Press "Enter" to skip to content

Oasis, Tiga Lagu, dan Generasi yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Social Media Share

Foto Sosmed @oasisworldFoto: Sosmed @oasisworld

Oleh: Sunu Probo Baskoro, (Penggemar OASIS)

Ada yang terasa ganjil setelah saya keluar dari bioskop usai menonton Oasis: Don’t Look Back in Anger.

Saya datang untuk menyaksikan kembali sejarah sebuah band yang pernah menjadi soundtrack masa muda. Namun justru bagian sejarah yang paling ingin saya lihat berlalu begitu cepat. Ledakan Oasis pada 1990-an, perjalanan dari Definitely Maybe hingga (What’s the Story) Morning Glory?, Knebworth, kejayaan Britpop, perubahan personel, konflik Liam dan Noel Gallagher, sampai kehancuran yang berujung pada perpisahan 2009 hanya mendapat porsi relatif singkat.

Sebaliknya, sebagian besar film membawa kita pada rekonsiliasi dua bersaudara itu dan tur Live ’25 pada 2025.

Semula saya menganggapnya sebagai kelemahan.

Namun setelah dipikirkan kembali, mungkin film itu memang tidak sedang hendak menjawab pertanyaan bagaimana Oasis menjadi besar. Ia sedang mencoba menjawab pertanyaan yang lebih sulit:

Mengapa, setelah tiga puluh tahun, kita masih membutuhkan Oasis?

Pertanyaan itu membawa kita bukan hanya kepada Liam dan Noel, melainkan kepada sebuah generasi.

Dari Manchester ke Indonesia

Oasis lahir dari Manchester dan tumbuh bersama ledakan Britpop. Mereka membawa energi kelas pekerja, ambisi, pemberontakan, maskulinitas, persaudaraan, dan keyakinan bahwa masa depan dapat direbut.

Secara musikal, Oasis sebenarnya bukan band yang paling eksperimental. Mereka berdiri di atas warisan panjang rock Inggris—The Beatles, The Rolling Stones, T. Rex, The Stone Roses dan banyak lainnya. Kehebatan mereka terletak pada kemampuan mengubah warisan itu menjadi lagu-lagu yang besar, sederhana, dan mudah dinyanyikan.

Oasis tidak menuntut kita memahami musik mereka.

Mereka mengajak kita bernyanyi bersama.

Di Inggris, musik itu tumbuh dari pengalaman sosial masyarakatnya sendiri. Bagi banyak anak muda Inggris pada pertengahan 1990-an, Oasis terasa seperti representasi diri mereka: anak-anak biasa yang tiba-tiba menjadi luar biasa.

Indonesia mengalami Oasis dengan cara yang berbeda.

Kita tidak hidup di Manchester. Kita tidak mengalami Britpop dari dalam. Kita tidak berada di Knebworth. Kita tidak menjadi bagian dari perseteruan Oasis dan Blur.

Kita mengenalnya melalui radio, televisi musik, kaset, CD, majalah, teman sekolah, komunitas musik, dan kemudian internet.

Namun justru di situlah sesuatu yang menarik terjadi.

Oasis meninggalkan Manchester dan memperoleh kehidupan baru di Indonesia.

Live Forever: ketika masa depan masih terbuka

Live Forever dirilis pada 1994. Ia adalah lagu tentang kemungkinan—tentang keyakinan anak muda bahwa hidup masih panjang dan masa depan masih terbuka.

Ketika lagu itu sampai ke Indonesia, maknanya tentu tidak sama dengan yang dirasakan anak muda Inggris.

Kemudian datang krisis moneter 1997–1998.

Rupiah terpuruk, inflasi melonjak, perusahaan bangkrut, pengangguran meningkat, dan banyak keluarga kehilangan rasa aman. Angka-angka tersebut kemudian menjadi catatan sejarah ekonomi. Tetapi bagi anak muda, krisis bukan sekadar statistik.

Krisis berarti melihat orang tua cemas.

Berarti rencana kuliah bisa berubah.

Berarti pekerjaan tidak lagi pasti.

Berarti masa depan yang semula terasa terbuka tiba-tiba menjadi kabur.

Dalam situasi seperti itu, Live Forever memperoleh resonansi yang berbeda.

Bukan lagi semata-mata tentang ambisi menjadi bintang.

Ia bisa terdengar sebagai sebuah harapan sederhana:

kita masih punya masa depan.

Tentu saja, Oasis tidak menulis lagu itu untuk Indonesia. Makna tersebut lahir dari pengalaman pendengarnya. Tetapi justru itulah kekuatan musik populer: sebuah lagu dapat meninggalkan konteks asalnya dan memperoleh kehidupan emosional yang baru.

Dan ketika generasi yang dahulu berusia 17 atau 20 tahun mendengar Live Forever kembali pada 2025, kalimat “You and I are gonna live forever” juga berubah makna.

Dulu ia adalah janji.

Kini ia terdengar seperti kesaksian:

ternyata kita berhasil sampai sejauh ini.

Don’t Look Back in Anger: belajar berdamai

Jika Live Forever menghadap masa depan, Don’t Look Back in Anger menoleh ke belakang.

Namun ada perbedaan penting: judulnya bukan Don’t Look Back, melainkan Don’t Look Back in Anger.

Masa lalu boleh dilihat.

Yang tidak perlu dilakukan adalah hidup selamanya dalam kemarahan terhadapnya.

Bagi generasi Indonesia yang melewati akhir 1990-an, gagasan itu terasa semakin relevan ketika mereka memasuki masa dewasa. Mereka bukan hanya menyaksikan krisis ekonomi, tetapi juga hidup melalui periode perubahan sosial yang panjang setelahnya.

Pemulihan tidak terjadi dalam semalam.

Sebuah negara harus memperbaiki ekonominya. Masyarakat harus beradaptasi. Institusi harus berubah. Dan pada tingkat paling kecil, setiap individu harus menemukan cara untuk melanjutkan kehidupannya.

Di situlah saya melihat sebuah bentuk rekonsiliasi yang sering luput dari sejarah besar:

rekonsiliasi pribadi.

Bagaimana seseorang berdamai dengan masa yang pernah membuatnya takut?

Bagaimana seseorang menerima kehilangan tanpa terus hidup di dalamnya?

Bagaimana seseorang melanjutkan hidup ketika dunia yang pernah dikenalnya telah berubah?

Don’t Look Back in Anger tidak memberikan jawabannya. Tetapi ia menyediakan bahasa emosional untuk menghadapinya.

Mungkin karena itu lagu ini terdengar berbeda ketika dinyanyikan pada usia 20 tahun dan ketika dinyanyikan kembali pada usia 45 tahun.

Ketika muda, ia terdengar seperti lagu pemberontakan.

Ketika dewasa, ia dapat terdengar seperti lagu penerimaan.

Bukan melupakan masa lalu.

Melainkan berdamai dengannya.

Wonderwall: ketika musik menjadi milik kehidupan pribadi

Lalu ada Wonderwall.

Jika Live Forever adalah tentang diri kita dan masa depan, dan Don’t Look Back in Anger tentang diri kita dan masa lalu, Wonderwall adalah tentang diri kita dan seseorang.

Kekasih.

Sahabat.

Teman seperjalanan.

Atau seseorang yang pernah sangat berarti, tetapi akhirnya pergi.

Di Indonesia, Wonderwall mempunyai kehidupan yang sangat istimewa. Lagu itu begitu mudah dimainkan dengan gitar akustik. Ia bisa hadir di kamar, kampus, tongkrongan, pesta, atau pertemuan kecil bersama teman-teman.

Tidak diperlukan panggung besar.

Cukup satu gitar.

Kemudian seseorang mulai menyanyi.

Dan yang lain mengikuti.

Lagu yang lahir di Manchester berubah menjadi bagian dari kehidupan anak muda Indonesia.

Puluhan tahun kemudian, ketika lagu itu terdengar kembali, yang muncul mungkin bukan lagi Oasis.

Yang muncul adalah seseorang.

Sebuah kamar.

Sebuah sekolah.

Sebuah kampus.

Sebuah perjalanan.

Sebuah cinta yang pernah ada.

Musik menjadi semacam hard disk emosional.

Ia menyimpan sesuatu yang tidak mampu disimpan oleh statistik ekonomi atau arsip sejarah: bagaimana rasanya menjadi diri kita pada suatu masa.

Generasi yang hidup di antara kaset dan internet

Generasi Indonesia yang tumbuh bersama Oasis juga mempunyai pengalaman yang unik.

Mereka adalah generasi yang lahir dari dunia analog tetapi memasuki dunia digital.

Mereka mengenal musik melalui radio, kaset, CD, MTV dan majalah. Kemudian datang MP3, internet, Friendster, YouTube, dan media sosial.

Perubahan teknologi itu bukan sekadar perubahan cara mendengarkan musik. Ia mengubah cara sebuah generasi menyimpan kenangan.

Kaset yang dipinjam dari teman.

CD yang dibeli dari uang tabungan.

Lagu yang direkam dari radio.

Mixtape.

Gitar di kamar.

Sebuah lagu yang terus dimainkan bersama teman.

Pengalaman-pengalaman itu melekat pada musik.

Maka ketika Oasis kembali pada 2025, yang kembali bukan hanya sebuah band.

Yang kembali adalah arsip kehidupan.

Krisis, pemulihan, dan generasi yang beranjak dewasa

Ada alasan mengapa konteks Indonesia penting dalam membaca fenomena ini.

Generasi yang mengenal Oasis pada 1990-an bukan sekadar generasi yang mendengarkan musik asing. Mereka adalah generasi yang mengalami transisi besar: dari dunia analog menuju digital, dari masa kanak-kanak menuju dewasa, dan—bagi banyak orang—dari ketidakpastian ekonomi akhir 1990-an menuju kehidupan yang perlahan stabil pada 2000-an.

Mereka belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Krisis mengajarkan ketidakpastian.

Pemulihan mengajarkan adaptasi.

Kedewasaan mengajarkan penerimaan.

Dan musik menemani semua proses itu.

Karena itulah, ketika kita berbicara tentang nostalgia Oasis, kita sebaiknya tidak memahaminya sekadar sebagai kerinduan terhadap lagu lama.

Nostalgia itu memiliki lapisan yang lebih dalam.

Kita mungkin bukan merindukan Oasis.

Kita merindukan diri kita ketika pertama kali menemukan Oasis.

Oasis 2025: reuni band atau reuni generasi?

Inilah yang membuat reuni Oasis menjadi fenomena yang menarik.

Liam dan Noel memang kembali berdiri di panggung.

Tetapi di hadapan mereka berdiri pula jutaan orang yang telah menempuh perjalanan hidup masing-masing.

Orang yang dahulu berusia 18 tahun kini mungkin telah berusia 40 atau 50 tahun.

Mereka mungkin telah menikah.

Memiliki anak.

Berganti pekerjaan.

Kehilangan teman.

Mengalami kegagalan.

Mencapai sesuatu yang dahulu tidak pernah mereka bayangkan.

Sebagian mungkin bahkan telah kehilangan orang yang dahulu pertama kali memperkenalkan Oasis kepada mereka.

Lalu musik dimainkan.

Dan ribuan orang bernyanyi bersama.

Pada saat itu, yang hadir bukan hanya Oasis tahun 2025.

Di sana ada Oasis 1994.

Oasis 1995.

Oasis 1996.

Oasis 1997.

Dan, bagi pendengar Indonesia, juga ada Indonesia pada akhir 1990-an dan awal 2000-an.

Ada kehidupan yang pernah kita jalani dan tidak mungkin kembali.

Tetapi musik membuatnya terasa hadir untuk beberapa menit.

Kita tidak merindukan Manchester

Ada ironi yang indah dalam hubungan Indonesia dengan Oasis.

Kita tidak mengalami Manchester tahun 1995.

Kita tidak mengalami Britpop dari dalam.

Kita tidak hidup dalam masyarakat yang melahirkan Oasis.

Namun kita memiliki sesuatu yang tidak kalah penting:

memori kita sendiri terhadap Oasis.

Ketika Live Forever terdengar, mungkin yang muncul adalah keyakinan masa muda bahwa hidup akan menjadi sesuatu.

Ketika Don’t Look Back in Anger dinyanyikan, mungkin yang muncul adalah perjalanan panjang untuk menerima apa yang telah terjadi.

Dan ketika Wonderwall dimainkan, mungkin kita teringat seseorang yang dahulu berada di samping kita tetapi kini entah di mana.

Karena itu, Oasis tidak perlu menjadi milik Indonesia untuk menjadi bagian dari sejarah pribadi orang Indonesia.

Musiknya telah berpindah dari Manchester ke Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Bekasi, dan berbagai kota lainnya.

Dari stadion ke kamar tidur.

Dari kaset ke CD.

Dari radio ke MP3.

Dari MTV ke YouTube.

Dan akhirnya, dari masa muda menuju ingatan.

Mungkin itu pula sebabnya Don’t Look Back in Anger menjadi judul yang begitu tepat untuk kisah reuni ini.

Kita semua pernah memiliki masa lalu.

Sebagian menyenangkan.

Sebagian menyakitkan.

Sebagian ingin kita ulang.

Sebagian ingin kita lupakan.

Tetapi setelah tiga puluh tahun, mungkin yang paling penting bukan kembali ke masa lalu.

Melainkan berdamai dengannya.

Dan mungkin itulah yang sesungguhnya terjadi ketika Oasis kembali pada 2025.

Bukan hanya Liam dan Noel yang berdamai.

Sebuah generasi sedang berdamai dengan waktu.

Kita akhirnya menyadari bahwa kita tidak bisa kembali menjadi anak muda.

Kita tidak bisa mengulang 1995.

Kita tidak bisa menghapus 1998.

Kita tidak bisa mengembalikan orang-orang yang pernah berjalan bersama kita.

Tetapi kita masih bisa menyanyikan lagu yang sama.

Dan selama beberapa menit, kita dapat bertemu kembali dengan diri kita yang dahulu.

Bukan karena waktu berhenti.

Tetapi karena musik menolak membiarkan masa lalu benar-benar mati.

Mungkin itulah mengapa Oasis tidak pernah benar-benar pergi.

Bandnya pernah bubar.

Personelnya berpisah.

Waktu berjalan.

Generasi berganti.

Tetapi sebuah lagu dapat tetap tinggal di dalam diri seseorang selama puluhan tahun.

Dan ketika lagu itu kembali terdengar, kita tidak hanya mendengar Oasis.

Kita mendengar kehidupan kita sendiri.

Itulah sebabnya, pada akhirnya, reuni Oasis bukan hanya tentang apakah Liam dan Noel kembali bersama.

Pertanyaan yang lebih dalam adalah:

setelah semua yang terjadi sejak 1990-an, apakah kita masih mengenali diri kita sendiri ketika mendengar lagu-lagu itu?

Mungkin jawabannya sederhana.

Kita memang sudah berubah.

Tetapi ketika ribuan suara menyanyikan Don’t Look Back in Anger bersama-sama, kita tahu bahwa ada bagian dari diri kita yang ternyata tidak pernah benar-benar pergi.***

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *