Press "Enter" to skip to content

Perusahaan Fesyen Indonesia Tampil Perdana di Saudi Fashion & Tex Expo 2026

Social Media Share

Partisipasi Paviliun Indonesia dalam pameran Saudi Fashion & Tex Expo 2026. (Foto: Ist)

JEDDAH, NP – Sepuluh perusahaan fesyen dan tekstil Indonesia tampil perdana pada salah satu pameran fesyen dan tekstil terbesar di Arab Saudi, Saudi Fashion & Tex Expo 2026. Pameran berlangsung pada 24–27 September 2026 di Jeddah Center for Exhibition & Events, Jeddah. Partisipasi Paviliun Indonesia merupakan hasil sinergi Kementerian Perdagangan RI dengan Kedutaan Besar RI Riyadh dan Konsulat Jenderal RI Jeddah.

Atase Perdagangan RI Riyadh, Zulvri Yenni, menilai keikutsertaan perdana perusahaan fesyen dan tekstil Indonesia dalam Saudi Fashion & Tex Expo 2026 membuka peluang besar untuk memperluas promosi produk lokal Indonesia di pasar Arab Saudi. Ia optimistis produk fesyen dan tekstil unggulan Indonesia akan semakin dikenal melalui pameran tersebut. “Partisipasi perdana Indonesia pada Saudi Fashion & Tex Expo 2026 menjadi momentum untuk mempromosikan produk fesyen dan tekstil Indonesia ke pasar Arab Saudi. Selain itu, ajang ini menjadi kesempatan untuk mengakses pasar negara Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC), Afrika, dan Eropa,” ujar Zulvri dalam keterangan pers, Jumat (25/9/2026).

Menurut Zulvri, pasar fesyen dan tekstil di Arab Saudi terus berkembang sehingga masih terdapat ruang untuk memperluas akses pasar bagi produk Indonesia. Pada periode Agustus 2025–Agustus 2026, Arab Saudi mengimpor produk fesyen senilai sekitar USD 2,09 miliar dari dunia. Sementara itu, ekspor produk fesyen Indonesia ke Arab Saudi baru mencapai sekitar USD 17,55 juta dengan pangsa pasar sekitar 0,84 persen.

Untuk produk tekstil, Arab Saudi mengimpor dari dunia sekitar USD 598,55 juta. Adapun ekspor produk tekstil Indonesia ke Arab Saudi mencapai sekitar USD 12,79 juta dengan pangsa pasar sekitar 2,14 persen.

Untuk mengoptimalkan potensi pasar tersebut, Zulvri menyebut pelaku usaha Indonesia perlu memastikan harga, kualitas bahan, dan desain produk mampu bersaing dengan produk dari sejumlah negara pemasok utama, seperti Tiongkok, India, Uni Emirat Arab, Mesir, Turki, Jepang, dan Korea Selatan.

“Ketertarikan buyer terhadap Paviliun Indonesia cukup tinggi. Namun, calon buyer masih memerlukan waktu untuk memahami karakter desain dan bahan produk fesyen Indonesia. Sementara itu, untuk produk tekstil, diperlukan pengembangan motif-motif baru dengan harga yang lebih kompetitif dibandingkan produk dari Tiongkok,” ujar Zulvri.

Sepuluh perusahaan Indonesia yang berpartisipasi dalam pameran tersebut adalah Sarinah, Modest Luxe, Crucil, Shifasco, Hikmat, Intanaka, Karina Design, Irna La Perle, PT Yoshi Utama, dan Khanaan. Kesepuluh perusahaan tersebut merupakan hasil seleksi dan kurasi terhadap 182 perusahaan fesyen, tekstil, aksesori, dan alas kaki dari berbagai daerah di Indonesia pada 10–15 Juli 2026.

Seleksi dilakukan berdasarkan kesiapan ekspor, kualitas produk, serta potensi pengembangan pasar di Arab Saudi. Proses kurasi tersebut merupakan hasil sinergi Kemendag RI, KBRI Riyadh, dan KJRI Jeddah.

Konsul Jenderal RI Jeddah, Sugiri Suparwan, menyampaikan pidato pembuka sekaligus memimpin seremoni pengguntingan pita sebagai tanda peresmian Paviliun Indonesia. Sugiri mengatakan partisipasi Indonesia dalam Saudi Fashion & Tex Expo 2026 membuka kesempatan bagi produk-produk Indonesia untuk semakin dikenal di pasar Arab Saudi.

“KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah berupaya agar Indonesia dapat terus berpartisipasi pada pameran ini. Harapannya, pameran ini dapat mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon mitra dan buyer potensial di Arab Saudi, juga membuka peluang kerja sama perdagangan yang lebih luas,” ujar Sugiri.

Kepala Departemen Pasar Internasional PT Sarinah, Vito Arista Pratama, mengapresiasi dukungan Atase Perdagangan RI Riyadh yang membantu perusahaannya hingga dapat tampil pada Saudi Fashion & Tex Expo 2026. “Kami berterima kasih kepada Atase Perdagangan Riyadh yang senantiasa memfasilitasi kami, termasuk membantu kami untuk hadir pada pameran ini. Kami juga mendapatkan penerjemah untuk membantu komunikasi dengan pengunjung dan buyer dari Timur Tengah. Kami berharap, ini jadi kesempatan bagi produk kami bisa dikenal dan diterima di pasar Arab Saudi,” ujar Vito.

Sekilas Perdagangan Indonesia-Arab Saudi

Pada Januari–Juli 2026, total perdagangan nonmigas Indonesia dan Arab Saudi tercatat sebesar USD 1,95 miliar. Ekspor nonmigas Indonesia ke Arab Saudi mencapai USD 1,20 miliar, sedangkan impor nonmigas Indonesia dari Arab Saudi sebesar USD 754,6 juta. Indonesia mencatatkan surplus perdagangan nonmigas sebesar USD 444,4 juta terhadap Arab Saudi.

Sementara itu, pada 2025, total perdagangan nonmigas Indonesia dan Arab Saudi tercatat sebesar USD 3,94 miliar. Ekspor nonmigas Indonesia ke Arab Saudi mencapai USD 2,88 miliar, sedangkan impor nonmigas Indonesia dari Arab Saudi sebesar USD 1,06 miliar. Indonesia mencatatkan surplus perdagangan nonmigas sebesar USD 1,82 miliar.

Komoditas ekspor utama Indonesia ke Arab Saudi meliputi kendaraan dan bagiannya, lemak dan minyak hewani atau nabati, kapal laut, berbagai makanan olahan, serta kayu dan barang dari kayu. Sementara itu, komoditas utama yang diimpor dari Arab Saudi meliputi garam, belerang, kapur; plastik dan barang dari plastik; bahan kimia organik; berbagai produk kimia; serta buah-buahan. (red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *