Ilustrasi – Daging ayam. Nggak cuma enak, ayam juga penuh nutrisi.(Dok)
JAKARTA, NP — Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan bahwa daging ayam yang beredar di Indonesia aman dikonsumsi dan bebas dari residu hormon. Penegasan ini disampaikan menyusul beredarnya informasi menyesatkan mengenai penggunaan hormon dalam budidaya ayam pedaging.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Agung Suganda, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH, I Ketut Wirata, menyampaikan bahwa penggunaan hormon pada ternak ayam telah dilarang dan diawasi secara ketat. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Webinar Keamanan Pangan bertajuk “Keamanan Pangan Asal Hewan: Fakta tentang Residu dan Hormon pada Daging Ayam” Kamis (11/9/2025), di Jakarta.
“Indonesia saat ini telah mengalami surplus produksi daging ayam. Keamanan produk unggas dijamin melalui sistem pengawasan dan pengujian dari hulu hingga hilir,” ujar Agung dalam keterangan tertulis, Minggu (14/9/2025).
Kementan disebut terus memperkuat jaminan mutu daging ayam agar tetap memenuhi prinsip ASUH—aman, sehat, utuh, dan halal. Kegiatan ini mencakup pembinaan, sertifikasi, pemeriksaan, hingga pengujian pada seluruh rantai produksi.
Faktor Genetik, Bukan Hormon
Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB), Trioso Purnawarman, dalam paparannya menjelaskan bahwa pertumbuhan ayam pedaging saat ini ditentukan oleh faktor genetik dan teknologi pemeliharaan yang modern, bukan penggunaan hormon.
“Informasi yang beredar mengenai bahaya hormon pada ayam adalah tidak benar. Saat ini teknologi pemuliaan genetik sudah sangat maju, sehingga ayam tumbuh lebih cepat tanpa bantuan hormon,” ujar Trioso, yang juga anggota Komisi Bibit Ternak Unggas (Ayam Ras).
Hal senada disampaikan praktisi perunggasan Achmad Dawami. Ia menambahkan, untuk mendapatkan ayam pedaging yang berkualitas, peternak fokus pada pemilihan bibit unggul, pakan bernutrisi, sanitasi kandang, serta program vaksinasi yang konsisten.
Peran Keluarga dan Edukasi
Staf Ahli Bidang Penguatan Ketahanan Pangan Keluarga dari Tim Penggerak PKK Pusat, Yane Adrian Bima Arya, menekankan pentingnya peran keluarga, khususnya ibu, dalam memilih pangan hewani yang aman dikonsumsi.
“Edukasi mengenai pentingnya protein hewani dan keamanan pangan menjadi bagian dari program PKK untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga,” kata Yane.
Webinar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-189. Kegiatan digelar secara hybrid dan diikuti oleh lebih dari 1.000 peserta dari unsur kementerian/lembaga, pemerintah daerah, asosiasi pelaku usaha dan profesi, serta Tim Penggerak PKK se-Indonesia.
Melalui momentum ini, Kementan menegaskan komitmen untuk memperkuat pengawasan keamanan pangan asal hewan, melindungi konsumen dari hoaks, serta mendorong peningkatan konsumsi protein hewani dalam rangka mendukung pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.(red)







Be First to Comment