Ajahn Brahm disambut oleh karyawan dan staf Yasmin Hotel, Karawaci, Tangerang saat tiba di lokasi acara talk show dan retreat yang berlangsung selama dua hari. (Foto: Ist)
JAKARTA, NP – Ajahn Brahm, bhikkhu penganut Buddha Theravāda yang dikenal dengan ceramah-ceramahnya yang kerap diselingi humor, kembali mencuri perhatian umat di Indonesia. Dalam setiap penyampaiannya, ia kerap membuat hadirin tertawa terpingkal-pingkal sambil mengapresiasi keramahan, kepedulian, dan ketulusan masyarakat Indonesia yang menurutnya tidak terlepas dari nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara, pandangan hidup, dan pedoman moral bangsa.

“Karakter masyarakat, umat Buddha Indonesia sangat baik, ramah, peduli. Seperti dana makanan pagi ini (di Yasmin Hotel, Karawaci Tangerang), ada ice cream, biscuit, dan lain sebagainya. Banyak sekali dikasih kepada saya. Kalau perut saya semakin gendut, itu juga karena kebaikan mereka,” kata Ajahn Brahm yang disambut gelak tawa umat dalam kegiatan retreat di Yasmin Hotel Karawaci, Jumat (24/4/2026).

Saat ini, Ajahn Brahm menjabat sebagai Kepala Biara Biara Bodhinyana di Serpentine, Australia Barat; Penasihat Spiritual Masyarakat Buddhis Victoria; Penasihat Spiritual Masyarakat Buddhis Australia Selatan; serta Pelindung Spiritual Persekutuan Buddhis di Singapura, dan sejumlah lembaga lainnya.

Kunjungan kali ini merupakan yang keenam ke Indonesia. Dalam rangkaian kegiatannya, Ajahn Brahm mengisi ceramah, talk show, dan retreat di lima kota, yakni Denpasar, Semarang, Bandung, Karawaci, dan Jakarta.

“Pertama kalinya saya ke Indonesia pada tahun 2008. Tapi beberapa kali talk show dan retreat juga di hotel ini (Yasmin). Pada setiap kali kunjungan, saya melihat nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara, nyata pada keseharian masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, nilai Pancasila juga tercermin dalam kebajikan dan semangat saling berbagi masyarakat Indonesia. Dalam salah satu kunjungannya ke sebuah sekolah yang dihadiri sekitar seribu orang, banyak orang tua murid memberikan berbagai bingkisan kepadanya. Pada kesempatan itu pula, Ajahn Brahm membagikan bukunya tentang meditasi.

Dalam bukunya tersebut, ia juga menjelaskan filosofi lima jari manusia sebagai simbol dengan berbagai makna. Ibu jari melambangkan kekuatan dan dianggap paling penting. Jari telunjuk kerap dianggap paling menonjol karena digunakan untuk menunjuk. Jari tengah sering diasosiasikan sebagai simbol kekuasaan atau keangkuhan karena posisinya yang paling tinggi. Jari manis melambangkan pasangan hidup, yang terlihat dari tradisi penggunaan cincin pertunangan.

Sementara itu, jari kelingking disebutnya memiliki makna tersendiri. “Jari kelingking juga claim sebagai yang paling penting. Bahkan jari kelingking sering digunakan untuk korek kotoran di dalam telinga. Tapi kelingking merupakan jari yang paling dekat dengan Tuhan kita. Seperti sikap Anjali (penghormatan dalam kebaktian agama Buddha dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan dada), kelingking yang paling dekat dengan altar dengan Rupang Buddha di atasnya. Begitu pula dengan umat Islam, Kristen, dan lain sebagainya, saat beribadah, kelingking yang paling dekat dengan Tuhannya,” kata Ajahn Brahm saat ditemui usai makan pagi di Yasmin Hotel, Karawaci. (Liu)







Be First to Comment