Ariyanto Maring pemain Semen Padang yang bernomor punggung 98 mengangkat kedua tangannya tanda bersyukur usai menyamakan kedudukan 1-1 bagi Semen Padang saat menghadapi Adhyaksa FC Bekasi pada laga lanjutan Liga Pegadaian Championship di Stadion Madya Senayan Jakarta, Minggu (8/11/2026). Foto : WahyuWepe/NarasiPos.com
JAKARTA, NP – Pelatih Kepala Semen Padang FC, Stefano Cugurra alias Teco, tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya usai tim berjuluk Kabau Sirah hanya mampu bermain imbang 1-1 saat menghadapi Adhyaksa FC Bekasi dalam lanjutan Pegadaian Championship di Stadion Madya Senayan, Jakarta, Minggu (8/11/26) malam.
Dalam sesi konferensi pers usai pertandingan, Teco secara terbuka melayangkan kritik terhadap penyelesaian akhir (finishing) para pemainnya. Ia menilai Semen Padang sebenarnya tampil lebih dominan dan memiliki banyak peluang emas, terutama di babak kedua, untuk mengunci kemenangan.
“Kita pasti kecewa sama hasil ya hari ini. Kita cuma dapat satu poin ini. Menurut saya, kita main lebih bagus daripada yang lawan. Kita punya banyak peluang di babak kedua buat bisa cetak gol dan menang, tapi hari ini kita harus terima hasil seri,” ungkap Teco.
Senada dengan sang pelatih, perwakilan pemain Semen Padang FC, Arimaring, turut menyampaikan permohonan maaf kepada para suporter. Ia mengakui bahwa kegagalan mengamankan tiga poin penuh merupakan kerugian besar bagi tim yang seharusnya bisa meraih kemenangan demi memperbaiki posisi di klasemen.
Menanggapi pertanyaan awak media terkait banyaknya peluang yang terbuang dan pengambilan keputusan pemain di depan gawang, Teco menegaskan bahwa para pemainnya sebenarnya sudah menjalankan instruksi taktik yang diberikan. Kendati demikian, masalah kualitas ketenangan dalam mengeksekusi peluang menjadi pekerjaan rumah yang mendesak untuk segera diselesaikan.
“Bukan pemain tidak ikut instruksi, cuma kualitas buat finishing harus lebih tenang. Harus lebih tenang buat punya kualitas lebih bagus buat cetak gol,” tegas juru taktik asal Brasil tersebut.
Sebagai langkah antisipasi ke depan, Teco memastikan tim pelatih akan menggenjot intensitas latihan, khususnya dalam aspek penyelesaian akhir dan ketajaman lini serang. Evaluasi menyeluruh ini diharapkan mampu mendongkrak performa tim agar tampil lebih tajam dan kerja keras di sisa kompetisi.
“Pasti kita harus latihan lagi. Dalam sepak bola, semua tahu, bisa kalah, bisa seri, bisa menang. Siapa pun yang hasil datang hari ini, kita harus terima. Kita harus kerja lebih keras di dalam latihan, perbaikan diri, pemain harus perbaikan diri, dan kita harus latih finishing buat kita bisa cetak gol lebih di liga,” pungkasnya.
Dalam laga tersebut, Adhyaksa FC tampil tenang dan sabar. Mengandalkan blok pertahanan rendah yang rapat, tim tamu melancarkan serangan balik cepat (counter-attack) yang efektif mengeksploitasi celah di lini belakang Semen Padang.
Puncaknya pada menit ke-24, kelengahan lini pertahanan Kabau Sirah harus dibayar mahal. Memanfaatkan ruang tembak tanpa pengawalan berarti di dalam kotak penalti, Fabio Azka melepaskan sepakan klinis yang merobek jala gawang Semen Padang, mengubah skor menjadi 1-0 untuk keunggulan tim tamu.
Tertinggal satu gol membuat determinasi anak-anak asuh Semen Padang meningkat, namun bentuk permainan masih jauh dari kata memuaskan. Serangan lambung jarak jauh yang terus diperagakan kembali kandas di kaki pemain bertahan Adhyaksa FC.
Kendati demikian, kerja keras Kabau Sirah akhirnya membuahkan hasil krusial di penghujung paruh pertama. Tepat pada menit ke-45, kemelut di muka gawang Adhyaksa FC berhasil diselesaikan dengan cerdik oleh Risman Maring. Sepakan kerasnya merobek jala gawang lawan, sekaligus menutup paruh pertama dengan skor sama kuat 1-1.
Sejak peluit kick-off dibunyikan di bawah cuaca ibu kota yang gerah, aroma ketegangan langsung terasa di atas rumput hijau Stadion Madya. Semen Padang yang di atas kertas diunggulkan justru tampak kesulitan mengembangkan alur permainan terbaiknya. Koordinasi antar-lini, mulai dari barisan pertahanan, aliran bola di lini tengah, hingga ketajaman lini serang, terlihat berjalan kaku dan kurang padu.
Dalam tekanan psikologis pendukung sendiri, skuad asuhan pelatih Teco, kerap menemui jalan buntu. Alih-alih membangun serangan dari kaki ke kaki dengan kreativitas layak tim bertabur bintang, aliran bola justru sering kali buntu dan hanya mengandalkan skema umpan-umpan jauh (long ball). Strategi monoton ini dengan mudah dibaca oleh barisan pertahanan Adhyaksa FC yang tampil rapat dan disiplin memotong setiap duel udara.
Sebaliknya, Adhyaksa FC tampil tenang dan sabar. Mengandalkan blok pertahanan rendah yang rapat, tim tamu melancarkan serangan balik cepat (counter-attack) yang efektif mengeksploitasi celah di lini belakang Semen Padang.
Puncaknya pada menit ke-24, kelengahan lini pertahanan Kabau Sirah harus dibayar mahal. Memanfaatkan ruang tembak tanpa pengawalan berarti di dalam kotak penalti, Fabio Azkamelepaskan sepakan klinis yang merobek jala gawang Semen Padang, mengubah skor menjadi 1-0 untuk keunggulan tim tamu.
Tertinggal satu gol membuat determinasi anak-anak asuh Semen Padang meningkat, namun bentuk permainan masih jauh dari kata memuaskan. Serangan lambung jarak jauh yang terus diperagakan kembali kandas di kaki pemain bertahan Adhyaksa FC.
Kendati demikian, kerja keras Kabau Sirah akhirnya membuahkan hasil krusial di penghujung paruh pertama. Tepat pada menit ke-45, kemelut di muka gawang Adhyaksa FC berhasil diselesaikan dengan cerdik oleh Risman Maring. Sepakan kerasnya merobek jala gawang lawan, sekaligus menutup paruh pertama dengan skor sama kuat 1-1.
Memasuki paruh kedua, Semen Padang mencoba keluar dari tekanan dengan mengubah pola permainan. Aliran bola bawah mulai diperagakan dengan tempo yang lebih berani. Perubahan taktik ini sempat melahirkan sejumlah peluang emas di jantung pertahanan lawan. Namun, ketangguhan penjaga gawang Adhyaksa FC, Dimas Fani, menjadi tembok tebal yang mementahkan setiap peluang emas Kabau Sirah.
Melihat situasi kebuntuan yang berlanjut, juru taktik Semen Padang melakukan penyegaran strategi dengan memasukkan Alwi Slamat dan Stefano Lilipaly, dengan menarik keluar Hargianto dan Rahmat guna meningkatkan kreativitas lini tengah.
Ironisnya, meski Adhyaksa FC harus kehilangan pemain hingga tersisa 9 orang di lapangan akibat akumulasi kartu, keunggulan kuantitas yang masif ini gagal dimanfaatkan secara maksimal oleh Semen Padang. Serangan demi serangan yang dibangun patah di sepertiga akhir lapangan akibat buruknya pengambilan keputusan dan rapatnya koordinasi pemain lawan yang memilih bertahan total.
Hingga wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, skor tetap tidak berubah 1-1. Kegagalan menaklukkan 9 pemain lawan ini menjadi evaluasi serius bagi Kabau Sirah jika ingin berbicara banyak di peta persaingan musim ini.(WahyuWepe)







Be First to Comment