Press "Enter" to skip to content

MUI Gelar Kongres Umat Islam, Rumuskan Agenda Strategis Menuju Indonesia Emas 2045

Last updated on 29/07/2026

Social Media Share

NarasiPos, JAKARTA –  Majelis Ulama Indonesia (MUI)  menggelar Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII Tahun 2026 yang berlangsung pada 24-26 Juli 2026 di Hotel Bidakara Jakarta. KUII mengusung tema “Umat Bersatu, Bangsa Berdaulat, Negara Kuat” dengan menghadirkan para ulama, cendekiawan, pimpinan organisasi Islam, pejabat negara, akademisi, serta tokoh nasional untuk membahas berbagai isu keumatan, kebangsaan, dan peradaban.

Ketua Umum MUI, KH Anwar Iskandar menegaskan bahwa KUII VIII tidak hanya menjadi forum silaturahmi, tetapi juga forum pengambilan keputusan strategis. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah perlunya penguatan ekonomi syariah nasional melalui pembentukan Danantara Syariah Indonesia sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi umat yang berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan.

“MUI juga mengapresiasi komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam menjalankan ekonomi kerakyatan sebagaimana diamanatkan Pasal 33 UUD 1945,” ujar Kiyai Anwar dalam sambutannya.

Sementara itu, Ketua Steering Committee (SC) KUII VIII, KH Marsudi Syuhud, menegaskan bahwa Kongres Umat Islam Indonesia merupakan amanat organisasi yang diselenggarakan secara berkala sebagai forum musyawarah terbesar umat Islam Indonesia. Tahun ini, KUII VIII diikuti sekitar 87 organisasi Islam yang berhimpun dalam rumah besar Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Kongres tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi antarelemen umat, tetapi juga menjadi ruang strategis untuk mengevaluasi arah pembangunan nasional, menyampaikan gagasan, kritik yang konstruktif, serta merumuskan rekomendasi bagi pemerintah demi kemaslahatan bangsa,” tandasnya.

Di tempat terpisah, Sekretaris Jenderal MUI, Buya Amirsyah Tambunan, menegaskan bahwa seluruh materi dan rekomendasi yang dibahas dalam KUII VIII disusun melalui proses yang matang agar mampu menjawab tantangan umat, bangsa, dan perkembangan global.

Menurut Buya Amirsyah, KUII VIII diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi melahirkan Peta Jalan Umat dan Bangsa Indonesia yang menjadi dokumen strategis sebagai pedoman pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Ia juga berharap seluruh rekomendasi yang dihasilkan bersifat implementatif, dapat dilaksanakan oleh para pemangku kepentingan, serta memberikan manfaat nyata bagi umat, bangsa, dan negara.

“Oleh karena itu, MUI membuka ruang partisipasi yang luas agar hasil kongres benar-benar mencerminkan aspirasi umat Islam Indonesia dan menjadi milik bersama. Melalui KUII VIII, MUI berharap terbangun sinergi yang semakin kuat antara ulama, umara, cendekiawan, dan seluruh komponen bangsa dalam mewujudkan Indonesia yang religius, berkeadilan, berdaulat, dan berkemajuan menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Buya Amirsyah.

Pada pembukaan kongres, sejumlah tokoh nasional hadir memberikan dukungan, di antaranya Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, para menteri Kabinet Merah Putih, pimpinan lembaga negara, tokoh agama, serta unsur TNI dan Polri. Kehadiran mereka menunjukkan besarnya perhatian terhadap peran strategis umat Islam dalam memperkuat persatuan nasional dan pembangunan Indonesia.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *