Tim Penelitian Dosen Pimjuang Seskoal melaksanakan pengumpulan data dan diskusi strategis bersama berbagai instansi terkait pengembangan sistem pertahanan bawah laut modern.(Foto: Ist)
SURABAYA, NP – Tim Penelitian Dosen Bidang Studi Kepemimpinan dan Kejuangan (Pimjuang) Koordinator Dosen (Koordos) Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) melanjutkan kegiatan penelitian di Kota Semarang dan Surabaya. Penelitian yang dipimpin Dosen Utama (Dosut) Pimjuang Kolonel Laut (P) Agus Prabowo, S.E., tersebut melibatkan sejumlah instansi dan narasumber strategis, di antaranya Wali Kota Semarang, Dankodaeral V, Dansatsel Koarmada II, serta Danlanal Batuporon.
Pelaksanaan penelitian di Surabaya mendapat peninjauan langsung dari Kepala Koordinator Dosen (Kakoordos) Seskoal Laksamana Pertama TNI Dr. Goki P. Sihombing, S.E., M.Si.(Han). Kegiatan penelitian berlangsung di Semarang dan Surabaya, Selasa (7/7/2026).
Mengusung tema “Analisis Kapabilitas Kapal Selam Otonomous dan Torpedo (KSOT) Guna Memperkuat Alutsista TNI Angkatan Laut Dalam Rangka Menghadapi Ancaman Perang Modern”, penelitian tersebut dinilai memiliki relevansi tinggi dengan perkembangan lingkungan strategis pertahanan maritim Indonesia.
Surabaya dipilih sebagai salah satu lokasi penelitian karena memiliki posisi strategis sebagai pusat pengembangan teknologi bawah air nasional. Keberadaan PT PAL Indonesia, Koarmada II sebagai salah satu pusat pengelolaan kekuatan kapal selam TNI Angkatan Laut, serta Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem riset dan pengembangan sistem otonom di bidang pertahanan laut.
Danseskoal menegaskan bahwa perubahan lingkungan strategis global menuntut adanya langkah antisipatif dalam pengembangan kekuatan pertahanan laut. “Dinamika geopolitik dan geostrategi global saat ini tengah mengalami pergeseran yang sangat cepat. Akselerasi teknologi militer telah mengantarkan kita ke ambang era peperangan modern yang didominasi oleh sistem otonom, kecerdasan buatan, serta peperangan asimetris,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan kapal selam nirawak atau Unmanned Underwater Vehicles (UUV) serta pengembangan sistem torpedo modern tidak lagi hanya menjadi pilihan teknologi, melainkan kebutuhan strategis dalam membangun postur pertahanan laut masa depan.
“Kehadiran kapal selam nirawak dan pengembangan sistem torpedo mutakhir bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak dalam postur pertahanan laut masa depan. Oleh karena itu, saya instruksikan agar penelitian ini menghasilkan naskah strategis yang mampu menjadi landasan kebijakan bagi pimpinan TNI Angkatan Laut dalam menentukan arah pengembangan alutsista pada masa mendatang,” kata Danseskoal.
Melalui penelitian tersebut, Seskoal berharap dapat memberikan kontribusi pemikiran strategis bagi penguatan kemampuan pertahanan bawah laut Indonesia, sekaligus mendukung kesiapan TNI Angkatan Laut dalam menghadapi karakter ancaman perang modern yang semakin kompleks. (red)







Be First to Comment