Press "Enter" to skip to content

Menuju Swasembada Susu, 200 Sapi Perah Bunting Dikirim ke Bone

Social Media Share

SIAP BERLAYAR – Sapi perah bunting disiapkan untuk dikirim dari Baturraden menuju Bone menggunakan KM Camara Nusantara I.(Foto: Ist)

SEMARANG, NP – Sebanyak 200 ekor sapi perah bunting disiapkan untuk dikirim dari Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTUHPT) Baturraden, Jawa Tengah, menuju Bone, Sulawesi Selatan. Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan pengangkutan melalui KM Camara Nusantara I dengan kebutuhan logistik yang dirancang untuk perjalanan hingga delapan hari.

Persiapan dilakukan tidak sekadar memastikan sapi tiba di daerah tujuan. Pemerintah juga memperhitungkan kondisi ternak selama pelayaran, mulai dari ketersediaan pakan dan air minum, ventilasi kapal, alas ternak, penanganan kotoran, hingga kesiapan tenaga pemelihara dan dokter hewan.

Peninjauan kesiapan kapal dilakukan di Semarang, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan tersebut melibatkan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Badan Karantina Indonesia, PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI), serta Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).

Direktur Pakan Ditjen PKH Kementan, Tri Melasari, mengatakan pengangkutan sapi perah bunting membutuhkan persiapan menyeluruh karena kondisi ternak harus tetap terjaga selama perjalanan. “Yang paling utama adalah memastikan seluruh kebutuhan ternak selama perjalanan terpenuhi, mulai dari pakan, air minum, ventilasi, alas yang aman, hingga penanganan ternak selama berada di kapal. Semua aspek tersebut harus disiapkan dengan baik agar sapi tetap nyaman dan kondisinya terjaga sampai tujuan,” ujar Tri Melasari dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Senin (10/8/2026).

Menurut Tri, kebutuhan logistik akan disesuaikan dengan lama perjalanan dan dilengkapi cadangan untuk mengantisipasi perubahan kondisi selama pelayaran. Persiapan tersebut sekaligus menjadi bagian dari penerapan prinsip kesehatan dan kesejahteraan hewan dalam pengangkutan ternak.

Kepala BBPTUHPT Baturraden, Dani Kusworo, mengatakan aspek teknis kapal harus berjalan beriringan dengan pengelolaan ternak selama perjalanan. Ketersediaan kleder atau petugas pemelihara ternak, dokter hewan, obat-obatan, hingga pengelolaan kotoran menjadi perhatian dalam persiapan pengiriman.

“Kami ingin memastikan sapi yang dikirim bukan hanya sampai di tujuan, tetapi sampai dalam kondisi sehat dan siap beradaptasi di lokasi penerima. Karena itu, kebutuhan pakan, air, obat-obatan, petugas, dan dokter hewan selama perjalanan harus dihitung secara cermat,” kata Dani.

Rute Baturraden–Semarang–Bajoe–Bone menjadi salah satu opsi yang dikaji. Waktu tempuh normal diperkirakan lima hingga enam hari. Namun, seluruh kebutuhan pakan, air, obat-obatan, dan operasional disiapkan untuk sedikitnya delapan hari sebagai langkah antisipasi apabila terjadi perubahan kondisi selama pelayaran.

Sebelum pengiriman, pemerintah bersama pihak terkait juga akan menetapkan trayek dan pelabuhan, menyusun standar operasional prosedur (SOP), membagi tanggung jawab masing-masing pihak, serta melakukan simulasi proses pemuatan dan pembongkaran ternak.

Pengadaan 200 sapi perah bunting tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah mempercepat penambahan populasi sapi perah nasional. Penambahan populasi dinilai penting untuk memperkuat produksi susu dalam negeri di tengah upaya pemerintah meningkatkan ketersediaan susu nasional.

Kementan menilai pengembangan sapi perah tidak cukup hanya dengan mendatangkan atau menyediakan ternak. Keberhasilan program juga ditentukan oleh kesiapan bibit, pakan, kesehatan hewan, transportasi, pemeliharaan, hingga pengelolaan ternak di daerah penerima.

Karena itu, aspek teknis pengiriman terus dimatangkan sebelum pelaksanaan. Pemerintah berharap 200 sapi perah bunting tersebut dapat tiba dalam kondisi sehat dan segera beradaptasi di lokasi penerima, sehingga penambahan populasi benar-benar berkontribusi terhadap peningkatan produksi susu nasional.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi swasembada susu nasional melalui penambahan populasi dan penguatan mata rantai usaha peternakan dari hulu hingga hilir. (red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *