Press "Enter" to skip to content

Buka Kongres Nasional PDUI, Ketua MPR Dorong Peningkatan Kompetensi Dokter

Social Media Share

JAKARTA, NP- Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengungkapkan dunia kesehatan Indonesia sedang mengalami perubahan dan dinamika yang berlangsung sedemikian cepat.

Salah satu faktor pemicunya adalah hadirnya pandemi Covid-19 yang seakan menyadarkan betapa rentannya ketahanan medis Indonesia dan betapa peliknya menghadapi tantangan dunia medis yang datang secara tiba-tiba dan masif.

Di samping berdampak pada sektor ekonomi dan kehidupan sosial, pandemi Covid-19 secara nyata menggerus sektor kesehatan masyarakat, dan mendorong terjadinya perubahan pada berbagai aspek dan dimensi dalam bidang kedokteran.

“Perubahan ini menuntut adanya penyikapan dari berbagai pemangku kepentingan, mengingat cakupan pelayanan kesehatan di Indonesia masih belum mencapai target yang diharapkan,” ucap Bamsoet saat membuka Kongres Nasional dan Pertemuan Ilmiah Tahunan yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) di Jakarta, Sabtu (12/11/2022).

Hadir antara lain Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr. Adib Khumaidi, Sp.O.T. dan Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI), Dr. Abraham Andi Padlan Patarai, M.Kes.

Sebagai gambaran, Bamsoet mencontoh, angka kematian Ibu dari tahun 2018 memiliki tren meningkat. Bahkan pada tahun 2021, jumlah angka kematian Ibu mencapai 7.389 orang, dimana mayoritas disebabkan oleh Covid-19. Angka kematian Ibu tersebut menunjukkan peningkatan lebih dari 59 persen, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang jumlahnya mencapai 4.627 orang.

“Angka ini juga mengindikasikan bahwa target pemerintah untuk menurunkan angka kematian Ibu ke 217 per seratus ribu kelahiran hidup, belum dapat terealisasi,” ujarnya

Program prioritas pemerintah untuk menurunkan prevalensi stunting dari populasi yang memiliki faktor risiko atau penyakit yang disebabkan kekurangan gizi kronis, juga belum mencapai target yang diharapkan. Menurut hasil studi status gizi Indonesia (SSGI) pada tahun 2021, sambang Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini, angka prevalensi stunting mencapai 24,4 persen. Angka ini masih lebih besar dari target pemerintah sebesar 21,1 persen, dan akan jauh lebih besar lagi jika dibandingkan dengan target tahun 2024 sebesar 14 persen.

Persoalan lain juga dapat dilihat pada data penyakit menular, misalnya penyakit Tuberculosis (TBC). Meskipun pemerintah dan para pemangku kepentingan sudah berupaya keras memberantasnya dengan segala upaya, namun belum membuahkan hasil yang memuaskan.

Bahkan saat ini Indonesia menjadi negara dengan kasus TBC tertinggi ke-3 di dunia setelah India dan China. Jika kita kalkulasi, dalam setiap jam ada sekitar 11 orang pasien TBC yang meregang nyawa.

Bamsoet mengatakan saat ini diperlukan berbagai langkah progresif dan inovatif di bidang layanan kesehatan masyarakat yang meliputi beberapa aspek. Antara lain, perlu adanya transformasi kesehatan pada berbagai tingkatan, mulai transformasi pelayanan kesehatan di tingkat primer, maupun di layanan rujukan di rumah sakit.

Dalam rangka penguatan pelayanan kesehatan di tingkat primer dibutuhkan keterlibatan dan kontribusi dari para dokter umum, sebagai bagian terbesar dari entitas medis yang kita miliki. Saat ini, dengan jumlah 163 ribu dokter umum, tentu akan menjadi sumberdaya potensial yang sangat diperlukan untuk melakukan transformasi pada layanan tingkat primer.

Dalam kerangka membangun sumberdaya medis yang mumpuni itu, salah satu variabel penting yang harus selalu dijaga dan diperjuangkan bersama, adalah peningkatan kompetensi dokter.

“Saya dan kita semua tentunya sangat mengharapkan bahwa PDUI (Perhimpunan Dokter Umum Indonesia), sebagai wadah organisasi tempat bernaungnya para dokter umum, dapat terus berkontribusi untuk menjaga dan meningkatkan kompetensi segenap anggotanya, sehingga dapat membantu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia,” jelas Bamsoet.

Ia menambahkan, dalam rangka menghadapi era disrupsi di tengah lompatan kemajuan teknologi informasi dewasa ini, para dokter umum dapat beradaptasi menghadapi transformasi digital. Para dokter harus memiliki kompetensi untuk secara aktif memberikan layanan telekonsultasi dan telemedicine kepada semua lapisan masyarakat, demi memberikan kemudahan akses kesehatan bagi setiap orang.

“Kemajuan teknologi adalah sebuah keniscayaan yang mustahil untuk kita lawan. Karena itu, satu satunya cara terbaik untuk menghadapinya, hanyalah melalui adaptasi dan inovasi, sehingga kita dapat terus melangkah maju, dan tidak tergilas oleh laju peradaban zaman,” tegas Bamsoet.(dito)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan