Suasana pascagempa bumi di Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). M Kasim Ahmad (48), Ketua RT setempat, menyampaikan kondisi sejumlah rumah warga yang mengalami kerusakan akibat guncangan gempa. (Foto: BNPB)
JAKARTA NP – Gempa bumi dahsyat Magnitudo 7,7 mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58.24 WIB. Guncangan kuat dirasakan hingga sejumlah wilayah di NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi Selatan.
Pusat gempa berada di laut pada kedalaman 15 kilometer, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Guncangan kuat memicu kepanikan warga. Sejumlah masyarakat berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Dampak paling serius dilaporkan terjadi di wilayah Pelabuhan El Say, Kabupaten Sikka. Dua orang meninggal dunia dan satu orang lainnya mengalami luka-luka.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, Ph.D., mengatakan laporan awal mengenai korban diterima BNPB dari Kodim Sikka.
“Peristiwa tersebut mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan satu orang mengalami luka-luka,” kata Berton dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Sabtu (15/8/2026).
Dua korban meninggal terdiri atas seorang laki-laki dan seorang perempuan. BNPB menyatakan data tersebut masih dalam proses verifikasi dan pendataan lebih lanjut oleh petugas di lapangan.
Tim gabungan Basarnas, TNI, dan Polri langsung bergerak melakukan evakuasi di lokasi kejadian. BNPB bersama BPBD Kabupaten Sikka juga terus berkoordinasi untuk menangani korban dan memastikan keselamatan warga di kawasan terdampak.
Di Nagekeo, gempa dirasakan sangat kuat selama sekitar satu menit. Warga berhamburan keluar rumah. Menyusul peringatan dini tsunami, BPBD Nagekeo melakukan evakuasi masyarakat, terutama warga yang berada di kawasan pesisir.
Situasi serupa terjadi di Kabupaten Sikka dan Manggarai Barat. Guncangan kuat membuat warga keluar rumah, sementara BPBD di masing-masing wilayah mengarahkan masyarakat pesisir menuju lokasi yang lebih aman.
Getaran gempa juga dirasakan hingga Kota Bima, NTB, serta Kabupaten Jeneponto, Kepulauan Selayar, dan Maros di Sulawesi Selatan.
Ancaman belum sepenuhnya berakhir. Setelah gempa utama, sejumlah gempa susulan tercatat. Gempa Magnitudo 6,2 terjadi pada pukul 05.13.53 WIB, disusul Magnitudo 6,2 pada pukul 05.28.40 WIB dan Magnitudo 5,6 pada pukul 05.37.19 WIB. Gempa susulan lainnya, termasuk Magnitudo 5,5, juga terjadi.
Berdasarkan informasi sementara, gempa-gempa susulan tersebut tidak berpotensi tsunami. Namun, BNPB masih terus memantau perkembangan situasi dan melakukan pemutakhiran data di seluruh wilayah terdampak.
Pendataan dilakukan terhadap korban jiwa, korban luka, kerusakan bangunan, serta dampak lainnya. BNPB menegaskan data korban dan kerusakan masih dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan.
BNPB meminta masyarakat tetap tenang, tetapi tidak mengabaikan potensi bahaya. Warga di wilayah pesisir diminta mengikuti arahan pemerintah daerah dan informasi resmi BMKG terkait peringatan dini tsunami.
Masyarakat juga diminta menjauhi bangunan yang rusak atau mengalami retakan karena dapat roboh sewaktu-waktu.
BNPB mengingatkan masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Perkembangan gempa, potensi tsunami, dan kondisi wilayah terdampak hanya mengacu pada informasi resmi BMKG, BNPB, BPBD, pemerintah daerah, serta TNI-Polri.
BNPB bersama BPBD, Basarnas, TNI, Polri, dan unsur terkait masih berada dalam pemantauan dan penanganan pascagempa. Fokus utama saat ini adalah evakuasi, penanganan korban, pendataan kerusakan, dan memastikan keselamatan masyarakat.
Data sementara masih dapat berkembang sesuai hasil verifikasi petugas di lapangan.(red)







Be First to Comment