Press "Enter" to skip to content

UIN Jakarta Perkuat Dakwah Digital dan Konsep Masjid Ramah Anak

Social Media Share
Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Masjid Al-Hidayah, Pamulang Permai 1, Tangerang Selatan, Sabtu (7/11/2026). (Foto: Ist)

 

TANGSEL, NP – Penguatan literasi dakwah digital dan pengembangan masjid ramah anak menjadi perhatian Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bersama pengurus dan remaja Masjid Al-Hidayah, Pamulang Permai 1, Tangerang Selatan, Sabtu (7/11/2026).

Ketua Program Studi Magister dan Program Studi Doktor KPI, Dr. Khaeron Sirin, M.A., mengatakan, perkembangan teknologi dan media sosial harus diimbangi dengan kemampuan memahami serta memilah informasi. Menurutnya, dakwah digital tidak cukup hanya mengandalkan keterampilan menggunakan teknologi, tetapi juga membutuhkan tanggung jawab dalam menyampaikan pesan keagamaan.

“Dakwah digital membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan memanfaatkan teknologi. Para santri perlu memiliki literasi yang baik dalam memilih sumber informasi, memahami konteks pesan, dan memastikan bahwa materi keagamaan yang disampaikan memiliki landasan yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Khaeron dalam keterangannya, Minggu (8/11/2026).

Pesan tersebut menjadi salah satu landasan kegiatan bertema “Penguatan Literasi Dakwah Digital dan Manajemen Masjid: Sinergi Pengurus dan Remaja Masjid”. Melalui program ini, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Jakarta berupaya mempertemukan perspektif akademik dengan kebutuhan praktis pengelolaan masjid.

Selain membangun kecakapan bermedia digital, kegiatan juga menyoroti pentingnya pendekatan komunikasi yang sesuai dengan karakter generasi muda, khususnya anak-anak. Masjid diharapkan tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga ruang pendidikan, interaksi sosial, dan pembentukan karakter.

Pendekatan tersebut dipaparkan Dodo Murtado, magister KPI, melalui materi “Transformasi Dakwah dan Syiar Islam Berbasis Digital”. Ia memperkenalkan konsep gamifikasi, yakni pemanfaatan unsur permainan untuk meningkatkan keterlibatan anak dalam berbagai kegiatan masjid.

Dodo mencontohkan program STAM (Shaf Terdepan Anak Masjid) dan SEDH (Sedekah) yang dikembangkan di Masjid Al Marjan. Program tersebut memanfaatkan presensi berbasis kartu QR, karakter robot, tantangan harian, serta sistem poin dan penghargaan untuk membangun kebiasaan positif anak.

“Masjid perlu membangun pendekatan komunikasi yang mampu menjembatani perbedaan karakter antargenerasi. Anak-anak perlu mendapatkan ruang untuk belajar, berinteraksi, dan mengenal lingkungan masjid melalui pengalaman yang menyenangkan, tanpa menghilangkan nilai-nilai kesakralan ibadah,” jelas Dodo.

Menurutnya, penggunaan unsur permainan bukan untuk mengurangi nilai ibadah, melainkan menjadi sarana pendekatan agar anak lebih dekat dengan masjid. Dengan demikian, kecintaan terhadap masjid dapat tumbuh melalui pengalaman positif sejak dini.

Aspek lain yang menjadi perhatian adalah penguatan manajemen masjid. Shobihul Hujjah, S.Sos.I., M.I.Kom., menjelaskan tiga pilar utama pengelolaan masjid, yakni idarah atau administrasi, imarah atau pemakmuran masjid, serta ri’ayah atau pemeliharaan fasilitas.

Ia menilai pemanfaatan teknologi digital dapat membantu pengurus meningkatkan efektivitas pengelolaan, mulai dari pendataan jemaah, penataan administrasi, transparansi keuangan, hingga penyampaian informasi kepada masyarakat.

“Transformasi digital bukan sekadar tentang teknologi, melainkan tentang meningkatkan pelayanan dan menjaga amanah,” tegasnya.

Sementara itu, praktisi media digital dan manajemen proyek Iqbal Maulana, S.E., menguraikan strategi pengelolaan media sosial masjid melalui empat tahapan, yakni perencanaan, produksi konten, distribusi, dan evaluasi.

Menurutnya, pengelolaan media sosial membutuhkan perencanaan yang terarah. Pengurus masjid dapat menyusun kalender publikasi, mengembangkan beragam materi komunikasi, serta mengevaluasi jangkauan dan keterlibatan audiens.

Dalam proses tersebut, remaja masjid didorong mengambil peran lebih aktif, terutama dalam dokumentasi kegiatan, produksi konten kreatif, dan pengelolaan kanal komunikasi digital. Keterlibatan generasi muda diharapkan dapat memperkuat komunikasi antara pengurus masjid dan jemaah.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Dr. Cecep Castrawijaya, M.A.; Ketua DKM Al-Hidayah H. Muhammad Natsir beserta jajaran pengurus; Muhammad Fanshoby, M.Sos.; Tatum Tivani, M.Pd.; Muammar Aditya, M.Ak.; Prof. Dr. H. M. Yakub, M.A.; serta Dr. Hamidullah Mahmud, M.A. (red)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *