Ketua Panitia Halal Bihalal FKPA Babel, Maulana Akbar. (Foto: Ist)
PANGKALPINANG, NP – Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA) Koordinator Wilayah Bangka Belitung (Babel) menggelar acara halal bihalal pada 26 April 2026 di Resto Gale-Gale, Pangkalpinang, Babel. Kegiatan ini diikuti sekitar 60 peserta dari kalangan praktisi tambak udang.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan oleh MC Afdan, dilanjutkan sambutan Ketua Panitia Halal Bihalal, Maulana Akbar, serta sesi ramah tamah antarpeserta.

Ketua Panitia, Maulana Akbar, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai acara ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antarpraktisi.
“Terima kasih atas terselenggaranya acara ini dengan dukungan teman-teman. Selain kita bisa menjalin dan mempererat tali silaturahmi, kita juga berharap agar usaha budidaya di Babel dapat berjalan dengan baik,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (27/4/2026).

Setelah sesi halal bihalal, acara dilanjutkan dengan diskusi panel terkait kepengurusan organisasi. Ketua FKPA Korwil Babel, Rusdi Djamdjoeri, menegaskan pentingnya kegiatan tersebut sebagai ajang silaturahmi sekaligus pembaruan informasi program kerja.
Ia menyebut, forum ini juga menjadi bagian dari persiapan pembentukan kepengurusan baru FKPA Korwil Babel ke depan.
Dalam diskusi, praktisi udang Babel, Andi Yudo Cahyono, mengungkapkan bahwa sektor budidaya udang saat ini masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait penyakit.

“Namun tak boleh patah arang. Penyakit itu pasti ada, tinggal bagaimana kita tetap semangat menghadapinya,” ujar Andi.
Ia menambahkan, sejumlah penyakit yang kerap ditemui di lapangan antara lain Myo, AHPND, dan EHP.
Sementara itu, praktisi senior Bangka, Prawoto, turut memberikan pandangannya berdasarkan pengalaman lebih dari dua dekade di bidang tambak udang. Ia menekankan pentingnya pemahaman dalam pengelolaan air serta karakteristik tiap lokasi tambak.

“Prinsip bertambak itu mengelola air, dan kita tidak boleh melupakan karakteristik masing-masing lokasi. SOP yang diterapkan di satu tambak belum tentu bisa diterapkan di tambak lainnya,” katanya.
Menurut Prawoto, diskusi antarpraktisi menjadi kunci dalam menghadapi berbagai persoalan di lapangan.
“Karena itu, penting bagi kita untuk terus berdiskusi guna mengantisipasi berbagai permasalahan yang ada,” tambahnya. (red)







Be First to Comment