Penyerahan sertifikat kepada para narasumber usai kegiatan Kuliah Pakar FTTP Unhan RI dalam rangkaian study visit mahasiswa Program Magister FTTP di PT INKA dan Lanud Iswahjudi. (Foto: Ist)
MADIUN, NP – Fakultas Teknik dan Teknologi Pertahanan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (FTTP Unhan RI) mempertemukan perspektif industri, operator, pemeliharaan, dan akademik dalam diskusi panel bertema “From Industry to Mission Readiness: Building a Sustainable National Defense Technology Ecosystem”. Forum tersebut menjadi bagian dari rangkaian study visit mahasiswa Program Magister FTTP di PT INKA dan Lanud Iswahjudi.
Manager Product and Technology Development PT INKA Fifin Nugroho, S.T., menekankan bahwa kemandirian teknologi tidak cukup diukur dari kemampuan menghasilkan produk akhir. Menurut dia, industri perlu membangun kapabilitas secara utuh, mulai dari desain dan engineering, manufaktur, pengujian, pengelolaan rantai pasok, pengembangan kompetensi, hingga dukungan sepanjang siklus hidup produk.
“Peningkatan kapabilitas harus berjalan melalui penguatan fasilitas, kompetensi, proses, dan supply chain. Transfer of technology juga harus berkembang menjadi kemampuan engineering dan pengembangan produk sendiri,” ujar Fifin dalam keterangannya, Kamis (24/9/2026).

Pengalaman PT INKA dalam pengembangan bogie, sistem propulsi, digitalisasi Smart Factory 4.0, serta pelokalan komponen menunjukkan bahwa proses pembelajaran teknologi harus berujung pada peningkatan kemampuan nasional yang semakin mandiri.
Dari sisi operasi, Komandan Skadron Udara 14 Lanud Iswahjudi Letkol Pnb Jaka Arastya, S.H., M.Han., mengingatkan bahwa kepemilikan platform belum otomatis berarti kesiapan tempur. Menurutnya, operational readiness baru terbentuk ketika kemampuan dapat digelar, dijalankan sesuai standar, dan dipertahankan dalam kurun waktu tertentu.
“Readiness adalah hasil perhitungan capability demand terhadap resource, waktu, dan risiko. Karena itu, yang harus dibangun adalah capability, bukan sekadar platform,” kata Jaka.

Ia menjelaskan, kesiapan misi bergantung pada sejumlah unsur, antara lain pesawat yang mission-capable, personel yang qualified, command and control, komunikasi, persenjataan, mission data, serta kemampuan sustainment. Keterbatasan jam terbang, suku cadang, amunisi, maupun latihan dapat menimbulkan efek berantai yang pada akhirnya menurunkan kualitas kesiapan operasional.
Perspektif sustainment disampaikan Dansathar 83 Depohar 80 Letkol Tek Yulius, S.T., M.Han. Ia menempatkan maintenance sebagai fondasi untuk menjaga reliability, availability, dan maintainability alutsista. Menurut Yulius, data pemeliharaan tidak semestinya berhenti sebagai catatan teknis, tetapi perlu diterjemahkan menjadi kebutuhan teknologi baru.
“Operational readiness membutuhkan sustainment, sustainment ditopang maintenance, dan pengalaman pemeliharaan harus diterjemahkan menjadi technology requirements,” ujar Yulius.
Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan sensor, data analytics, kecerdasan buatan atau AI, serta digital maintenance management untuk mendukung pemeliharaan prediktif. “Menyatukan ide akademis dan ketangkasan teknisi adalah cara terbaik mengubah kerumitan teknologi penerbangan menjadi keandalan yang nyata,” katanya.
Dekan FTTP Unhan RI Prof. Dr. Henry Setiyanto, S.Si., M.T., kemudian merangkai ketiga perspektif tersebut dalam satu mata rantai, yakni build, operate, dan sustain. Menurutnya, kemajuan teknologi baru memiliki arti strategis ketika mampu menghasilkan operational readiness dan mission effectiveness.
“Kemandirian tidak hanya berbicara mengenai kemampuan memproduksi, tetapi terutama mengenai penguasaan pengetahuan dan kemampuan teknologi,” tegas Henry.

Ia mendorong kolaborasi antara TNI sebagai pengguna, perguruan tinggi sebagai pusat pendidikan dan riset, serta industri sebagai pengembang engineering dan manufaktur. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar pengembangan teknologi pertahanan tidak berhenti pada penguasaan produk, tetapi berkembang menjadi kemampuan nasional yang berkelanjutan.
Henry berharap study visit tidak berhenti sebatas kunjungan fasilitas. “Persoalan nyata dari lapangan harus masuk ke pendidikan dan penelitian, kemudian hasil pendidikan dan penelitian itu dikembalikan menjadi solusi bagi pengguna dan industri,” katanya.
Forum tersebut memperlihatkan satu benang merah bahwa kemandirian teknologi pertahanan bukan sebuah produk tunggal, melainkan ekosistem yang terus belajar dari kebutuhan operasi, pengalaman pemeliharaan, riset akademik, dan kemampuan industri nasional. (red)







Be First to Comment