Press "Enter" to skip to content

Di Tengah Pandemi, Hasto: Lansia Kelompok Berisiko Tinggi Tertular

Social Media Share

Kepala BKKBN Dr (HC) dr. Hasto Wardoyo Sp.OG (K). (Foto:ist)

 

JAKARTA, NP – Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan,di tengah pandemi Covid-19, lansia adalah kelompok yang memiliki risiko tinggi tertular. Berdasarkan data,  saat ini ada 11,11 persen lansia terinfeksi Covid-19 dengan  angka kesembuhan 30,54 persen dan kematian 10 persen.

“Untuk itu, mengambil momentum 1 Oktober sebagai Hari Lansia Internasional, BKKBN akan lebih mempertajam program Bina Lansia Tangguh  melalui program utamanya yakni Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, Keluarga Berencana),”tambah Hasto dalam Webinar “Mewujudkan Lansia Tangguh” dalam rangka Hari Lanjut Usia Internasional Tahun 2020, di Jakarta, Kamis (8/10/2020).

Melalui berbagai kegiatan, BKKBN berharap dapat mewujudkan lansia-lansia yang lebih maju, tangguh dan berkualitas. Hal itu penting dilakukan karena berdasarkan data yang dikantongi Hasto, angka kesakitan lansia mencapai 25 persen dari total jumlah lansia. “Lansia perlu perhatian. Harus ada program nyata dan mudah diterjemahkan di lapangan,” ujar Hasto.

Menurut Hasto, BKKBN telah mengembangkan 7 dimensi lansia tangguh sebagai upaya memberdayakan  para lansia menjadi lansia tangguh. Ketujuh dimensi itu adalahspiritual, fisik, emosional, intelektual, sosial kemasyarakatan, professional dan vokasional, serta lingkungan.

“Intervensi BKKBN terhadap  kelompok lansia yang masih sehat, harapannya agar  mereka bisa mandiri, produktif dan mau berderma menciptakan lapangan kerja. Sehingga bonus demografi tahap kedua bisa diraih bangsa ini,” imbuh Hasto.

Hasto menyatakan pandemi Covid-19 bakal memberikan berkah bagi  pemberdayaan ekonomi rakyat.  “Bila semula kita tergantung pada produk impor, kini akan mengalami deglobalisasi. Produk lokal akan berjaya. Ekonomi rakyat bangkit. Masyarakat mandiri,” jelas Hasto.

Terkait dengan kemajuan itu, Hasto berharap para lansia ikut terlibat dalam kegiatan ekonomi. “Seperti di Kabupaten Kulonprogo (DI Yogyakarta). Ketika menjadi bupati, saya kembangkan program e-warung. Warung orang miskin. Di dalamnya terlibat para lansia,” jelas Hasto.

E-warung yang di tahun 2019 berjumlah sekitar 115 warung, dibangun bertujuan untuk mendistribusikan bantuan pemerintah, khususnya kepada warga miskin. Yang ditampung dan dijual di warung ini khusus produk lokal. Terbatas hanya lele, beras dan telur, dipasok oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat. E-warung membawahi  500 KK  miskin, dengan perputaran modal mencapai  50 juta.

Hasto menepis anggapan bahwa lansia sudah tidak produktif.  “Yang tekun bertani adalah lansia. Yang tekun berkoperasi adalah lansia. Lansia masih bisa dipercaya.  Itu pengalaman saya selama menjadi Bupati Kulonprogo,”ungkap Hasto.

Hasto lebih jauh mengatakan, lansia yang kondisi kesehatannya  tidak baik dan ekonomi tak bagus harus di “take over” pemerintah. “Adalah tugas kami (BKKBN) untuk merubah perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap lansia,” tutur Hasto, yang sejak dulu berkeinginan mewujudkan lansia yang sehat, aktif, mandiri dan produktif.

Dalam webinar yang sama,  Richard J. Makalew, Ph.D, Programme Specialist – Population And Development UNFPA Indonesia, mengatakan tingginya fertilitas dan turunnya mortalitas serta adanya perbaikan  fasilitas dan layanan kesehatan disertai kemajuan sosial-ekonomi, sangat  berkontribusi terhadap peningkatan jumlah lansia di suatu negara.

“Pertumbuhan proporsi penduduk lansia yang cepat terjadi di negara yang sosial ekonominya tinggi,” ungkap Richard, dalam makalahnya berjudul “How Facing the Ageing Population and Caring for The Elderly during Pandemics in Global and Indonesia”. Menurut Richard, berdasarkan  kecepatan pertumbuhan penduduk lansia, Indonesia berada di bawah Brazil  tapi di atas Philipina, Timor Leste dan Nigeria. Pada  2050 proporsi penduduk lansia di Indonesia berada pada level   24-25 persen. Saat itu jumlah penduduk lansia  di dunia mencapai 1,1 miliar dari saat ini 702 juta.

“Di negara dengan fertilitas tinggi, terjadi peningkatan lansia di atas 200 persen. Sementara pertumbuhan lansia di Indonesia sekitar 120 persen,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa jika negara memiliki  proporsi penduduk lansia 60 persen maka negara  itu tergolong menua.

Ketua Umum PWRI Prof. Haryono Suyono.(ist)

Richard mengatakan, mulai tahun 2014 semakin banyak lansia yang  hidupnya bergantung pada penduduk usia produktif. “Satu dari tiga perempuan lansia menjadi  kepala keluarga.

Satu dari empat  rumah tangga memiliki lansia. Dan satu di antara dua lansia masih bekerja karena  sistem perlindungan hari tua belum berjalan baik,” tutur Richard.

Terkait pandemi Covid-19, Richard mengungkapkan data bahwa lansia  yang terpapar sebanyak 67.000 laki- laki dan 54.000 perempuan. Usia mereka 60-69 tahun, berasal dari 113 negara. Sementara proporsi lansia yang  positif Covid-19 di Indonesia mencapai  9-10 persen dari total mereka yang terpapar.

Adapun lansia yang sembuh 9 persen. Meninggal dunia 41 persen.Mengambil contoh DI Yogyakarta, Bali dan Jakarta, Richard menjelaskan bahwa di tiga daerah itu lansia yang hidup bersama anak dan keluarga mencapai 56%.

“Kebijakan terkait lansia bisa saja diarahkan pada keluarga yang memiliki lansia,” ujarnya.

Dari mana keluarga lansia mendapatkan penghasilan? UNFPA mencatat, lansia yang masih bekerja mencapai 85 persen laki-laki dan 63 persen perempuan.  Sedangkan yang mengandalkan uang pensiun 5,8 persen.

“Hanya yang punya  punya pensiun inilah yang  ‘secure income’ di masa tua,” jelas Richard.Di tengah Covid-19, manurut Richard, lansia yang hidup sendiri lebih mengalami masalah  besar. Pasalnya mereka terhambat dalam memperoleh informasi akurat, makan dan obat. “Selama kondisi Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB), mereka butuh dukungan komunitas,” ujarnya.

Pada akhir paparannya, Richard mengingatkan para  pengambil keputusan agar tidak menggeneralisasi penanganan lansia. Ini karena proses menuju lansia berbeda setiap orang.

Senada dengan itu, Prof. Haryono Suyono, Ketua Umum Persatuan Wredhatama Republik Indonesia (PWRI) yang memiliki lima juta anggota, pada webinar itu mengatakan pertumbuhan lansia begitu cepat. Jika pada 1970 jumlahnya sekitar 2 juta, saat ini sekitar 23 juta.”Dalam rentang waktu itu, kelompok usia produktif naik tiga kali lipat, namun lansia naik 10 kali lipat,” ujar Haryono, yang mengaku bahwa sebagian besar lansia masih bekerja untuk menghidupi diri dan keluarganya. “Positifnya, dengan bekerja usia  mereka tambah panjang,” tutur Haryono.

Pada paparan berjudul “Menjadi Lansia Sehat, Aktif dan Produktif”, Haryono sekaligus menepis anggapan seolah   tingkat kematian lansia  belakangan ini semata akibat Covid-19.

“Kombinasi penyakit. Bukan hanya covid-19,” tandasnya. Lansia Indonesia yang semakin berusia panjang, sehat, tangguh dan berkualitas, menurut Haryono akan dihadapkan  pada kondisi di mana  tingkat kematian generasi muda yang masih tinggi, seperti pada kasus kematian ibu hamil dan melahirkan.

“Keberadaan mereka akan  diguncang oleh kematian generasi muda yang masih tinggi,” ujar Haryono, dengan meminta agar pemerintah melakukan upaya serius dalam menekan angka  kematian anak, ibu hamil dan generasi muda.

Haryono juga meminta agar lansia menjadi panutan dan ikut menjadi  penggerak masyarakat dalam kegiatan pembangunan di desa. Dalam waktu dekat, atas kerjasama PWRI dengan Perpustakaan Nasional,  pusat informasi di tingkat kecamatan akan kedatangan  jutaan buku dari perpustakaan nasional yang sudah dikemas dalam bentuk digital. Sehingga   kecamatan akan jadi pusat informasi.

“Akhirnya nanti di tingkat desa dan kampung akan ada perpustakaan desa yang dibina bersama BKKBN dan penduduk lansia,” terang Haryono.Ia juga berharap peta keluarga yang diproduksi BKKBN dapat didayagunakan di desa.

“Di Kabupaten Madiun  peta keluaga sudah ditransfer ke dalam HP. Sehingga tiap kepala desa bisa tahu kondisi keluarga yang ada di desanya,” terang Haryono. Dengan mendapat pemberdayaan, indikator keluarga bisa berubah. Dari miskin menjadi sejahtera. “Inilah fungsi peta keluarga, yang bila digunakan bisa mengubah indikator keluarga pra-sejahtera menjadi sejahtera,” pungkas Haryono menutup paparannya.

Launching aplikasi Golantang

Di sela acara webinar, Kepala BKKBN berkesempatan juga melakukan  grand launching aplikasi “golantang”. Golantang  adalah aplikasi berbasis informasi untuk lansia dan keluarga lansia.Tujuannya untuk meningkatkan kegiatan produktif bagi lansia hingga meningkatkan peran serta keluarga dalam membangun lansia tangguh.

Menurut Direktur Bina Ketahanan Keluarga BKKBN, Erisman S.Si, M.Si, aplikasi ini  ditujukan untuk masyarakat umum, lansia, pendamping lansia hingga para pengambil keputusan. Juga dilakukan penandatanganan naskah perjanjian kerjasama  tentang  penyelenggaraan program Bangga Kencana dan Program Bina Lansia oleh Kepala BKKBN dan Ketua Umum PWRI. (rls)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *