Press "Enter" to skip to content

Pangdam Pattimura Dorong Penyelesaian Bentrokan Warga SBB Lewat Gotong Royong

Social Media Share

Pangdam XV/Pattimura Mayjen TNI Dody Triwinarto memberikan penjelasan kepada awak media terkait situasi pascabentrokan warga di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku. (Foto: Ist)

 

SERAM, MALUKU – Pangdam XV/Pattimura Mayjen TNI Dody Triwinarto, S.I.P., M.Han., menegaskan persoalan bentrokan antarwarga di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) harus segera diarahkan pada langkah penyelesaian, bukan kembali memperpanjang perdebatan yang berpotensi membuka ruang konflik baru.

Penegasan tersebut disampaikan menyusul bentrokan dua kelompok warga di Kabupaten SBB yang diduga dipicu persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bentrokan itu mengakibatkan 27 rumah terbakar dan empat orang terkena tembakan senapan angin.

Menurut Dody, kondisi yang terjadi saat ini harus dimitigasi secara bersama-sama dengan mencari solusi terbaik, cepat dan menyentuh kebutuhan masyarakat. Salah satu langkah konkret yang didorong adalah gotong royong untuk mempercepat renovasi rumah warga yang terdampak.

“Yang sudah terjadi kita mitigasi. Sekarang kita mencari solusi yang terbaik. Kita gotong royong kembali dan dalam waktu secepatnya melaksanakan renovasi rumah yang sudah ada,” tegas Pangdam dalam keterangannya, Sabtu (12/9/2026).

Dody mengatakan TNI bersama masyarakat akan bergerak melakukan perbaikan secara bertahap sehingga kondisi kehidupan warga dapat segera kembali normal. Menurut dia, pemulihan pascakonflik harus menjadi perhatian bersama agar masyarakat tidak terus berada dalam situasi yang rentan.

Pangdam juga menekankan bahwa hubungan antarwarga pada dasarnya merupakan hubungan persaudaraan yang telah terjalin sejak lama. Kedekatan antarkampung maupun antarwarga, kata dia, seharusnya menjadi modal kuat untuk menyelesaikan setiap persoalan melalui musyawarah dan kekeluargaan.

“Sebenarnya dari dulu kita memang bersaudara. Jangan sampai persoalan ini membuat hubungan persaudaraan menjadi rusak,” pesannya.

Ia mengajak masyarakat, khususnya para pemuda dan seluruh elemen yang berada di wilayah tersebut, bersama-sama menjaga situasi agar tetap aman dan kondusif. Dody memastikan TNI bersama unsur terkait akan terus berada di tengah masyarakat untuk memantau perkembangan situasi sekaligus mencegah munculnya provokasi.

“Kita berikan garansi untuk keamanan. Kita akan menjaga dan bersama masyarakat memantau, menjaga, dan mengamankan sehingga betul-betul tidak ada provokator yang masuk,” ujarnya.

Dalam upaya penyelesaian persoalan tersebut, peran para raja, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda dan seluruh pemangku kepentingan juga menjadi perhatian Pangdam. Ia meminta para raja tidak memperbesar persoalan yang telah terjadi, tetapi justru menjadi bagian penting dalam menghadirkan pesan yang menyejukkan kepada masyarakat.

“Kepada para raja, mari sama-sama memberikan bahasa yang sejuk kepada masyarakat. Apa yang sudah terjadi tidak perlu lagi kita bahas untuk mencari siapa yang salah. Yang perlu kita bahas sekarang adalah bagaimana solusinya,” tegasnya.

Menurut Dody, masyarakat membutuhkan langkah nyata, bukan pertentangan baru. Karena itu, penyelesaian harus diarahkan pada pemulihan, keamanan dan penguatan kembali hubungan kekeluargaan.

Ia menegaskan penyelesaian terbaik bukan dengan saling menyalahkan, melainkan dengan duduk bersama, bermusyawarah dan bekerja secara gotong royong. Masyarakat juga diminta tidak terus terjebak pada persoalan masa lalu, tetapi mengarahkan energi untuk memastikan kondisi ke depan menjadi lebih baik.

“Mudah-mudahan ini menjadi pesan moral bagi kita semua. Intinya, solusi yang tercepat itu yang terbaik, dengan cara gotong royong, musyawarah dan kekeluargaan,” pungkas Pangdam.

Dody berharap pesan tersebut menjadi penegasan bahwa persaudaraan harus ditempatkan di atas persoalan yang terjadi. Luka yang telah muncul, kata dia, tidak boleh terus dipelihara, sementara energi masyarakat harus diarahkan untuk membangun kembali rumah, menjaga keamanan dan memulihkan kepercayaan.

“Bukan siapa yang paling keras bersuara yang dibutuhkan, tetapi siapa yang mau turun tangan mencari jalan keluar,” pungkasnya. (red)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *