Press "Enter" to skip to content

Timbulkan Kecemasan, Pemerintah Diminta Bersikap Terhadap Beberapa Produk Sunscreen

Social Media Share

JAKARTA, NP- Viralnya informasi melalui video di salah satu platform media sosial mengenai saran untuk tidak menggunakan beberapa produk sunscreen memicu kekhawatiran dan kecemasan sebagian masyarakat Indonesia.

Persoalan tersebut mendapat perhatian serius Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet). Ia meminta Badan Pengawas Obat dan Makanan/BPOM berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan/Kemenkes untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait hal tersebut.

“Agar masyarakat tidak panik atau cemas berlebihan, utamanya terhadap alasan kandungan tersebut dinyatakan tidak aman oleh EU Comission dan SCCS dan dampaknya bagi kesehatan,” ucap Bamsoet di Jakarta, Senin (19/6/2023).

Beberapa produk sunscreen diketahui memiliki kandungan 4-Methylbenzylidene camphor (4-MBC). Berdasarkan laporan European Union (EU) Commission dan Scientific Committee on Consumer Safety (SCCS) atau pengawas obat dan makanan di Eropa menyebut bahan dalam sunscreen atau tabir surya bernama 4-Methylbenzylidene camphor (4-MBC) sudah tidak lagi dikategorikan sebagai bahan yang aman.

“Sejumlah produk dari brand atau merk lokal mengedarkan dan menjual beberapa sunscreen yang mengandung 4-Methylbenzylidene camphor (4-MBC),” kata Bamsoet.

BPOM juga diminta segera mengecek dan berkoordinasi dengan EU Comission dan SCCS atas informasi bahwa kandungan 4-Methylbenzylidene camphor (4-MBC) dalam produk kosmetik, utamanya sunscreen, sudah tidak lagi dikategorikan sebagai bahan yang aman, agar hal tersebut juga dapat disesuaikan dengan daftar kandungan obat atau kosmetik yang aman yang dapat digunakan di Indonesia, sehingga masyarakat tidak lagi merasa khawatir.

Selain itu, pemerintah diminta terus mengingatkan masyarakat agar mengajukan protes kepada brand-brand kosmetik atau sunscreen yang produknya mengandung 4-Methylbenzylidene camphor (4-MBC), dikarenakan EU Comission dan SCCS juga menyatakan bahwa yang dinyatakan tidak aman adalah kandungan yang terkait, bukan brand atau merk produk tertentu.

“Masyarakat untuk tetap berhati-hati terhadap informasi yang diterima, dan meminta masyarakat untuk menunggu informasi atau klarifikasi yang resmi, valid, dan lengkap dari pemerintah, serta tetap kritis dan berhati-hati dalam memperhatikan kandungan dari tiap obat, kosmetik, maupun makanan dan minuman yang digunakan atau dikonsumsi,” ucap Bamsoet.(dito)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *