Bobby Tambunan dari Gabpeknas (kedua dari kiri), Shi Minghui, Deputy President CCPIT Hubei Sub-council China (kedua dari kanan), dan Rahmad Widjaja Sakti, Direktur Eksekutif Kadin Indonesia Komite Tiongkok (kanan), berfoto bersama dalam rangkaian Hubei China Building Materials Matchmaking Conference 2026 di ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten. (Foto: Ist)
JAKARTA, NP – Gabungan Perusahaan Kontraktor Nasional (Gabpeknas) menilai kualitas produk impor dari China, khususnya bahan bangunan, terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat sejumlah anggota Gabpeknas antusias mengikuti berbagai pameran bahan bangunan, arsitektur, dan desain interior yang menghadirkan inovasi produk dari dalam maupun luar negeri, terutama China, untuk sektor konstruksi.

“Kualitas produk impor dari China sudah semakin bagus, bahkan melampaui kualitas produk dari Amerika dan Eropa. Bahan bangunan China sangat potensial untuk memenuhi kebutuhan pasar industri dan jasa konstruksi di Indonesia,” kata Wakil Sekretaris Jenderal Gabpeknas, Bobby Tambunan, kepada Redaksi, Kamis (9/7/2026).
Menurut Bobby, penyelenggaraan IndoBuildTech Expo 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat ekosistem jasa konstruksi, arsitektur, dan desain interior. Pemerintah Indonesia juga diyakini terus berupaya memperkuat pertumbuhan sektor tersebut agar memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
“Usaha konstruksi para anggota Gabpeknas rata-rata terus meningkat, serta banyak yang mulai beralih menggunakan produk asal China,” ujar Bobby, yang juga merupakan pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta.

Ia menjelaskan, pengadaan barang dan jasa pemerintah, khususnya pekerjaan konstruksi, dilakukan melalui proses pengadaan dengan penyedia atau pemasok. Dalam proses tender, vendor diundang untuk mempresentasikan penawaran harga dan kualitas sesuai kebutuhan proyek.
“Pada proses kualifikasi tender tidak ada kewajiban mencantumkan merek tertentu. Hal ini menjadi peluang bagi kontraktor untuk mengikuti tender. Pada akhirnya, perusahaan jasa konstruksi memilih bahan bangunan dari China, terutama karena pertimbangan harga,” kata Bobby di sela Hubei China Building Materials Matchmaking Conference 2026 di ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten.
Meski demikian, Bobby menilai masih ada hal yang perlu ditingkatkan oleh importir produk China, yakni pengelolaan ready stock. Menurutnya, importir harus menjamin ketersediaan stok sehingga barang dapat langsung dikirim kepada pelanggan tanpa harus menunggu proses produksi.

“Pekerjaan konstruksi sering membutuhkan material secara mendadak. Hal ini kerap menjadi kendala apabila produsen atau importir tidak memiliki pengelolaan ready stock yang baik,” ujarnya.
Ia mencontohkan, kebutuhan material dalam suatu proyek sering berubah dari perencanaan awal.
“Misalnya, perkiraan awal hanya membutuhkan 10 item bahan bangunan. Namun, dalam pelaksanaan proyek kebutuhannya bisa meningkat menjadi 15 item. Kondisi seperti ini cukup sering terjadi,” kata Bobby. (Liu)







Be First to Comment