Press "Enter" to skip to content

Wamendag Dorong Tiga Pendekatan Strategis Optimalkan Indonesia–UE CEPA

Social Media Share

Wamendag Dyah Roro Esti memaparkan strategi optimalkan Indonesia–EU CEPA di forum KAS–CSIS, Jakarta (4/11). (Ist)

JAKARTA, NP — Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri menegaskan perlunya tiga pendekatan strategis untuk memaksimalkan manfaat Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Upaya ini dinilai krusial guna memperdalam kerja sama perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Uni Eropa (UE) di tengah meningkatnya arus proteksionisme global.

Hal tersebut disampaikan Wamendag Roro dalam forum The 9th KAS–CSIS Germany–Indonesia Strategic Dialogue di Pakarti Centre Building, Jakarta, Selasa (4/11). Kegiatan yang digelar Centre for Strategic and International Studies (CSIS) bersama Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Jerman itu mengusung tema “Trade and Competitiveness in a Changing Global Landscape: Building a Stronger Economic Partnership Between Europe and Indonesia.”

“Kerja sama sektoral, pemberdayaan usaha kecil dan menengah (UKM), serta kemitraan multipihak merupakan tiga pendekatan utama untuk mengoptimalkan CEPA. Ketiganya dapat menjadi fondasi kuat bagi Indonesia dan UE dalam bergerak maju dan menghasilkan manfaat nyata,” ujar Wamendag Roro dalam siaran pers, Rabu (5/11/2025).

Fokus Sektor Strategis

Roro menekankan pentingnya penyelarasan kerja sama di sektor-sektor prioritas yang saling menguntungkan, seperti energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, ekonomi digital, dan manufaktur hijau. Kedua pihak, kata dia, perlu menuju pada kesepakatan standar bersama serta harmonisasi regulasi.

“Dengan berfokus pada sektor strategis, dunia usaha di kedua kawasan akan lebih mudah beroperasi dan bersinergi. Jejaring regulasi yang saling mendukung akan meningkatkan daya saing kolektif serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” jelasnya.

Pemberdayaan UKM dan Kemitraan Swasta

Lebih lanjut, Roro menegaskan pentingnya pemberdayaan UKM melalui peningkatan kapasitas, akses pasar, dan dukungan teknologi. Ia menyoroti perlunya bantuan teknis, fasilitasi perdagangan digital, dan mekanisme inklusi keuangan agar UKM mampu berpartisipasi dalam rantai nilai global.

“Pendekatan ini bukan hanya memberi manfaat bagi perusahaan besar, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui partisipasi ekonomi yang lebih luas,” tambahnya.

Selain itu, Wamendag menekankan peran kemitraan antara pemerintah, sektor swasta, dan akademisi dalam mendorong perdagangan dan investasi berkelanjutan. “Kolaborasi pemerintah-swasta dapat diwujudkan melalui promosi ekonomi hijau, insentif bagi investasi ramah lingkungan, dan penerapan ekonomi sirkular sebagai kebiasaan baru,” urainya.

CEPA sebagai Pilar Kemitraan Strategis

Menurut Wamendag, Indonesia–EU CEPA bukan sekadar perjanjian dagang, melainkan kemitraan strategis berbasis nilai bersama: kerja sama, keberlanjutan, dan pertumbuhan inklusif. CEPA diharapkan menjadi pedoman untuk memastikan kepastian berusaha dan mencegah praktik perdagangan tidak adil.

Kementerian Perdagangan mencatat total perdagangan Indonesia–UE mencapai USD 30,4 miliar pada 2024, dengan tren kenaikan 6,2 persen. UE juga menempati posisi keenam sebagai sumber investasi asing langsung (FDI) terbesar di Indonesia, senilai USD 3,5 miliar.

Dialog tentang Tata Kelola Perdagangan Global

Dalam sesi diskusi panel bertema “Toward the New Global Economic Arrangement: The Role of Multilateral and Regional Arrangements,” Kepala Pusat Kebijakan Perdagangan Internasional Kemendag, Rifan Ardianto, menekankan pentingnya keseimbangan antara legitimasi multilateral dan fleksibilitas bilateral.

“Indonesia tidak menanggalkan sistem perdagangan multilateral, melainkan memanfaatkannya untuk memperluas peluang pasar global,” ujarnya. Indonesia, lanjutnya, memiliki empat prinsip utama dalam kerangka kerja perdagangan internasional: inklusivitas, transparansi, implementasi berbasis aturan, dan orientasi pembangunan.

Acara yang digelar secara hibrida ini dihadiri sekitar 50 peserta luring. Salah satu peserta, Program Associate FPCI Yossi, menyatakan antusiasmenya mengikuti dialog tersebut. “Menarik melihat bagaimana Indonesia dan UE menavigasi ketidakpastian perdagangan global. Strategi kedua pihak layak dicermati,” tuturnya.

Dengan semangat kolaboratif, dialog ini diharapkan menjadi langkah nyata menuju kemitraan ekonomi yang lebih tangguh dan berkelanjutan antara Indonesia dan Uni Eropa.(red)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *