Pembukaan FGD oleh Warek IV Unhan RI Laksda TNI Buddy Suseto, S.E., M.Si. (Han)., Ph.D.(Foto: Ist)
BOGOR, NP – Di tengah laju digitalisasi yang kian cepat, ancaman siber kini tidak lagi sekadar gangguan teknis, melainkan telah berkembang menjadi ancaman strategis yang dapat menyusup ke data, mengganggu layanan, hingga mempengaruhi pengambilan keputusan negara.
Dalam konteks itu, penyelenggaraan Final Cyber Jawara 2026 dan Focus Group Discussion (FGD) Cyber Defense & Digital Resilience di Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI), Rabu (22/4/2026) dipandang sebagai bagian dari upaya membangun kesiapan pertahanan digital nasional.

“Ancaman siber hari ini bergerak semakin kompleks dan berdampak luas, sehingga membutuhkan kesiapan yang terstruktur dan berlapis,” demikian disampaikan dalam sambutan Rektor Unhan RI yang dibacakan oleh Wakil Rektor IV Unhan RI, Laksda TNI Buddy Suseto.
Tingginya partisipasi dalam kompetisi ini mencerminkan besarnya minat dan potensi talenta siber nasional. Sebanyak 1.005 pendaftar yang tergabung dalam 335 tim dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Cyber Jawara 2026. Setelah melalui seleksi berlapis, hanya 180 peserta dalam 60 tim yang melaju ke tahap final, dengan 49 tim hadir langsung di Unhan RI.
Ketua panitia, Bagus Anggita Yogatama, menjelaskan bahwa final kompetisi dibagi ke dalam tiga kategori, yakni CSIRT, pelajar, dan umum.
“Format ini menunjukkan bahwa pertahanan siber nasional tidak dapat dibebankan hanya kepada institusi teknis, tetapi harus dibangun secara kolektif, mulai dari tim respons insiden hingga masyarakat luas,” ujarnya.

Lebih dari sekadar kompetisi, Cyber Jawara 2026 juga menjadi cermin kondisi kesiapan nasional. Di satu sisi, Indonesia memiliki cadangan talenta siber yang besar. Namun di sisi lain, potensi tersebut belum sepenuhnya didukung oleh ekosistem pembinaan yang berkelanjutan.
Karena itu, kehadiran FGD Cyber Defense & Digital Resilience dalam rangkaian kegiatan ini menjadi krusial. Forum tersebut menyoroti pergeseran ancaman siber yang kini tidak hanya menyasar sistem, tetapi juga ketahanan negara secara menyeluruh.
Isu yang dibahas mencakup ancaman berbasis kecerdasan buatan (AI), risiko hidden code, perlindungan data pribadi, hingga kedaulatan digital dan kemandirian teknologi nasional. Seluruhnya mengarah pada satu kesimpulan: ruang siber telah menjadi arena perebutan kendali, baik atas data, persepsi, maupun kepercayaan publik.
FGD ini juga menegaskan bahwa ketahanan digital tidak semata ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh sinergi antara manusia, proses, dan sistem. Faktor manusia tetap menjadi titik paling rentan sekaligus paling menentukan dalam menjaga keamanan siber.
Dalam hal ini, pembinaan talenta tidak cukup hanya melalui kompetisi atau sertifikasi, melainkan membutuhkan proses berkelanjutan, disiplin, serta kesadaran keamanan yang kuat.
Melalui kegiatan ini, Unhan RI menegaskan perannya sebagai institusi yang tidak hanya menghasilkan wacana, tetapi juga berkontribusi dalam pengembangan talenta, pemikiran strategis, serta kesiapan pertahanan nasional di ruang digital.

menyerahkan sertifikat kepada salah satu Juara Katogori CSIRT.(Foto: Ist)
Kaprodi S2 Rekayasa Pertahanan Siber FTTP Unhan RI, Dr. Ir. H.A. Danang Rimbawa, menekankan pentingnya langkah konkret pasca kegiatan ini.
“Pertanyaan paling penting bukanlah berapa banyak peserta yang hadir, tetapi apa yang akan dilakukan setelah melihat besarnya potensi yang ada. Dalam era serangan digital yang semakin senyap, keterlambatan dalam menyiapkan talenta dan strategi akan membuat kita selalu berada di belakang,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam konteks pertahanan siber, keterlambatan sekecil apa pun dapat berdampak besar.
“Dalam urusan pertahanan siber, satu langkah terlambat bisa menjadi terlalu mahal,” pungkasnya.(red)







Be First to Comment