Press "Enter" to skip to content

Kemenag Jajaki Kerja Sama Pendidikan dan Riset dengan Universitas Tomsk Rusia

Social Media Share

Menteri Agama Nasaruddin Umar berbincang dengan Wakil Rektor Bidang Hubungan Internasional Tomsk State University (TSU), Artem Yurykun, saat audiensi di Jakarta, Rabu (16/9/2026). (Foto: Kemenag)

JAKARTA, NP – Kementerian Agama (Kemenag) terus memperluas akses pendidikan global bagi mahasiswa dan lulusan lembaga pendidikan keagamaan di Indonesia. Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui penjajakan kerja sama di bidang pendidikan dan riset dengan Tomsk State University (TSU), salah satu perguruan tinggi riset terkemuka di Rusia.

Dalam audiensi dengan Wakil Rektor Bidang Hubungan Internasional TSU Artem Yurykun, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan komitmen Kemenag dalam mengawal kualitas pendidikan di Indonesia. Hal itu disampaikan Menag di Jakarta, Rabu (16/9/2026).

“Kemenag turut mengurus masalah pendidikan ini secara serius, termasuk memfasilitasi pembiayaan bagi mahasiswa berprestasi. Salah satunya kami wujudkan melalui program Bantuan Pendanaan Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB),” ungkap Menag, dikutip dari laman resmi Kemenag, Kamis (17/9/2026).

Menag mengatakan Kemenag menaungi basis peserta didik yang sangat besar, mulai dari siswa madrasah, santri, hingga lulusan pondok pesantren. Menurut dia, potensi akademik para peserta didik tersebut sangat besar sehingga perlu didukung dengan akses pendidikan berkualitas di tingkat global.

“Potensi akademik anak-anak kita luar biasa. Kemenag sendiri menaungi basis peserta didik yang sangat besar, mulai dari jutaan siswa madrasah, santri, hingga para alumni pondok pesantren,” terang Menag.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Hubungan Internasional TSU Artem Yurykun menjelaskan bahwa TSU merupakan salah satu universitas terbaik di Rusia. Kampus yang berlokasi di Kota Tomsk tersebut memiliki keunggulan komparatif bertaraf internasional, khususnya dalam pengembangan sains dan teknologi.

Artem mengatakan TSU didukung 12 lembaga riset independen yang telah mapan. “Separuh dari lembaga tersebut berada di bawah Russian Academy of Science, dan separuhnya lagi di bawah Russian Academy of Medical Science and Social Affairs. Tujuan kami adalah menjalin kerja sama yang kuat di bidang pendidikan dan penelitian, apalagi kami memiliki Fakultas Sains dan Teknologi yang sangat komprehensif,” papar Artem.

Dia juga menjelaskan sejumlah riset unggulan yang tengah dikembangkan TSU. Dalam dua tahun terakhir, salah satu fokus penelitian universitas tersebut adalah pengembangan pelapisan antibakteri atau antibacterial coatings untuk konstruksi kelautan, kebutuhan rumah sakit, serta material medis.

Menurut Artem, berbagai riset inovatif tersebut terbuka untuk dikembangkan melalui kolaborasi dengan mitra dari Indonesia.

Tomsk Muslim-Friendly dan Biaya Hidup Terjangkau

Artem juga menyampaikan bahwa Kota Tomsk merupakan destinasi studi yang inklusif bagi mahasiswa internasional, termasuk mahasiswa Muslim dari Indonesia. Secara historis, kata dia, Tomsk memiliki populasi Muslim Sunni yang signifikan, dengan mayoritas berasal dari etnis Tatar.

“Universitas kami terletak tepat di distrik Tatar, sehingga kami memiliki dua masjid yang aktif beroperasi di dekat kampus. Satu masjid hanya berjarak 15 menit berjalan kaki dari gedung utama, dan satu lagi sekitar 25 menit,” urainya.

Selain fasilitas ibadah, Artem menggambarkan Tomsk sebagai kota dengan kehidupan masyarakat yang harmonis. Umat Islam hidup berdampingan dengan penganut Kristen dan sebagian penganut Buddha.

“Kota ini sangat aman, ramah pelajar, dan seperti yang selalu dikatakan oleh para mahasiswa kami dari Indonesia, Tomsk ini sangat Muslim-friendly,” imbuhnya.

Untuk mendukung pengiriman mahasiswa Indonesia ke TSU, Artem mendorong pemanfaatan skema beasiswa pemerintah Federasi Rusia. Saat ini, Rusia menyediakan kuota 300 beasiswa bagi mahasiswa Indonesia. Menurut Artem, tingginya minat terhadap program tersebut membuka peluang peningkatan kuota menjadi sedikitnya 350 beasiswa.

Beasiswa pemerintah Rusia tersebut mencakup biaya kuliah penuh atau tuition fee. Mahasiswa juga memperoleh uang saku sekitar 60 dolar AS per bulan. Artem mengatakan nominal tersebut dapat membantu mahasiswa memenuhi kebutuhan akomodasi karena biaya asrama di Rusia relatif terjangkau.

Untuk kamar asrama bersama yang dihuni sekitar empat orang, biaya akomodasi disebut berada di kisaran 15 hingga 20 dolar AS per bulan. Sementara itu, biaya hidup secara keseluruhan di Tomsk diperkirakan sekitar 200 dolar AS per bulan, atau lebih rendah dibandingkan Moskow dan St. Petersburg.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup mahasiswa, Artem menawarkan skema pendanaan bersama atau co-funding antara pemerintah Rusia dan Kemenag.

“Akan sangat baik jika ada pendanaan bersama. Misalnya, pemerintah Rusia menanggung biaya kuliah, sementara Kemenag memberikan dukungan finansial untuk biaya hidup mahasiswa, seperti skema yang dilakukan oleh pemerintah Vietnam,” usul Artem.

Menanggapi peluang tersebut, Menag menyambut baik rencana kerja sama dengan TSU. Dia mengatakan Kemenag siap menindaklanjuti pembahasan tersebut dan mematangkan persiapan pengiriman mahasiswa Indonesia ke TSU.

“Kami berkomitmen untuk dapat menindaklanjuti peluang ini. Dalam waktu dekat, baik tahun ini maupun tahun depan, Kemenag siap mematangkan persiapan untuk mengirimkan mahasiswa terbaik ke TSU,” tegas Menag.

Menag berharap kerja sama tersebut nantinya tidak hanya melibatkan satu perguruan tinggi keagamaan. Sebelumnya, UIN Raden Intan Lampung telah menjalin kerja sama dengan TSU sejak 2025, khususnya dalam pengembangan sains dan teknologi.

“Kami berharap kerja sama ini bisa diperluas ke Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) lainnya, tidak hanya berhenti di UIN Lampung saja,” harapnya. (red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *