Press "Enter" to skip to content

KKDN FTTP Unhan RI 2026 Soroti Sinergi Industri Baja dan Pertahanan Nasional

Social Media Share

Diskusi Panel dalam Rangka KKDN FTTP Unhan RI di Krakatau Steel Cilegon.(Foto: Ist)

CILEGON, NP – Fakultas Teknik dan Teknologi Pertahanan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (FTTP Unhan RI) menyelenggarakan Diskusi Panel dalam rangkaian Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) FTTP Unhan RI 2026 di Cilegon, Banten, Kamis (21/5/2026). Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran strategis yang mempertemukan kampus pertahanan, industri baja nasional, unsur keamanan maritim, perguruan tinggi mitra, serta praktisi galangan kapal.

Diskusi panel tersebut dihadiri Dekan FTTP Unhan RI Prof. Dr. Henry Setiyanto, S.Si., M.T., dan Direktur Infrastruktur dan Operasi PT Krakatau Steel Sidik Darusulistyo, Ph.D. Forum dipandu Syachrul Arif, S.Si., M.Si., Ph.D. sebagai moderator dengan menghadirkan narasumber Komandan Lanal Banten Kolonel Laut (P) Catur Yogiantoro, S.E., M.Tr.Hanla., M.M.; Direktur Utama PT Krakatau Baja Indonesia Arief Purnomo, S.T., MBA; Aditya Tejo Widagdo dari PT Krakatau Steel; Prof. Ir. Agus Pramono, S.T., M.T., Ph.D. Tech. dari Program Studi Teknik Metalurgi Fakultas Teknik Untirta; serta Wakil Site Manager PT Caputra Mitra Sejati Fajri Al Fath.

Kegiatan ini menegaskan bahwa kemandirian pertahanan nasional tidak dapat dibangun secara parsial. Industri baja menyediakan fondasi material strategis, galangan kapal memperkuat kapasitas industri maritim, Lanal Banten menjaga keamanan jalur pelayaran vital, sementara perguruan tinggi hadir sebagai motor riset terapan, rekayasa teknologi, dan hilirisasi inovasi pertahanan.

Industri Baja sebagai Fondasi Material Pertahanan

Dalam pemaparannya mengenai proses bisnis dan nilai strategis industri baja nasional, Krakatau Steel menegaskan bahwa baja merupakan mother of industries karena menjadi material dasar bagi berbagai sektor, mulai dari infrastruktur, energi, otomotif, kapal, pipa, jembatan, hingga kebutuhan pertahanan. Industri baja juga dinilai memiliki dampak pengganda besar terhadap rantai pasok dan industri terkait.

Setiap USD 1 pada industri baja disebut dapat menghasilkan multiplier effect sebesar USD 2,5 pada rantai pasok dan USD 13 pada industri terkait. Sementara setiap satu pekerjaan pada industri baja dapat menciptakan efek lanjutan 6,5 pekerjaan pada rantai pasok dan 35 pekerjaan pada industri terkait. Data tersebut menunjukkan bahwa baja bukan sekadar komoditas industri, melainkan fondasi ekonomi strategis bagi daya tahan nasional.

Krakatau Steel Group juga memaparkan roadmap strategis 2025–2029 yang diarahkan pada pemulihan kinerja, optimasi rantai pasok, integrasi operasi, pengembangan klaster baja Cilegon berkapasitas 10 juta ton, inisiasi green steel, serta penguatan fondasi pertumbuhan berkelanjutan. Roadmap tersebut dikaitkan dengan Visi Indonesia Emas 2045, rencana investasi sekitar Rp150 triliun, dampak ekonomi sekitar Rp685 triliun, serta potensi dampak sosial hingga sekitar satu juta pekerja.

Para Narasumber bersama Dekan FTTP dan Direktur Infrastruktur dan Operasi PT. Krakatau Steel.(Foto: Ist)

Dalam konteks pertahanan, produk Krakatau Steel Group disebut telah digunakan pada berbagai proyek strategis nasional, seperti jembatan, kilang, pipa gas, kapal, kendaraan Maung MV, hingga riset round bar untuk aplikasi laras bersama mitra industri. Hal itu memperlihatkan bahwa kemandirian pertahanan sangat bergantung pada kemampuan bangsa dalam menguasai material, manufaktur, standardisasi, dan rantai pasok nasional.

“Kampus pertahanan harus mampu membaca industri strategis sebagai bagian dari sistem pertahanan negara. Baja, kapal, sensor, komunikasi, material maju, dan keamanan siber bukan isu yang berdiri sendiri, melainkan simpul yang saling terhubung dalam membangun kemandirian nasional,” ujar Prof. Henry dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Kamis (21/5/2026).

Selat Sunda dan Keamanan Jalur Pelayaran Vital

Dimensi keamanan maritim juga menjadi perhatian utama dalam diskusi. Komandan Lanal Banten Kolonel Laut (P) Catur Yogiantoro menjelaskan bahwa wilayah kerja Lanal Banten mencakup hampir seluruh pesisir Provinsi Banten, mulai dari Kronjo, Tangerang hingga Tanjung Panto, Lebak, dengan garis pantai sekitar 459,35 kilometer. Kawasan ini bernilai strategis karena menjadi bagian dari jalur pelayaran internasional Selat Sunda dan Alur Laut Kepulauan Indonesia I (ALKI I).

Lanal Banten berperan dalam dukungan logistik dan administrasi unsur TNI AL, patroli keamanan laut, pembinaan potensi maritim, dukungan fasilitas labuh, perbaikan, bekal ulang, perawatan personel, hingga pembinaan pangkalan. Dalam paparannya juga disampaikan berbagai kerawanan maritim, seperti kecelakaan laut, narkoba, illegal activity, pencurian kapal, illegal fishing, penggunaan bom ikan, bencana alam, hingga pencurian mesin perahu.

Contoh operasi yang disampaikan antara lain keberhasilan penggagalan penyelundupan narkotika jenis kokain seberat 179 kilogram di Selat Sunda pada 8 Mei 2022 dengan nilai sekitar Rp1,25 triliun, serta penggagalan penyelundupan sisik trenggiling seberat 780 kilogram pada 6 April 2026. Fakta tersebut menunjukkan bahwa keamanan Selat Sunda tidak hanya berkaitan dengan pelayaran, tetapi juga menyangkut keamanan nasional, ekonomi, lingkungan, dan stabilitas kawasan.

Dalam konteks teknologi, paparan Lanal Banten menekankan pentingnya Traffic Separation Schemes, kerja sama dengan VTS Merak, Site Detection Surveillance, radar, AIS, serta sistem pemantauan kapal asing dan kapal niaga. Hal ini dinilai relevan dengan kebutuhan riset FTTP Unhan RI di bidang sensor, komunikasi, interoperabilitas, data fusion, sistem pengawasan maritim, dan maritime domain awareness.

Riset Material Maju dan Peran Perguruan Tinggi

Dari sisi akademik, Prof. Ir. Agus Pramono, S.T., M.T., Ph.D. Tech. menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam pengembangan riset terapan dan rekayasa teknologi. Perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat produksi pengetahuan, prototipe, roadmap riset, dan hilirisasi teknologi strategis.

Dalam paparannya, penguasaan material maju disebut menjadi salah satu prasyarat penting bagi kemandirian industri maritim dan pertahanan. Teknologi seperti Severe Plastic Deformation, Equal Channel Angular Pressing, Accumulative Roll Bonding, dan Repetitive Press Roll Forming diarahkan untuk menghasilkan material berkekuatan tinggi, ringan, dan adaptif bagi kebutuhan kendaraan tempur, tank, truk pasukan, body armor, serta material anti radar dan anti radiasi.

“Kemandirian pertahanan tidak cukup dibangun melalui pengadaan teknologi, tetapi harus ditopang oleh kemampuan bangsa dalam meneliti, merekayasa, memproduksi, dan menghilirkan teknologi strategis,” ujar Prof. Agus.

Galangan Kapal dan Manufaktur Maritim

Sementara itu, Wakil Site Manager PT Caputra Mitra Sejati Fajri Al Fath memberikan perspektif mengenai praktik manufaktur maritim dan industri galangan kapal. Paparan ini memperlihatkan bahwa pembangunan kekuatan maritim tidak hanya membutuhkan kapal sebagai produk akhir, tetapi juga rantai pasok material, kemampuan desain, pengelasan, perakitan, quality control, manajemen proyek, dan sumber daya manusia teknik yang unggul.

Kehadiran materi dari industri galangan kapal memperkuat pemahaman mahasiswa bahwa kemandirian maritim harus dibangun dari hulu ke hilir. Industri baja, rekayasa material, galangan kapal, sistem komunikasi, dan operasi keamanan laut merupakan satu kesatuan ekosistem yang saling menentukan kesiapan pertahanan nasional.

Keamanan Siber dan Ketahanan Infrastruktur Vital

Aspek keamanan siber juga menjadi bagian penting dalam diskusi. Paparan Krakatau Steel menyinggung strategi teknologi informasi dalam menghadapi bencana dan serangan siber, mencakup analisis risiko, Security Operation Center, KS-CSIRT, Disaster Recovery Center, serta Vulnerability Assessment dan Penetration Testing.

Dalam era industri modern, pabrik baja tidak lagi sekadar fasilitas manufaktur konvensional, melainkan sistem siber-fisik yang terhubung dengan jaringan, data, otomasi, sensor, dan sistem informasi industri. Karena itu, serangan siber terhadap industri strategis dinilai dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan produksi, rantai pasok, keselamatan operasi, dan kesiapan pertahanan.

Dekan FTTP Unhan RI Prof. Dr. Henry Setiyanto, S.Si., M.T. menyerahkan cendera mata kepada Direktur Infrastruktur dan Operasi PT Krakatau Steel Sidik Darusulistyo, Ph.D. usai Diskusi Panel KKDN FTTP Unhan RI 2026 di Cilegon, Banten, Kamis (21/5/2026).(Foto: Ist)

Krakatau Steel juga menampilkan sejumlah tantangan bagi civitas akademika Unhan dalam mendukung industri baja nasional, antara lain perlunya menjembatani doktrin pertahanan dengan realitas manufaktur, formulasi kebijakan proteksi pasar dan TKDN, pemodelan risiko siber-fisik pada smart factory, ketahanan objek vital nasional, Business Continuity Plan darurat, serta hilirisasi riset akademik agar tidak berhenti di laboratorium.

KKDN sebagai Jembatan Ekosistem Pertahanan

Melalui diskusi panel ini, KKDN FTTP Unhan RI menegaskan pentingnya sinergi antara kampus, industri strategis, unsur operasional pertahanan, perguruan tinggi mitra, dan pelaku manufaktur nasional. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan konseptual, tetapi juga memahami keterkaitan antara baja, kapal, material maju, keamanan laut, teknologi pengawasan, dan keamanan siber dalam satu ekosistem pertahanan nasional.

“KKDN ini menjadi ruang belajar strategis agar mahasiswa memahami bahwa pertahanan modern tidak hanya dibangun oleh kekuatan tempur, tetapi juga oleh kekuatan industri, teknologi, riset, logistik, material, data, dan keamanan siber,” ujar Prof. Henry.

Kegiatan ini memperlihatkan bahwa kemandirian pertahanan harus dibangun melalui kemampuan nasional dalam meneliti, merancang, memproduksi, menguji, mengoperasikan, dan memelihara teknologi strategis. Dengan demikian, KKDN FTTP Unhan RI 2026 bukan hanya agenda akademik, tetapi juga bagian dari upaya membangun kesadaran strategis generasi muda pertahanan tentang pentingnya kemandirian industri, penguasaan teknologi, dan ketahanan nasional di tengah perubahan lingkungan strategis global.(red)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *