Last updated on 13/09/2026
JAKARTA, NP – Paguyuban Mie Ayam dan Bakso mengakui berbagai manfaat dari keterlibatan aktif sebagai mitra produsen dan perusahaan penggilingan tepung terigu yang menjadi salah satu bahan utama pembuatan mie. Kegiatan para pengurus dan anggota paguyuban tidak sebatas silaturahmi, tetapi juga berkaitan langsung dengan pengembangan usaha mie ayam dan bakso.
“Ada pelatihan dari perusahaan Bogasari, termasuk ilmu marketing yang sangat bermanfaat. Bahkan kami sudah mendaftarkan merek dan paten mie ayam bakso khas Wonogiri ke UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa),” kata Agung, anggota Paguyuban Tunggal Rasa Mie Ayam Bakso di Petukangan Utara, Ciledug, Jakarta Selatan (Jaksel), Jumat (11/9/2026).
Paguyuban Tunggal Rasa memiliki sekitar 200 penjaja mie ayam. Salah satunya adalah Pondok Mas Agung yang dikenal dengan label Mie Ayam dan Bakso Khas Wonogiri. Sejak 1990, Agung bekerja keras mengembangkan usaha mie ayam sekaligus berkontribusi kepada pedagang mie lainnya, terutama di sekitar wilayah Ciledug yang merupakan perbatasan Jakarta Selatan dan Tangerang.
“Saya juga jual mie basah ke pedagang lain. Mereka olah lagi dan punya pelanggan juga. Tapi sebagian besar, saya olah untuk stok mie kami di outlet sini (Petukangan Utara),” ujar Agung yang mulai aktif di Paguyuban Tunggal Rasa sejak 2017.
Selain menjadi anggota Paguyuban Mie Ayam Tunggal Rasa, Agung juga menjadi pengurus Paguyuban Bakso Wonogiri Mendunia. Paguyuban tersebut tidak hanya berkembang di Jakarta, tetapi juga di berbagai daerah, termasuk Wonogiri, Jawa Tengah.
Dari hasil kerja keras mengembangkan usaha mie ayam dan bakso, Agung meyakini kuliner khas Wonogiri telah menjadi bagian dari menu sehari-hari masyarakat setempat. Bahkan, mie ayam dinilai telah menjadi salah satu pilihan makanan utama selain nasi bagi warga Wonogiri.

Hal serupa juga terlihat di Jakarta. Sejumlah pedagang mie ayam, baik yang menggunakan gerobak maupun membuka warung permanen, terus meningkatkan kualitas rasa serta menghadirkan pilihan makanan yang lebih sehat bagi konsumen dan penggemar mie ayam Wonogiri.
“Bakso Wonogiri mendunia, setelah kami mendaftarkan paten ke UNESCO bulan Juli yang lalu. Ada peran dan fasilitasi dari Bupati Wonogiri juga,” kata pria kelahiran 1969 tersebut.
Sementara itu, Purgiati dari PT Indofood Sukses Makmur Tbk melihat pentingnya membangun ekosistem makanan sehat hingga ke tingkat usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Selama ini, makanan sehat kerap dipersepsikan hanya tersedia di tempat-tempat premium dengan harga relatif mahal.
“Selama ini pilihan makanan sehat hanya tersedia di gerai-gerai mahal. Bahkan semakin banyak kelas menengah atas memilih catering dengan tingkat kesehatan tinggi. Harganya juga tinggi, sekitar Rp 150.000,” kata Purgiati.
Menurut dia, produsen juga memiliki tanggung jawab untuk mendorong hadirnya pilihan makanan sehat yang dapat dijangkau masyarakat luas, termasuk melalui pelaku UMKM. Salah satu contohnya adalah mie ayam yang dikembangkan Pondok Mas Agung.
“Kami sebagai produsen juga mau ada ekosistem makanan sehat pada level UMKM. Contohnya, mie ayam yang dijual Pondok Mas Agung ini, sudah mulai membangun ekosistem makanan sehat dan murah. Kami juga terus sosialisasi sehingga konsumen mie ayam semakin berorientasi pada perilaku konsumsi makanan sehat. Ekosistemnya tidak hanya di tempat premium lagi tapi sudah mulai tumbuh pada UMKM,” ujarnya.
Inisiatif Agung bersama sejumlah karyawannya mendapat apresiasi dari PT Indofood Sukses Makmur Tbk melalui divisi Bogasari, produsen tepung terigu merek Cakra Kembar yang digunakan sebagai salah satu bahan baku pembuatan mie ayam.
Usaha tersebut telah dijalankan Agung secara turun-temurun sejak memulai warung mie ayam pada 1990 dan kini dilanjutkan oleh putranya, Bagus. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah varian mie ayam hijau dengan warna mie yang diperoleh dari sari perasan daun pokcoy. Varian tersebut dipadukan dengan topping sayur brokoli sebagai salah satu pilihan mie ayam sehat.
“Anak Mas Agung, Bagus, sebelumnya sudah melakukan riset sederhana terkait kesukaan konsumen, kemudahan memperoleh bahan baku dan daya beli masyarakat dengan harga terjangkau. Brokoli yang mengandung gizi cukup tinggi, disukai banyak orang. Harganya juga kompetitif, sehingga saya bisa berkontribusi kepada masyarakat mengenai pangan bergizi. Harganya hanya sekitar Rp 20 ribu, tapi ada nilai kandungan gizi,” kata Purgiati. (Liu)







Be First to Comment