Press "Enter" to skip to content

75 Bhikkhu dan 10 Ribu Umat Hadiri Pindapata Nasional Waisak 2026 di Kemayoran

Social Media Share

Menteri Agama Nasaruddin Umar membuka Pindapata Gema Waisak Nasional 2570 B.E/2026 di Kemayoran, Jakarta, Minggu (10/5/2026).(Foto: Ist)

JAKARTA, NP – Sebanyak 75 Bhikkhu Sanggha dan lebih dari 10 ribu umat menghadiri Pindapata Nasional Gema Waisak 2570 B.E/2026. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ritual berdana bagi umat Buddha, tetapi juga diwarnai aksi sosial seperti donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, bantuan sosial, hingga penyebaran ekoenzim sebagai bagian dari rangkaian Vesakha Sananda 2570 B.E.

Menteri Agama Nasaruddin Umar hadir sekaligus membuka kegiatan tersebut di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta, Minggu (10/5/2026). Hadir pula Bhikkhu Sri Subhapañño Mahāthera, Ketua Panitia Pindapata sekaligus Anggota DPR RI Daniel Johan, Dirjen Bimas Buddha Supriyadi, serta perwakilan Gubernur Jakarta.

Dalam sambutannya, Menag Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Pindapata bukan sekadar tradisi keagamaan, melainkan sarana pembelajaran hidup tentang kesederhanaan dan kebijaksanaan. “Hari ini kita tidak hanya menyaksikan sebuah tradisi keagamaan. Kita sedang menyaksikan pelajaran tentang kehidupan. Di tengah hiruk pikuknya kota Jakarta, para bikhu berjalan perlahan di dalam keheningan,” ujarnya dikutip dari laman resmi Kemenag, Senin (11/5/2026).

Ia menambahkan, Pindapata merupakan perjumpaan batin antara yang memberi dan menerima. Dalam tradisi berdana, umat belajar melembutkan hati, sementara dari kesederhanaan para Bhikkhu masyarakat diingatkan bahwa manusia tidak dibesarkan oleh apa yang dimiliki, melainkan oleh apa yang mampu dilepaskan.

Menag juga mengutip Dhammapada syair 118 tentang pentingnya mengulang kebajikan karena buah kebajikan membawa kebahagiaan. “Pesan ini mengingatkan kita bahwa memberi bukan sekadar memindahkan sesuatu dari tangan ke tangan, tetapi juga memindahkan kehangatan dari hati ke hati,” katanya.

Menurutnya, di tengah kehidupan modern yang serba cepat, manusia kerap kehilangan kesempatan untuk memahami dirinya sendiri. Karena itu, Pindapata hadir sebagai momentum untuk berhenti sejenak dan kembali menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga berbagi.

Mengangkat tema “Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri”, Menag menegaskan bahwa jalan mulia tidak cukup dipahami secara konseptual, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. “Nah itulah yang kita kembangkan di Kementerian Agama. Perlunya Kurikulum Berbasis Cinta. Bahkan cinta itu bukan hanya cinta untuk sesama, tapi cinta alam semesta, cinta Tuhan, dan cinta sesama umat manusia yang kita wujudkan dalam bentuk Ekoteologi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa program Ekoteologi dan Kurikulum Cinta menjadi bagian dari kebijakan Kementerian Agama pada periode pemerintahan Presiden Prabowo, yang sejalan dengan Asta Cita Presiden.

Dalam kesempatan itu, Menag juga menyoroti semangat pengabdian para Bhikkhu yang menjalani kehidupan sederhana demi kemanusiaan. Ia bahkan menyebut adanya Bhikkhu yang berjalan kaki dari Bali menuju Candi Borobudur. “Tidak ada kata lelah jika orang itu dimotivasi oleh motivasi spiritual,” ungkapnya.

Menag juga menekankan pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari praktik keagamaan. Menurutnya, kegiatan di ruang terbuka mengandung pesan ekologis yang relevan dengan krisis lingkungan global saat ini. “Saat berjalan di atas tanah dan menghirup udara pagi hari ini kita diingatkan untuk terus menjaga lingkungan dan alam sebagai bagian dari praktik dharma kita,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pindapata Nasional Daniel Johan menegaskan bahwa tema kegiatan tahun ini mengingatkan bahwa praktik spiritual harus diwujudkan dalam tindakan nyata bagi sesama dan bangsa. “Pindapata bukan sekedar sebuah ritual berdana. Tetapi menjadi tradisi luhur yang telah hidup lebih dari 2.500 tahun sejak Buddha Guru kita mencapai penerangan sempurna dan mendirikan Bikkhu Sanggha untuk pertama kalinya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Pindapata Nasional di Jakarta pertama kali digelar pada 2003 di kawasan Kota dan telah menjadi ikon historis kegiatan keagamaan nasional. Sejak 2023 hingga 2025, kegiatan ini terus berlangsung di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, dengan skala dan partisipasi yang semakin besar.

“Tahun ini, kegiatan Pindapata dihadiri oleh sekitar 75 Bikkhu Sanggha. Dan hari ini akan hadir lebih dari 10.000 umat dari berbagai latar belakang dan penjuru yang datang dengan satu niat yang sama, yaitu berbuat kebajikan bersama,” kata Daniel.

Ia menambahkan, seluruh hasil Pindapata akan dikemas menjadi paket bantuan sosial dan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. (red)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *