Press "Enter" to skip to content

Britishpedia Angkat Kiprah Prof. Satyanegara dalam Successful People in Indonesia

Social Media Share

Elvira Savitri (kiri), editor Britishpedia penerbit ensiklopedia internasional Successful People in Indonesia, bersama Prof. Satyanegara. (Foto: Ist)

JAKARTA, NP – Prof. Satyanegara, dokter ahli bedah saraf senior di Indonesia, sempat mengajukan pertanyaan kepada editor Britishpedia sebelum sesi wawancara berlangsung di ruang kerjanya di Tzu Chi Hospital (TCH) PIK, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Kok bisa mau bikin feature mengenai saya?” tanya Prof. Satyanegara kepada editor Britishpedia.

Menanggapi pertanyaan tersebut, editor Britishpedia, Elvira Savitri, menjelaskan bahwa terdapat tiga kriteria utama dalam pemilihan narasumber, yakni kontribusi bagi masyarakat luas, dampak terhadap masyarakat, serta komitmen dan konsistensi dalam bidang yang dijalani.

Elvira Savitri (kiri), editor Britishpedia penerbit ensiklopedia internasional Successful People in Indonesia, bersama Prof. Satyanegara dalam sesi wawancara di Jakarta. (Foto: Ist)

Menurut Elvira, kontribusi Prof. Satyanegara di dunia kedokteran, khususnya bedah saraf, telah terlihat nyata selama puluhan tahun. “Kami sudah melakukan riset terlebih dahulu dan melihat kontribusi Prof sangat besar. Bukan hanya dua atau tiga tahun, tetapi hampir enam puluh tahun untuk dunia kedokteran,” katanya.

Britishpedia sendiri berupaya merekam perjalanan hidup tokoh-tokoh yang dinilai memiliki kontribusi luar biasa bagi masyarakat. Melalui karya tahunan bertajuk Successful People in Indonesia, Britishpedia menghadirkan kisah inspiratif para tokoh pilihan dari berbagai bidang.

Sepanjang tahun, tim editor Britishpedia melakukan pertemuan dengan sejumlah figur yang dianggap memiliki perjalanan hidup inspiratif untuk didokumentasikan sebagai bagian dari sejarah. “Kami ingin membagikan ukiran sejarah ini kepada generasi mendatang. Wawancara dilakukan dengan orang-orang terpilih melalui proses yang selektif dan bersifat invitation only. Dokumentasi dalam bentuk buku juga menjadi legacy karena informasi di internet belum tentu memiliki validasi yang jelas,” ujar Elvira.

Elvira Savitri (kiri) bersama Prof. Satyanegara menunjukkan buku Successful People in Indonesia terbitan Britishpedia. (Foto: Ist)

Setelah mendengar penjelasan tersebut, Prof. Satyanegara kembali bertanya apakah dirinya merupakan narasumber tertua yang pernah diwawancarai dalam program Successful People in Indonesia.

Elvira menjelaskan bahwa Britishpedia sebelumnya pernah mewawancarai Mirta Kartohadiprodjo, pendiri Femina Group yang kini berusia 82 tahun. “Beliau sangat senior dan kredibel, sama seperti Prof. Namun Ibu Mirta sudah tidak aktif lagi di media, sementara Prof masih aktif memberikan pelayanan kesehatan di beberapa rumah sakit,” katanya.

Sejak 2013, Britishpedia mendokumentasikan perjalanan hidup tokoh-tokoh sukses yang menginspirasi melalui keberanian, ketekunan, dan dedikasi mereka. Ensiklopedia tahunan Successful People in Indonesia disebut bukan sekadar kumpulan informasi, melainkan bentuk penghormatan bagi sosok-sosok inspiratif.

Sesi wawancara Britishpedia bersama Prof. Satyanegara (kedua kiri) didampingi asistennya di TCH PIK, Jakarta. (Foto: Ist)

“Buku kami didukung representatif di sembilan negara. Salah satunya melalui distribusi ke berbagai perpustakaan nasional di negara-negara tersebut. Buku ini juga kami hibahkan kepada perpustakaan daerah, perpustakaan nasional, universitas, dan ke depan mungkin museum. Kami tidak mengomersialkannya. Nilai tambah bagi narasumber adalah terciptanya koneksi dalam satu platform, baik di dalam maupun luar negeri,” kata Elvira.

Dalam wawancara tersebut, pembahasan utama mengangkat autobiografi Prof. Satyanegara yang memiliki nama Tionghoa Oei Kim Seng. Nama tersebut kemudian diubah menjadi Satyanegara ketika dirinya dipanggil pulang oleh Presiden ke-2 RI Soeharto dari Jepang untuk membantu memajukan dunia kesehatan Indonesia.

Prof. Satyanegara mengaku salah satu momen paling berkesan dalam hidupnya terjadi saat sang ayah melepas keberangkatannya ke Jepang untuk menempuh studi kedokteran pada 1958.

“Ayah saya bilang, ‘Nak, kalau kamu tidak berhasil, pertemuan ini adalah pertemuan terakhir.’ Saya merasa sangat tertekan, tetapi pada saat yang sama juga termotivasi. Kata-kata itu menjadi cambuk bagi saya. Mau tidak mau, saya harus berhasil,” ujarnya.

Kenangan lain yang tak terlupakan adalah saat dirinya kembali ke Indonesia pada 18 September 1972 setelah 14 tahun berjuang di Jepang.

Editor Britishpedia, Elvira Savitri (kanan), saat mewawancarai Prof. Satyanegara di ruang kerjanya di TCH PIK, Jakarta. (Foto: Ist)

“Dengan kibaran Merah Putih di belakang saya ketika menginjakkan kaki di bandara, saya sangat bangga bisa pulang ke Indonesia dan dipercaya menjadi bagian dari tim dokter kepresidenan RI. Namun, tidak ada pujian sedikit pun dari orang tua saya saat itu,” katanya.

Perjalanan hidup dan pencapaian Prof. Satyanegara juga dituangkan dalam sejumlah buku biografi. Buku pertamanya berjudul Ayat-ayat Filosofi Satyanegara yang mengisahkan masa kecil hingga perjalanan studinya di Jepang. Sementara buku terbaru berjudul Senyum Samurai Satyanegara memuat kisah sejak dirinya dipanggil Presiden Soeharto kembali ke Indonesia untuk memajukan dunia kesehatan, khususnya bedah saraf.

Sebagai diaspora Indonesia keturunan Tionghoa yang mendapat amanah langsung dari Presiden Soeharto untuk membangun dunia kesehatan nasional, Prof. Satyanegara menjadi salah satu saksi sekaligus bagian penting dalam sejarah perkembangan bedah saraf Indonesia. (Liu)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *