Press "Enter" to skip to content

Berdayakan Ekonomi Keluarga, BKKBN Luncurkan Aplikasi “Yo Sakurga”

Social Media Share

JAKARTA, NP – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) meluncurkan aplikasi baru “Yo Sakurga” berbasis smartphone untuk memperluas dan mempertajam program pemberdayaan ekonomi keluarga melalui program Pembangunan Keluarga.

Peluncuran aplikasi oleh Deputi Advokasi, Penggerakan dan Informasi BKKBN, Nofrijal,  itu dilakukan di sela berlangsungnya webinar dengan tema “Berusaha Itu Keren”, Kamis (5/11/2020). Webinar ini ditandai juga dengan  penandatangan MoU  tentang pemanfaatan kewirausahaan dalam penguatan program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) antara BKKBN dengan  Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Dilanjutkan dengan penandatangan Perjanjian Kerja Sama antara kedua institusi tersebut, dilakukan secara virtual. Yo Sakurga atau

“Ayo… Usaha Ekonomi Keluarga” merupakan aplikasi milik BKKBN untuk anggota kelompok Sakurga ataupun  Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA). Aplikasi ini untuk  memasarkan produk-produk kelompok usaha ekonomi produktif keluarga.

“Melalui aplikasi ini diharapkan terjadi interaksi antar kelompok UPPKA. Selain itu, aplikasi ini juga untuk mempertemukan kelompok Sakurga atau UPPKA dengan mitra kerja potensial. Dan juga sebagai media belajar dan berbagi informasi,” jelas Nofrijal. Program pemberdayaan keluarga, melalui implementasi kegiatan ekonomi produktif keluarga ini, merupakan perwujudan dari sinergitas antara pemerintah, keluarga, dan masyarakat dalam membangun dan mewujudkan delapan Fungsi Keluarga secara optimal.

“Bila fungsi ekonomi berjalan baik maka akan berfungsi pada fungsi-fungsi keluarga lainnya,” ujar Nofrijal.  Adapun Fungsi Keluarga itu adalah fungsi agama, kasih sayang, perlindungan, sosial budaya, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, pembinaan keluarga, dan ekonomi.

Menurut Nofrijal, pemberdayaan ekonomi keluarga merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan siklus kehidupan manusia. Arahnya pada ketahanan dan kesejahteraan keluarga. Dilakukan melalui pemberian keterampilan kepada keluarga dari sisi usaha ekonomi atau wirausaha maupun pendidikan.

Sasaran  program pemberdayaan ekonomi keluarga adalah  kemandirian melalui peningkatan akses dan peluang usaha, bersumber dari usaha mikro dan soft mikro. Muaranya adalah keluarga berkualitas yang diwujudkan dalam tiga elemen, yakni tenteram, mandiri dan bahagia. Para pelakunya tergabung dalam UPPKA, sebuah kelompok usaha ekonomi produktif keluarga yang anggotanya sebagian besar terdiri dari akseptor KB.

Melalui kelompok usaha ini, para anggotanya akan mendapatkan permodalan,  akses keterampilan, penggunaan teknologi tepat guna, pengelolaan  usaha dengan sistem  sederhana dan terbuka, termasuk  pemasaran. “Semua itu difasilitasi  oleh pemerintah dan swasta,” jelas Nofrijal.  Dalam usaha meningkatkan kemampuan berusaha Kelompok UPPKA, Nofrijal berharap  pelaku usaha ekonomi mapan bersedia menjadi bapak angkat pelaku ekonomi soft mikro. Sehingga terjadi sharing skill dan knowledge.

Terkait Yo Sakurga, Nofrijal mengatakan aplikasi ini juga menyediakan informasi perkembangan program Bangga Kencana khusus dalam bidang ekonomi mikro. “Kami berharap HIPMI bersedia bergerak bersama dalam program pemberdayaan keluarga di bidang ekonomi,” ujar Nofrijal berharap.

“Aplikasi Yo Sakurga” akan menjadi wahana dalam meningkatkan promosi produk, berisi menu-menu inspirasi, menu produk UPPKA seluruh Indonesia, para mitra yang kerjasama dengan BKKBN seperti BRI dan Shoppe. Juga ada menu kalkulator untuk membantu para pembina dalam menghitung harga pokok dan keuangan keluarga,”tutur  Nofrijal.

Ia menambahkan, remaja dewasa dan mereka yang menjelang berkeluarga harus mendapatkan intervensi program-program pemberdayaan ekonomi. Pasalnya,  merekalah pelaku utama bonus demografi yang 10 tahun lagi merupakan puncaknya,  di mana Jakarta saat ini sudah memasuki window of opportunity. BKKBN sekali lagi berharap kepada HIPMI dan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) untuk memberikan  kesempatan kepada keluarga akspetor KB berwirausaha dan mendapat sentuhan  keterampilan dan permodalan.

Nofrijal menyebut dukungan BKKBN terhadap program pemberdayaan ekonomi keluarga sangat kuat. “Peluang kita besar. Ada 25 ribu Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) yang bergerak di 20 ribu desa. Ada 1,2 juta Kader KB terlatih. Dan ada 26 ribu Pusat Informasi dan Koseling (PIK) Remaja/Mahasiswa.  Termasuk  lebih dari 1 juta remaja dan mahasiswa pernah menjadi Duta GenRe (Generasi Berencana) dan remaja.

Nofrijal juga menambahkan bahwa BKKBN saat ini tengah giat mengembangkan   program  ekonomi kerakyatan. Program ini dikembangkan setidaknya di 16 ribu Kampung Keluarga Berkualitas. Di antaranya  500 kampung menjadi percontohan yang langsung diintervensi dengan sungguh-sungguh oleh bupati dan walikota.

Sementara itu, Direktur Pemberdayaan Ekonomi Keluarga BKKBN , Eli Kusnaeli mengatakan bahwa sedikitnya 3,5 juta orang terkena dampak pengangguran akibat pandemi Covid 19.  “Ternyata UMKM mampu berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja.  Dan justru UMKM mampu bertahan dan mampu beradaptasi di tengah pandemi,” ujar Eli dalam paparan tentang “Aplikasi Yo Sakurga: Aplikasi untuk Semua”.

Saat ini terdapat 31.000 Kelompok UPPKA tersebar di Indonesia. “Diharapkan kelompok usaha ini memberi kontribusi kepada kebangkitan ekonomi keluarga. Mengajak keluarga memiliki kecintaan pada kemandirian, belanja diutamakan produk lokal,  bersatu dalam satu kelompok, dan membangun jejaring,” ujarnya menambahkan.

BKKBN juga tengah berupaya agar Kelompok UPPKA bukan hanya membuat produk apa yang mereka bisa. “Sekarang kita ubah agar kelompok buat produk yang berpeluang di pasar. Kalau perlu menciptakan produk,” ujar Eli dalam webinar yang menampilkan juga pembicara Bagas Adhadirga, Sekjen  Badan Pengurus Pusat HIPMI dengan tema “Berusaha Itu Keren”. (rls)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan