagi yang juga diperiksa dalam posisi yang relatif berdekatan pada saat penangkapan kapal tersebut yaitu KM. PKFB 7887. Namun Ditjen PSDKP-KKP kemudian memperoleh permohonan klarifikasi dari Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM).

”Karena ada permohonan klarifikasi maka kami tidak bisa langsung membawa kedua kapal berbendera Malaysia tersebut, kami berkoordinasi dengan pihak APMM. Ini mekanisme yang memang sudah disepakati kedua negara apabila melakukan penangkapan di unresolved maritime boundaries”, tutur Edhy

MALAYSIA MEMINTA REQUEST TO LEAVE

Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Tb Haeru Rahayu menerangkan lebih jauh permohonan klarifikasi dari APMM yang kemudian menghasilkan kesepakatan penandatangan Form III Common Best Practices (CBP) atau Request to Leave. Skema ini sendiri merupakan salah satu bagian dalam kerangka implementasi Memorandum of Understanding on Common Guidelines antara Indonesia dan Malaysia yang dilakukan dengan serah terima nelayan antar petugas kedua negara.

”Kebetulan pada saat kapal kami melaksanakan operasi di wilayah tersebut, APMM juga melakukan kegiatan patroli dengan kapal dan helikopter, dan komunikasi terjadi antar aparat di lapangan terkait dengan penangkapan kapal berbendera Malaysia KM. PKFB 7887”, terang Tb

Lebih lanjut Tb menjelaskan bahwa KM. PKFB 7887 terindikasi drifting sehingga sedikit masuk ke wilayah perairan Indonesia ketika dideteksi oleh aparat KP. Hiu 04.

”Dengan mempertimbangkan faktor-faktor teknis, argumentasi yang logis serta tentu saja hubungan baik yang selama ini telah berjalan, akhirnya kami meminta aparat APMM untuk menjemput kapal tersebut di perbatasan Indonesia-Malaysia”, papar Tb

Tb juga menambahkan bahwa sikap kooperatif ini dilakukan untuk membangun koordinasi dan kerjasama yang reciprocal dalam penanganan masalah nelayan kedua negara. sebagaimana diketahui nelayan Indonesia juga kerap terbawa arus ketika melakukan penangkapan ikan di wilayah perbatasan sampai memasuki wilayah Malaysia tanpa izin.

”Jadi kami berharap langkah kooperatif ini juga diikuti oleh pihak Malaysia untuk penanganan terhadap nelayan kita yang terbawa arus sehingga masuk ke wilayah perairan Malaysia’, Pungkas Tb.

Dengan penangkapan 1 KIA ilegal berbendera Malaysia ini, maka sudah 17 kapal ikan asing ilegal telah ditangkap di era kepemimpinan Edhy sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Ke-17 kapal ikan asing ilegal yang telah ditangkap tersebut terdiri dari 8 kapal berbendera Vietnam, 4 kapal berbendera Filipina dan 5 kapal berbendera Malaysia.(rls)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan