Press "Enter" to skip to content

Awali Kunjungan ke Maratua, Menteri Edhy Lepasliarkan 300 Ekor Tukik

Social Media Share

MARATUA, NP  – Mengawali kunjungan kerja ke Maratua, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo bersama melepasliarkan 300 ekor tukik ke perairan pantai Green Nirvana Resort Maratua, Selasa (1/9). Pelepasliaran tukik penyu pada kunjungan kerja perdananya ke Kabupaten Berau Kalimantan Timur ini merupakan bentuk komitmen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam pelestarian biota laut yang terancam punah.

Selain sebagai upaya pelestarian, Menteri Edhy mengharapkan kegiatan pelepasliaran tukik ini dapat menjadi sarana edukasi kepada masyarakat umum tentang pentingnya melestarikan penyu yang telah dilindungi secara nasional dan internasional. Menteri Edhy sampaikan juga rasa terima kasih kepada masyarakat pelestari penyu di Pulau Maratua.

“Saya ucapkan terima kasih terhadap kepedulian masyarakat yang sudah membantu ikut melestarikan penyu, tolong berikan masukan kepada KKP langkah-langkah apa yang bisa dilakukan bersama demi melestarikan penyu di Indonesia” ujar Edhy selepas pelepasliaran penyu, Selasa (1/9).

“Saya minta kepedulian ini terus dipertahankan dan ditingkatkan, negara akan hadir untuk memperkuat kepedulian saudara-saudara,” imbuh Edhy.

Menteri Edhy juga menyampaikan perlunya keseimbangan antara konservasi dan kesejahteraan masyarakat khususnya di pulau terluar Indonesia.

“Selain pelestarian, KKP akan juga memperhatikan ekonomi masyarakatnya, sehingga ada keseimbangan antara konservasi dan perekonomian rakyat. Dua-duanya harus sejalan dengan baik. Sesuai pesan Presiden bahwa pemerintah harus membangun komunikasi dengan nelayan dan membangun sektor perikanan budidaya, saya lihat potensi budidaya di sini sangat besar,” sambung Edhy.

Sejalan dengan Menteri Edhy, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Aryo Hanggono saat mendampingi kunjungan kerja tersebut menyampaikan bahwa pemberian status perlindungan saja jelas tidak cukup untuk memulihkan atau mempertahankan populasi penyu di Indonesia. Menurut Aryo, pengelolaan konservasi yang komprehensif, sistematis dan terukur harus segera dilaksanakan, diantaranya dengan cara memberikan pengetahuan teknis tentang pengelolaan konservasi penyu bagi pihak-pihak terkait khususnya pelaksana di lapangan.

“KKP telah menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Penyu sebagai acuan para pihak dalam upaya konservasi penyu di Indonesia,” terang Aryo.

Aryo juga mengungkapkan, keberadaan penyu di pulau Maratua, Berau bisa dikembangkan sebagai bagian dari ekowisata penyu yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat. Sehingga wisatawan yang datang ke Pulau Maratua tidak hanya menikmati keindahan Pulau Maratua, tetapi ikut serta menjadi bagian dari upaya pelestarian penyu di wilayah ini.

“Secara tidak langsung masyarakat akan merasakan manfaat dari keberadaan penyu, sehingga akan lebih peduli dalam pelestariannya,” ungkapnya.

Ratusan tukik penyu yang dilepasliarkan merupakan sumbangsih Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kaltim dan Yayasan Penyu Indonesia yang berasal dari sekitar Maratua.

Bayu Sandi Ketua Yayasan Penyu Indonesia juga menyampaikan kegembiraannya bisa dikunjungi Menteri Edhy.

“Kehadiran Pak Menteri ke Maratua sungguh luar biasa, ini dapat membesarkan hati kami dan ribuan pelestari penyu lainnya juga masyarakat lokal di sini bahwa negara benar-benar hadir memberikan edukasi secara langsung” ungkap Bayu.

Selama kunjungan ke Pulau Maratua, Berau, Menteri Edhy didampingi oleh Bupati Berau Muharram dan sejumlah pejabat eselon I KKP lainnya.

Sebelum berkunjung ke Maratua, Menteri Edhy telah melakukan lawatan ke Kupang, Nusa Tenggara Timur dan Ambon, Maluku. Dalam kunjungan tersebut Menteri Edhy menyapa para nelayan, pembudidaya ikan dan pelaku usaha.(rls)

 

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan