Sejumlah ekskavator BPJN NTT dikerahkan membersihkan material longsor yang menutup Jalur Trans Flores KM 4+350, Kabupaten Ende, NTT, Kamis (20/8/2026). (Foto: BNPB)
ENDE, NP – Gempa bumi magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Flores, Sabtu (15/8/2026), tidak hanya merenggut korban jiwa dan merusak infrastruktur. Guncangan kuat juga memicu longsor yang menutup total sejumlah titik vital, termasuk Jalur Trans Flores Ende–Bajawa KM 4+350.
Material tanah bercampur batu setinggi hampir 30 meter menimbun seluruh badan jalan. Akses utama yang menghubungkan Ende dan Nagekeo pun lumpuh total, mengganggu mobilitas warga sekaligus mengancam aktivitas ekonomi dan pariwisata di kawasan tersebut.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D., mengatakan penanganan langsung dilakukan menyusul kondisi darurat tersebut.
“Merespons kondisi darurat pada urat nadi perekonomian, pariwisata, dan mobilitas warga, BPJN NTT Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR langsung bergerak cepat melakukan pembersihan jalur,” kata Berton dalam keterangannya, Kamis (20/8/2026).
Tiga ekskavator dikerahkan ke lokasi. Pada hari pertama, sebagian jalur mulai terbuka meski baru dapat dilalui kendaraan roda dua. Dua hari kemudian, akses kendaraan roda empat dan lebih kembali tersedia dengan sistem buka-tutup dan kecepatan terbatas.
Pantauan Tim Bidang Komunikasi Kebencanaan BNPB, Kamis (20/8/2026), menunjukkan seluruh badan jalan telah terbuka. Arus transportasi mulai kembali normal.
Namun, ancaman belum sepenuhnya hilang. Material longsoran masih berada di lereng atas tebing dan sewaktu-waktu dapat kembali runtuh, terutama di tengah aktivitas gempa susulan.
Gempa Susulan Paksa Alat Berat Berhenti
Pembersihan material di tebing kini dilakukan dengan kewaspadaan tinggi. Setiap guncangan memaksa petugas menghentikan seluruh aktivitas alat berat untuk menghindari jatuhnya korban.
Risiko itu kembali terlihat pada Kamis siang. Gempa susulan berkekuatan M 6,0 mengguncang wilayah tersebut selama sekitar 10 detik. Seluruh pekerjaan langsung dihentikan.
Keselamatan personel menjadi prioritas. Setelah kondisi dinilai aman, pekerjaan dapat kembali dilanjutkan secara bertahap.
Kabel Serat Optik Ikut Tertimbun
Dampak longsor tidak berhenti pada terputusnya akses darat. Timbunan material juga sempat menimpa jalur kabel serat optik sehingga mengganggu jaringan komunikasi di koridor Ende–Nagekeo.
Koordinasi lintas sektor membuat layanan telekomunikasi mulai kembali pulih. Pemulihan akses jalan dan jaringan komunikasi menjadi langkah penting untuk mengembalikan aktivitas masyarakat pascagempa.
Kini pekerjaan diarahkan pada penanganan jangka berikutnya. Tim teknis akan memperkuat struktur tebing sekaligus memetakan kebutuhan revitalisasi infrastruktur untuk menekan risiko longsor susulan.
Terbukanya kembali Trans Flores menjadi sinyal awal pemulihan. Jalur yang sempat terkubur material longsor itu kini kembali menjadi penghubung penting bagi warga, distribusi barang, aktivitas ekonomi, dan pariwisata.
Meski jalan telah terbuka, pekerjaan belum selesai. Ancaman gempa susulan dan kondisi tebing yang masih rawan membuat pengawasan serta penguatan infrastruktur harus terus dilakukan.
Trans Flores kembali bergerak. Tetapi kewaspadaan belum boleh berhenti. (red)







Be First to Comment