Mentan Amran menegaskan target pengembangan 200 ribu sapi terintegrasi di Kalimantan Tengah. (Foto: Ist)
KALTENG, NP – Kementerian Pertanian memperkuat pengembangan investasi peternakan sapi skala besar di Kalimantan Tengah dengan target populasi mencapai 200 ribu ekor dalam satu ekosistem usaha terintegrasi. Langkah ini menjadi bagian strategi nasional mempercepat swasembada daging dan susu sekaligus membangun sentra peternakan modern berbasis kemitraan.
Program tersebut merupakan agenda jangka panjang pemerintah dalam memperkuat kedaulatan protein hewani menuju Indonesia Emas 2045.
Pengembangan kawasan difokuskan di sentra peternakan terpadu di Kabupaten Sukamara. Kawasan ini dirancang sebagai pusat industri sapi terintegrasi skala besar di lahan sekitar 40.006 hektare, dengan populasi awal sekitar 1.000 ekor dan target pengembangan 100.000–200.000 indukan produktif.
Konsep Integrated Cattle Industry menggabungkan sapi potong, sapi perah, serta industri pengolahan dalam satu kawasan. Model ini diperkuat melalui sistem integrated farming sapi–kelapa sawit, dengan penggembalaan di area perkebunan guna meningkatkan efisiensi pakan sekaligus menghasilkan pupuk organik sehingga menciptakan nilai tambah dan keberlanjutan usaha.
Pengembangan dilakukan melalui sistem penggembalaan modern berbasis penelitian rumput adaptif lahan marginal. Fasilitas pengolahan daging dan susu serta infrastruktur kawasan disiapkan untuk menjamin efisiensi dan keberlanjutan operasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, Indonesia sebagai negara agraris dengan sumber daya alam melimpah harus mampu mengoptimalkan potensi peternakan secara mandiri.
“Indonesia ini negeri agraris. Tanahnya luas, rumput tumbuh, sumber daya ada. Yang penting bagaimana kita kelola dengan baik dan kita buat nyaman para investor untuk bergerak cepat. Saya harap 100 ribu untuk pengembangan dan ditambah 100 ribu plasma, jadi 200 ribu,” ujarnya, Minggu (15/02/2026).
Dalam siaran pers yang diterima redaksi, Selasa (17/2/2026), disebutkan percepatan investasi sangat bergantung pada penyederhanaan regulasi dan kepastian usaha. Pemerintah berkomitmen menciptakan iklim investasi kondusif agar pelaku usaha dapat fokus memperluas populasi ternak dan memperkuat hilirisasi produk.
“Kalau investor itu nyaman, dia akan tanam lebih besar. Tapi kalau tidak nyaman, dua kali maju, dua kali mundur. Sepuluh tahun habis di izin. Ini yang harus kita benahi,” tegasnya.
Untuk memperluas manfaat ekonomi, pemerintah menyiapkan pola kemitraan inti–plasma. Perusahaan besar bertindak sebagai inti yang bermitra dengan peternak rakyat sebagai plasma. Dukungan pembiayaan melalui KUR sektor pertanian serta perlindungan asuransi disiapkan guna menjaga keberlanjutan usaha.
Bupati Sukamara, Masduki, menyampaikan dukungan penuh terhadap investasi tersebut. Menurutnya, sentra sapi terpadu menjadi peluang strategis untuk mengoptimalkan lahan belum produktif sekaligus membuka lapangan kerja.
“Ini kebanggaan bagi Sukamara. Dengan hadirnya sentra sapi terpadu, ekonomi daerah akan tumbuh dan masyarakat memperoleh manfaat langsung,” ujarnya.
Sinergi pemerintah pusat, daerah, dan dunia usaha diharapkan menjadikan pengembangan investasi peternakan di Kalimantan Tengah sebagai model nasional industri sapi terpadu yang modern, inklusif, dan berdaya saing, sekaligus memperkuat fondasi ketahanan pangan Indonesia secara berkelanjutan. (red)







Be First to Comment