Press "Enter" to skip to content

BIG Perkuat Data Geospasial untuk Pantau Dinamika Wilayah Pesisir

Social Media Share

Astrit Rimayanti, Direktur Pemetaan Rupabumi Wilayah Laut dan Pantai BIG, saat menyampaikan paparan mengenai pemantauan perubahan garis pantai dan penurunan muka tanah.(Foto: red)

BOGOR, NP – Wilayah pesisir merupakan kawasan yang dinamis dan terus mengalami perubahan akibat interaksi berbagai proses alam dan aktivitas manusia. Perubahan tersebut berkaitan dengan berbagai faktor, antara lain perubahan muka laut, penurunan muka tanah, proses oseanografi, serta perkembangan pemanfaatan ruang di wilayah pesisir.

Sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia membutuhkan data dan informasi geospasial terpadu untuk memahami dinamika lingkungan secara menyeluruh.

Menjawab tantangan tersebut, Badan Informasi Geospasial (BIG) berkomitmen menyediakan dan mengembangkan berbagai data geospasial untuk memahami dinamika wilayah pesisir. Cakupan data tersebut meliputi perubahan garis pantai multitemporal, pengamatan muka laut, pengukuran penurunan muka tanah, topografi dan batimetri, hingga informasi oseanografi.

“Informasi tersebut tidak hanya menggambarkan kondisi wilayah pesisir saat ini, tetapi juga membantu memahami perubahan yang telah terjadi serta kecenderungannya dari waktu ke waktu,” ujar Direktur Pemetaan Rupabumi Wilayah Laut dan Pantai BIG Astrit Rimayanti di Cibinong, Kabupaten Bogor, Kamis (24/9/2026).

Astrit mengatakan, berbagai informasi tersebut perlu dilihat secara terpadu untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perubahan wilayah pesisir. Menurut dia, integrasi data menjadi penting agar dinamika yang terjadi dapat dianalisis secara lebih menyeluruh.

“Integrasi berbagai informasi tersebut dapat menghasilkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi dan kecenderungan perubahan wilayah pesisir,” jelasnya.

Integrasi data dan informasi geospasial tersebut selanjutnya dapat disajikan dalam berbagai bentuk, termasuk peta tematik dan sistem informasi geospasial berbasis web. Dengan demikian, informasi yang dihasilkan dapat lebih mudah diakses dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan berbagai pihak.

Penguatan metodologi pemantauan dinamika wilayah pesisir menjadi fokus utama dalam Project Meeting on Methodology for Coastal Subsidence Monitoring and Coastline Change Modelling for Integrated Coastal Zone Management and Spatial Planning yang diselenggarakan BIG di Hotel Harris, Cibinong, Kabupaten Bogor, Kamis (24/9/2026).

Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari usulan proyek yang disampaikan Indonesia dalam Workshop on Managing Potential Conflicts in the South China Sea pada 2025.

Melalui pertemuan ini, para peserta dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara dan sejumlah negara lainnya diharapkan dapat bertukar pandangan dan pengalaman dalam mengembangkan pendekatan metodologis untuk pemantauan penurunan muka tanah, perubahan muka laut, serta analisis dan pemodelan perubahan garis pantai.

Selain aspek teknis, pembahasan diarahkan pada pemanfaatan hasil analisis untuk mendukung pengelolaan wilayah pesisir dan perencanaan tata ruang. Forum tersebut juga menjadi ruang untuk memperkuat dialog, membangun kepercayaan, serta mendorong kerja sama regional yang praktis dalam menghadapi tantangan pengelolaan wilayah pesisir.

Melalui penguatan penyediaan dan integrasi data serta informasi geospasial, BIG terus mendorong pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based decision making) dalam perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisir.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu berbagai pihak memahami dinamika pesisir secara lebih menyeluruh sekaligus mendukung pengelolaan wilayah pesisir yang berkelanjutan. (red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *