Press "Enter" to skip to content

Mentan Siapkan Ekosistem Jagung-Peternakan, Rp3,7 Triliun Dialihkan untuk Petani

Social Media Share
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat menjelaskan skema penguatan ekosistem jagung dan peternakan untuk menjamin ketersediaan bahan baku pakan serta melindungi peternak dari gejolak harga, dalam kunjungan kerja di Blitar, Jawa Timur. (Foto: Ist)

 

BLITAR, NP – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyiapkan sistem terintegrasi untuk menjamin ketersediaan jagung sebagai bahan baku pakan sekaligus melindungi peternak dari gejolak harga. Melalui kolaborasi petani jagung, peternak, koperasi, dan Perum Bulog, kelebihan produksi jagung akan diserap dan disimpan sebagai cadangan untuk memenuhi kebutuhan peternak saat memasuki musim paceklik.

Mentan Amran mengatakan, skema tersebut merupakan bagian dari pembangunan ekosistem peternakan dari hulu hingga hilir. Program ini sekaligus menjadi tindak lanjut atas aspirasi lebih dari 1.000 perwakilan peternak dari berbagai daerah yang sebelumnya datang ke Jakarta untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi sektor peternakan.

“Kita hari ini tunaikan janji. Setelah peternak seluruh Indonesia, perwakilannya ada seribu lebih, datang ke Jakarta menemui kami, kita rencanakan ke depan membangun ekosistem peternak. Kita mulai dari hulu sampai hilir,” ujar Amran saat kunjungan kerja di Blitar, Jawa Timur, Kamis (5/11/2026).

Dalam skema tersebut, petani jagung akan terhubung langsung dengan koperasi dan peternak sebagai bagian dari rantai pasok. Ketika produksi melimpah, kelebihan hasil panen akan dibeli Bulog dan disimpan melalui mekanisme resi gudang. Stok tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan kembali oleh peternak ketika pasokan terbatas, terutama pada periode September hingga November.

“Ini tanam jagung, kemudian offtaker-nya peternak. Kalau berlebih jagungnya dibeli oleh Bulog, menjadi resi gudang. Begitu masa paceklik, September, Oktober, November, itu boleh diambil kembali oleh peternak yang mendampingi dari Bulog. Jadi nanti ini suatu ekosistem, ini solusi permanen,” jelasnya.

Amran menegaskan, koperasi menjadi salah satu penggerak utama dalam sistem tersebut. Koperasi yang sudah berjalan tidak perlu dibubarkan atau diganti, melainkan diperkuat agar mampu menjembatani kebutuhan peternak dengan produksi jagung petani.

Melalui pola kemitraan ini, pemerintah ingin memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus menjamin ketersediaan bahan baku pakan bagi peternak.

Dukungan pemerintah terhadap pasokan jagung tersebut mulai dirasakan pelaku usaha peternakan. Ketua Koperasi Anjuk Ladang Makmur Kabupaten Nganjuk, Zainuddin, mengapresiasi bantuan jagung yang diterima koperasinya melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

“Alhamdulillah dengan hadirnya Bapak Amran, sebagai bapak kami para petani dan peternak, sangat membantu sekali,” kata Zainuddin.

Menurut dia, bantuan jagung SPHP tahap pertama dan kedua sangat membantu peternak menghadapi lonjakan harga bahan baku pakan di pasaran. Saat ini, harga jagung di pasaran telah mencapai Rp7.800 per kilogram, sedangkan jagung SPHP yang diterima peternak dibanderol Rp5.500 per kilogram.

“Harga pakan pabrikan selalu naik dan naik terus tanpa ada kompromi. Jagung di luaran hari ini sudah tembus Rp7.800 per kilogram, dengan jagung SPHP hanya Rp5.500 per kilogram. Ini sangat membantu kami selaku peternak,” ujarnya.

Zainuddin berharap dukungan pasokan jagung tersebut terus berlanjut, termasuk melalui penambahan kuota pada tahun mendatang. Ia juga meminta agar kenaikan harga pakan diimbangi dengan harga jual telur yang layak sehingga keberlangsungan usaha peternak tetap terjaga.

“Harapan kami tentu yang pertama, karena harga pakan pabrikan selalu naik, kalaupun naik diimbangi dengan harga telur juga diangkat. Tadi sudah disampaikan arahan Bapak Menteri bahwa harga telur tidak boleh di bawah ketentuan, yaitu Rp24.000 per kilogram,” ungkapnya.

Untuk mempercepat pelaksanaan program, Amran mengungkapkan pemerintah telah mengalihkan anggaran sekitar Rp3,7 triliun untuk mendukung peternak dan petani jagung. Pengalihan dilakukan dengan memangkas sejumlah belanja yang dinilai bukan prioritas mendesak, seperti seminar di hotel, kunjungan, perjalanan dinas, dan kegiatan perkantoran.

“Kami alihkan anggaran kurang lebih Rp3,7 triliun semuanya, untuk peternak dan juga petani jagung. Ini demi petani-peternak Indonesia,” tegasnya.

Amran menilai perlindungan terhadap petani dan peternak menjadi hal penting karena sektor tersebut menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 160 juta masyarakat Indonesia. Karena itu, pemerintah berupaya memastikan setiap kebijakan memberikan dampak nyata terhadap keberlangsungan usaha dan peningkatan kesejahteraan mereka.

Selain persoalan pasokan jagung, Amran juga menyoroti tata niaga telur yang dinilai belum berpihak kepada peternak. Di tingkat peternak, harga telur mengalami tekanan, sementara harga di tingkat konsumen masih relatif tinggi.

Pemerintah, kata dia, akan mengawal agar peternak memperoleh harga sesuai ketentuan. Koordinasi dengan aparat penegak hukum juga akan dilakukan untuk menindaklanjuti praktik pembelian yang tidak sesuai aturan.

“Jangan ganggu petani-peternak kita. Ini bayangkan, ini telur harga di peternak, jatuh. Harga di konsumen, tinggi,” ujarnya.

Melalui penguatan koperasi, integrasi produksi jagung, penyerapan Bulog, serta penyimpanan melalui mekanisme resi gudang, Kementerian Pertanian berharap terbentuk ekosistem peternakan yang lebih kuat dan berkelanjutan. Skema tersebut diharapkan tidak hanya memberikan kepastian pasar bagi petani jagung, tetapi juga menjamin ketersediaan pakan dan melindungi peternak dari gejolak pasokan maupun harga. (red)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *