PT Megah Safitri Aviasi, bersama Annisa Bhikuning (tengah), dosen Teknik Mesin FTI Universitas Trisakti, dan Sentot Novianto (kiri) selaku moderator dalam Seminar Ilmiah tentang inovasi teknologi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar melalui proses pirolisis. Kegiatan yang diselenggarakan Pusat Studi Industri Berkelanjutan (PSIB) FTI Usakti bekerja sama dengan PT Megah Safitri Aviasi ini merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-61 Universitas Trisakti. (Foto: Ist)
JAKARTA, NP – Teknologi pirolisis yang mampu mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif menjadi salah satu inovasi yang dibahas dalam seminar ilmiah memperingati Dies Natalis ke-61 Universitas Trisakti (Usakti). Namun, di balik potensinya sebagai solusi persoalan lingkungan, penerapan teknologi tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait kelayakan ekonomi, ketersediaan bahan baku, perizinan, hingga efektivitas hasil pengolahan.
Seminar yang berlangsung di Jakarta, Kamis (5/11/2026), menghadirkan dua pembicara, yakni Founder PT Megah Safitri Aviasi Sigit Samsu dan dosen Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri (FTI) Usakti Annisa Bhikuning. Diskusi berlangsung interaktif dengan sejumlah pertanyaan peserta, mulai dari efektivitas teknologi, legalitas, ketersediaan sampah plastik, hingga kemungkinan pemanfaatan jaminan atau collateral dalam pembiayaan perbankan.
Salah satu isu yang mengemuka adalah kemungkinan penerapan teknologi pirolisis pada proyek Aero Villa di kawasan wisata Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten. Kawasan tersebut merupakan bagian dari Aero Cluster, yang didukung keberadaan Bandara Salakanegara dengan panjang landasan pacu sekitar 600 meter. Landasan pacu bandara tersebut telah selesai diaspal ulang pada 2023. Bandara yang beroperasi lebih dari 20 tahun itu berada di bawah pengelolaan PT Banten West Java (BWJ), pengelola kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung.
Menanggapi pertanyaan mengenai penerapan pirolisis di kawasan tersebut, Sigit menjelaskan bahwa proyek Aero Villa masih menghadapi kendala perizinan. Meski demikian, penerapan teknologi pengolahan sampah plastik sebenarnya dapat dilakukan secara bersamaan dengan proses pengurusan izin. Persoalan lainnya adalah ketersediaan bahan baku yang dinilai belum mencukupi untuk mendukung operasional dalam skala besar.
“Pirolisis bisa dipergunakan untuk Aero Villa, tapi masalah lainnya mengenai ketersediaan bahan baku plastik. Ternyata, hitung-hitungannya tidak feasible. Kecuali, kita menerapkan dengan skala kecil dan nilai ekonomisnya bisa tercapai,” kata Sigit.
Menurutnya, pengolahan sampah plastik melalui teknologi pirolisis memiliki potensi untuk mengurangi beban lingkungan sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi. Teknologi ini bekerja melalui proses pemanasan material plastik tertentu dalam kondisi minim atau tanpa oksigen sehingga menghasilkan produk berupa minyak, gas, dan residu.

Meski demikian, keberhasilan penerapannya tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknologi. Perhitungan keekonomian, kesinambungan pasokan bahan baku, serta kepastian pasar bagi produk hasil pengolahan harus menjadi pertimbangan utama sebelum teknologi tersebut diterapkan secara luas.
Aspek keekonomian juga menjadi perhatian peserta seminar. Ketua Umum Ikatan Alumni Fakultas Teknologi Industri (IKA FTI) Usakti, Sarwono Adi Wibowo Wijarso, mempertanyakan efektivitas investasi teknologi pirolisis, terutama jika hasil pengolahannya tidak memberikan keuntungan yang sebanding dengan biaya operasional.
Menjawab pertanyaan tersebut, Sigit mengatakan penerapan teknologi pirolisis harus ditempatkan sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh atau waste management. Sejumlah daerah, seperti Bali, Banjarnegara, Jawa Tengah, dan Padang, Sumatera Barat, telah melakukan uji coba penerapan teknologi tersebut.
Namun, implementasi yang berjalan saat ini sebagian besar masih berada pada skala kecil. Untuk pengolahan dalam kapasitas besar, diperlukan sistem pemanasan dan teknologi pendukung yang lebih kompleks, tidak lagi sekadar mengandalkan tabung gas elpiji tiga kilogram.

“Sebagian sudah melaksanakan pirolisis. Sampai sejauh ini, implementasinya untuk skala kecil. Kalau skala besar, panasnya bukan dari tabung gas elpiji tiga kilogram lagi, melainkan dengan sistem kombinasi,” ujar Sigit.
Ia mencontohkan pengembangan sistem pengolahan sampah yang dilakukan di laboratorium kawasan BSD. Tahapan awal dimulai dengan pemilahan sampah untuk menentukan jenis material yang dapat diolah melalui pirolisis maupun teknologi lainnya.
Menurut Sigit, tidak semua jenis sampah dapat diproses menggunakan pirolisis. Sampah yang tidak dapat diolah melalui mekanisme tersebut membutuhkan teknologi alternatif, salah satunya gasifikasi, yakni proses konversi bahan bakar padat menjadi gas melalui reaksi termokimia.
“Karena sistemnya waste management, ada proses pemisahan. Sampah yang benar-benar tidak bisa diolah dengan pirolisis, melainkan dengan gasifikasi. Hasil pirolisis bisa masuk untuk kelompok pengguna dan tidak bisa dijual secara umum. Penjualan melalui koperasi, yang anggotanya boleh melakukan jual beli atau menggunakan sendiri,” jelasnya.
Diskusi tersebut memperlihatkan bahwa inovasi pengolahan sampah plastik tidak hanya membutuhkan kesiapan teknologi, tetapi juga perencanaan bisnis, tata kelola distribusi hasil produksi, serta kepastian ketersediaan bahan baku. Dengan demikian, penerapan pirolisis diharapkan tidak berhenti sebagai proyek percontohan, melainkan dapat dikembangkan menjadi solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan memiliki nilai ekonomi. (Liu)







Be First to Comment