Mahasiswa S2 FTTP Unhan RI menerima penjelasan dari jajaran manajemen PT INKA saat kegiatan Study Visit di Madiun. (Foto: Ist)
MADIUN, NP – Mahasiswa Program Magister Fakultas Teknik dan Teknologi Pertahanan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (FTTP Unhan RI) melaksanakan Study Visit dan Diskusi Panel di PT Industri Kereta Api (Persero) atau PT INKA, Madiun.
Kegiatan bertema “From Industry to Mission Readiness: Building a Sustainable National Defense Technology Ecosystem” tersebut dirancang bukan sekadar sebagai kunjungan industri. Mahasiswa diajak melihat lebih dekat bagaimana sebuah kebutuhan diterjemahkan menjadi desain, diwujudkan menjadi produk, diuji kualitas dan keandalannya, serta dikembangkan menjadi bagian dari kapabilitas industri nasional.
Dekan FTTP Unhan RI, Prof. Dr. Ir. Henry Setiyanto, S.Si., M.T., menegaskan bahwa mahasiswa perlu melihat industri dari sudut pandang yang lebih luas. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori di ruang kuliah, tetapi juga perlu mengetahui bagaimana sebuah kebutuhan diterjemahkan menjadi desain hingga menjadi produk yang memiliki nilai strategis.

“Mahasiswa jangan melihat kegiatan ini hanya sebagai factory tour. Yang perlu dipahami adalah bagaimana sebuah kebutuhan diterjemahkan menjadi desain, bagaimana desain diwujudkan menjadi produk, dan bagaimana teknologi, engineering, sumber daya manusia, serta organisasi dibangun menjadi sebuah kapabilitas industri,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (23/9/2026).
Menurut Henry, ruang kuliah memberikan fondasi teoritis, sementara industri menunjukkan bagaimana teori tersebut bekerja dalam situasi nyata. Di lapangan, mahasiswa dapat melihat bahwa sebuah produk teknologi tidak lahir hanya dari kemampuan teknis, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan desain, rantai pasok, pengendalian mutu, pengujian, manajemen, hingga kemampuan organisasi.
“Bukan hanya melihat kereta api yang sudah jadi. Justru yang menarik adalah memahami proses di belakangnya. Bagaimana kebutuhan dirumuskan, bagaimana desain dikembangkan, bagaimana komponen dipilih dan dikelola, bagaimana kualitas dijaga, serta bagaimana berbagai disiplin teknologi diintegrasikan,” katanya.
Bagi mahasiswa FTTP, proses tersebut dinilai memiliki relevansi kuat dengan dunia teknologi pertahanan. Sistem pertahanan modern juga dibangun melalui tahapan yang panjang dan kompleks. Sebuah teknologi tidak cukup hanya dibeli atau dioperasikan. Negara harus memiliki kemampuan untuk memahami, mengintegrasikan, memelihara, dan pada akhirnya mengembangkannya secara mandiri.
Karena itu, diskusi panel selama kegiatan juga membahas strategi, teknologi, dan pembangunan ekosistem industri pertahanan nasional. Mahasiswa diajak melihat bahwa mission readiness tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan alat, tetapi juga kesiapan ekosistem yang menopangnya.

Henry menjelaskan, hubungan antara industri kereta api dan teknologi pertahanan tidak semata-mata terletak pada jenis produk yang dihasilkan, melainkan pada pola pembangunan kemampuan industrinya.
“Objek produknya memang berbeda, tetapi logika engineering-nya memiliki banyak kesamaan. Ada kebutuhan, spesifikasi, desain, produksi, pengujian, kualitas, pemeliharaan, sampai pengembangan lanjutan. Pola pikir seperti ini yang perlu dipahami mahasiswa teknologi pertahanan,” jelasnya.
Setelah sesi diskusi dan tanya jawab, mahasiswa mengunjungi fasilitas produksi PT INKA. Dari lantai produksi, mereka dapat melihat secara langsung bagaimana proses engineering diterapkan, bagaimana komponen dikelola, serta bagaimana kualitas produk dijaga dalam sistem industri yang terstruktur.
Pengalaman tersebut memberi gambaran bahwa kemandirian teknologi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk akhir. Lebih dari itu, kemandirian ditentukan oleh kemampuan menguasai proses di balik produk tersebut, termasuk pengetahuan, sumber daya manusia, teknologi, pengujian, pemeliharaan, serta pengembangan berkelanjutan.
Henry berharap mahasiswa membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman kunjungan. Ia mendorong mahasiswa untuk memiliki cara pandang yang lebih mendalam ketika melihat suatu produk atau teknologi.
“Ketika melihat sebuah teknologi, jangan hanya bertanya produknya apa. Tanyakan juga kemampuan apa yang harus kita miliki agar bangsa ini mampu merancang, membuat, menguasai, memelihara, dan mengembangkannya sendiri,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat dan ketergantungan pada teknologi dari luar dapat berubah menjadi kerentanan strategis.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan cendera mata dari Dekan FTTP Unhan RI kepada perwakilan PT INKA dan foto bersama sebagai simbol sinergi antara perguruan tinggi dan industri.
Bagi FTTP Unhan RI, kunjungan tersebut menegaskan bahwa kemandirian teknologi bukan dimulai ketika sebuah produk selesai dibuat, tetapi ketika suatu bangsa mampu menguasai pengetahuan, manusia, proses, dan ekosistem yang melahirkan produk tersebut.
Di PT INKA, mahasiswa tidak hanya melihat sebuah kereta diproduksi. Mereka belajar bagaimana sebuah produk dapat menjadi cermin dari kemampuan sebuah bangsa. (red)







Be First to Comment