Press "Enter" to skip to content

Asrama Santriwati Pondok Pesantren Ambruk, 1 Wafat dan 11 Luka-Luka

Social Media Share

Wakil Ketua Umum PBNU, KH. Dr. (HC). Zulfa Mustofa.(Ist)

SITUBONDO, NP – Musibah kembali menimpa dunia pendidikan pesantren. Sebuah asrama di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Syekh Abdul Qodir Jailani, Situbondo, Jawa Timur, ambruk pada Rabu (29/10/2025) dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Peristiwa itu menewaskan satu santriwati, Putri (12), dan melukai 11 lainnya.

Wakil Ketua Umum PBNU, KH. Dr. (HC). Zulfa Mustofa, menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya salah seorang santriwati. “Semoga almarhumah syahidah, karena wafat di saat sedang dalam masa-masa menuntut ilmu,” ujar Kiai Zulfa saat dikonfirmasi media, Rabu.

Peristiwa ini menambah deretan musibah serupa yang menimpa pondok pesantren, menyusul ambruknya musala di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, bulan September lalu. “Tentu saja kami sangat prihatin. Peristiwa ini terjadi hanya selisih satu bulan dari musibah Al Khoziny, Sidoarjo,” kata Kiai Zulfa.

Ia meminta pemerintah turun tangan untuk membantu pondok pesantren tua yang berpotensi membahayakan santrinya. “Kami berharap pemerintah bisa membantu memperbaiki bangunan-bangunan tersebut agar santri dapat belajar dengan aman,” ujarnya.

PBNU juga terus melakukan monitoring, pendataan, dan inventarisasi aset pondok pesantren, terutama bangunan fisik, melalui Rabithah Ma’ahid Al Islamiyah (RMI). Hingga saat ini, sekitar 26.000 pondok pesantren di Indonesia berafiliasi dengan NU.

Kondisi Korban

Kapolres Situbondo AKBP Rezi Darmawan menyatakan, total 12 santriwati menjadi korban. Satu meninggal dunia, enam dirawat di Puskesmas Besuki, empat di RSUD Besuki, dan satu di RSIA Jatimned. “Satu santriwati meninggal dunia dan sudah dikebumikan pagi tadi pukul 08.00 WIB,” kata Rezi.

Pihak kepolisian masih menyelidiki penyebab ambruknya bangunan dan akan berkoordinasi dengan Kementerian Agama. “Kami masih belum bisa memastikan apakah faktor cuaca atau faktor lain,” ujarnya.

Kesaksian Korban

Aura Adelia (14), salah satu korban, menceritakan pengalamannya. “Saya tidur terlelap, tiba-tiba bangunan ambruk. Saat keluar kamar, saya baru sadar kaki kanan saya terluka parah,” ujar Aura saat ditemui di RSUD Besuki.

Satu kamar berisi 19 santriwati, dan sebagian besar sedang tertidur saat peristiwa terjadi. Aura mengaku luka parah yang dialaminya ditangani secara medis, bersama empat korban lainnya.

RS (35), keluarga salah satu korban, mengaku terkejut saat mengetahui kondisi keponakannya. “Kami awalnya disuruh ke pondok, tidak tahu anak kami menjadi korban. Luka cukup parah hingga harus dioperasi,” ujarnya.

Peristiwa ini menegaskan pentingnya perhatian terhadap kondisi fisik bangunan pondok pesantren di seluruh Nusantara, terutama yang berusia tua dan berpotensi membahayakan keselamatan santri. (red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *